Akhirnya, setelah 20 tahun, Prancis Kembali menjadi Juara Dunia


Saya bukan bola-adict, tapi saya suka memperhatikan permainan ini. Sebenarnya awal saya mulai memperhatikan sepak bola dunia adalah ketika piala dunia 2002, karena di sana ada Miroslav Klose.

Ah elah, bocah cewek kelas enam SD, tahu apa soal bola. Tapi ya emang begitu kenyataannya, saya mulai tertarik piala dunia sejak melihat ada Uwa Klose di sana. Keren aja gitu melihat gol-gol kecenya waktu itu. Sampai

Meskipun beda pilihan, tetap Asyik untuk berteman kan?

"Ridwan Kamil ya, jadinya yang menang?" tanya paman saya kemarin sore.

"Eh?" saya terperanjat, bukan karena mendengar pertanyaan dari paman saya tersebut, tapi lebih karena saya baru ingat kalau saya belum menuliskan hal itu di blog ini.

Ya, beberapa waktu lalu, kita semua tahu dan sama-sama melaksanakan pemilihan gubernur atau kepala daerah dengan serentak dibeberapa provinsi di Indonesia. Jawa Barat salah satunya.

Ada empat calon pasangan saat itu, dengan julukan masing-masing. Yang kesatu, Rindu, singkatan dari nama Ridwan Kamil-UU. Yang kedua, Hasanah, akronim dari Hasan-Anton-amanah. Yang ketiga, Asyik alias Adjat-Syaikhu. Dan yang ke Empat sebutannya 2D, yakni Dedy Mizwar-Dedy Mulyadi.

Menurut beberapa survei,

Pertemuan Yang Tak Direncanakan

Pernah enggak sih, ngalamin momen dimana kita ingin reunian, tapi ada saja halangannya. Yang satu bisa, yang lain enggak bisa. Yang satu sempet, yang lain enggak sempet. Enggak ketemu timing yang pas untuk ngumpul semua.
Pernah ngalamin gitu sama temen-temen? Atau sering? Hahaha. 

Ya, saya dan kedua 'kakak' saya pun begitu. 

Jadi ceritanya begini.

Nikmati Makanan Yang Dimasak Porsi Besar Berikut Ini, Yuk!

Kuliner merupakan wisata yang tak bisa lepas dari siapapun saat pergi liburan. Menikmati ragam kuliner di kota tujuan terkadang membuat kebahagiaan tersendiri yang menjadi pelengkap liburan kamu. Seperti

Membongkar Rahasia Magnet Rezeki ala Ust Nasrullah

Tanggal 20 Mei 2018 yang lalu, kami berkesempatan untuk mengikuti kegiatan Safari Ramadhan Ustad Nasrullah, yang pada saat itu dilaksanakan di aula Hotel Brits Karawang. Dan maaf baru sempat saya posting sekarang #gigitgadget

Hadirnya saya dan suami di kegiatan tersebut terbilang ajaib menurut kami. Karena, sebelumnya kami bingung apakah akan mengikuti kegiatan itu atau tidak dengan berbagai pertimbangan.
Pertama,

Geliat Pasar Tumpah Menjelang Lebaran

Baju baru alhamdulillah 
Tuk dipakai di hari raya
Tak punya pun tak apa-apa
Masih ada baju yang lama 😊

Masih ingat lagu anak-anak yang dipopulerkan oleh Dea Ananda, di atas? (hahaha, ketauan banget ya yang nulis anak jaman kapan 😛)

Ya, budaya yang ada di Indonesia, entah sejak kapan dimulainya, menjelang akhir ramadhan, masyarakat kita berburu

Rek Kitu Wae?

Kalau Anda sering mendengar ceramah salah satu Ustad asal Parahyangan, alias asal Sunda, pasti paham siapa yang sering mengatakan kalimat ini : "Rek Kitu Wae?"

Yap, dialah Ustad Evie. Seorang dai yang dikenal eksentrik. Unik. Namun, kali ini saya belum akan membahas biografinya. Melainkan saya akan meminjam kata yang sering beliau ucapkan. Rek Kitu Wae? Dan akan saya uraikan melalui perspektif saya.

Karena saya sendiri seringnya merasa ter-Jleb-isasi, ketika mendengarnya. 'Rek kitu wae?'

Balada Kemenag Rilis 200 Mubalig dan Tanggapan Unig

Maafkan jika tulisan ujung judulnya terkesan agak maksa biar sounds interesting ya 😄 Maksudnya mah gini:
Balada Kemenag Rilis 200 Mubalig dan Tanggapan Unik 😄

Subhanallah. Awalnya saya enggak niat membuat tulisan ini. Tapi, rasanya sayang kalau tidak mengarsipkan momen luar biasa ini. Apalagi pas saya baca komentar-komentar netizen yang kayaknya koq enggak putus-putus urat kreatifnya :D

Buktinya ini,

Tips Melahirkan Normal

15 Mei 2017.

Pagi-pagi udah mulai enggak keruan rasanya perut. Sampai siang makin enggak keruan. Apa iya, kontraksi beneran? Mana di rumah lagi sendirian. Suami lagi di sekolah. Teteh Caca lagi nginep di eyanknya.

Alhamdulillah, jam satu siang mama datang. Beliau khawatir kalau saya emang mau brojolan. Mama udah nyaranin  ke bidan. Dan emang mau ke bidan nunggu suami pulang. Tapi, waktu itu suami belum bisa pulang karena masih ada tugas yang tak bisa ditinggalkan. Saya mah udah pasrah. Kalaupun suami enggak bisa nganter, toh bisa minta tolong saudara atau tetangga. Soalnya waktu itu belum booming ojek/driver online.

Dan, the amazing of pasrah,

Refleksi Negeri di Ujung Tanduk


Dalam postingan sebelumnya, di sini, saya menyarankan agar Tere Liye melanjutkan kisah Negeri Para Bedebah yang memang ciamik tapi masih ngegantung itu. Dan ternyata, emang udah ada lanjutan sekuelnya.

Jadi, emang saya nya aja yang telat bacanya, hahaha. Wong Negeri Para Bedebah terbit 2012, saya bacanya 2018. Hahahaha. Tapi, konten ceritanya masih sesuai dengan keadaan zaman now koq. Dan inilah sekuel nya : Negeri di Ujung Tanduk.

Nah. Ternyata,

Negeri Para Bedebah, Nyatakah?

Adalah Thomas, 

seorang Konsultan Keuangan Profesional yang karirnya cemerlang. Kesibukannya yang padat sebagai pakar atau penasehat ulung ekonomi membuatnya sibuk wara wiri ke sana dan kemari, seminar ini, seminar itu, pertemuan ini, pertemuan itu, mengurus ini, mengurus itu, membuat dia sibuk bukan main, bahkan sibuknya mengalahkan jadwal presiden ternama sekalipun. Karena kan kalau presiden yang kita ketahui bersama mah sesibuk apapun tetap bisa membuat Vlog sendiri ya, santai membahas Kuda, atau Rusa istana, dll. #uhuk #fokus please.

Curriculum Vitae Thomas terlihat lempeng. Umumnya orang-orang berprestasi lainnya. Lulus dari sekolah dengan membanggakan. Namun tak banyak yang tahu, bahwa Thomas memiliki masa kelam. Puluhan tahun yang lalu. Dan itu masih membekas pedih di hatinya.

Alur Novel yang satu ini, bisa dibilang maju mundur cantik #syahrinimodeon. 

Hobi Cerita, Restu Mama dan Forum Lingkar Pena

Jauh sebelum kenal blog, aku sudah senang bercerita, sejak masih di bangku SD. Kadang bercerita lewat gambar-gambar yang kujelaskan panjang lebar alur ceritanya pada teman-teman yang mau mendengarkan. Dan aku baru sadar sekarang, mereka koq mau-mau saja ya mendengarkan ceritaku. Padahal gambarku juga enggak bagus-bagus amat, seadanya malah. Apa mungkin mereka kasihan semata, karena melihatku butuh pendengar? Hahaha. Ah entahlah. Aku sudah sangat berterima kasih pada mereka apapun alasannya.

Selain bercerita lewat gambar (sekali lagi aku tekankan, gambar yang kuguratkan sangat sederhana, jadi jangan membayangkan kalau aku jago menggambar ya, hehe), aku juga senang bercerita lewat tulisan.

Dan aku bisa menghabiskan berlembar-lembar tulisan di buku tulis biasa. Itu loh, buku tulis yang di setiap lembarnya selalu ada kata-kata motivasi terselip di bawahnya. Misal, yang paling aku ingat adalah : never put till tomorrow what you can do today. Uh yeah. Dulu saat membaca kamut itu berasa keren sekali. Tapi sampai sekarang, pengaplikasiannya butuh niat dan usaha extra ternyata.

Atau kadang-kadang, kalau lagi iseng, aku menulis cerita di halaman belakang. Jadi seperti menulis catatan berbahasa arab. Dari belakang ke depan. Maka, penuhlah halaman belakang buku-buku tulis aku dengan warna-warni cerita. Entah itu cerita karangan yang yang aku buat di sekolah, ataupun saat senggang di rumah.

Kegemaran menulis cerita terus berlanjut sampai ke jenjang berikutnya. Apalagi saat itu ada dua orang teman aku, Siti Masitoh dan Nur Ayu Sekar Ningsih, yang juga punya kegemaran serupa. Walaupun kita beda esempe alias SMP.

Bahkan kami sempat membuat novelet. Trio. Kami menulisnya gantian. Di buku yang sama. Temanya mengalir begitu saja, karena tergantung buku itu sedang ada di tangan siapa, hahaha. Dan tentu saja menulisnya langsung menggunakan pulpen alias tulis tangan. Bukan ketikan komputer. Karena, waktu itu belum ada fasilitas komputer. Kalaupun ada, masih sangat sulit kami temui rental-nya. Sekalipun menemukan rental-nya, uang sewanya lebih baik kami gunakan untuk jajan baklor alias martabak telor sepulang kami ngaji, hehehe.

Untuk itu, saking niatnya, aku pernah menulis sendiri beberapa novelet (tentu kaidahnya jauh dari sempurna sebagaimana novel yang telah diterbitkan penerbit), masih di buku tulis biasa, dan dibaca oleh beberapa teman yang senang membaca. Ada juga kakak kelas yang ikut membaca secara bergantian. Lalu ada yang berkomentar, bahwa cerita yang aku buat bagus sekali. Padahal itu cuma fiksi.  

Sejak saat itu aku makin semangat menulis. Dan makin senang membaca, karena amunisi menulis memang berawal dari membaca. Namun karena aku tak punya cukup uang untuk membeli majalah-majalah atau buku-buku selain buku pelajaran, maka perpustakaan sekolah merupakan tempat favoritku. Aku bisa menahan lapar pada jam istirahat, untuk aku gunakan sebanyak mungkin di perpustakaan.

Menjelang kelas tiga esempe, hobi menulisku redup. Karena, Mama tak suka aku menulis. Bagi Mama menulis itu buang waktu. Mama khawatir aku kebanyakan melamun dan tidak fokus pada pelajaran. Karena memang aku menulis tanpa panduan siapapun alias otodidak.
Hiks.

Semua buku tulis yang isinya cerita fiksiku, aku sobek-sobek sendiri. Kesel, sedih, kecewa. Karena hobiku tak direstui. Sejak saat itu  aku malas menulis. Enggak selera lagi menulis cerita, bahkan ketika diminta oleh teman yang suka membaca.

Sampai kelas dua esema alias SMA, aku kangen. Sudah dua tahun aku berhenti menulis. Aku kangen halaman belakang buku tulisku ada cerita karyaku lagi. Maka, tanpa sepengetahuan Mama, aku mulai menulis lagi. Masih di belakang buku catatan sekolah. Walau selalu tanpa ending, karena mogok ide di tengah jalan. Dan itu yang membuat Citra Asri Meida, teman sebangku, uring-uringan, “Dije, ini tulisan diselesaikan doooong! Enggak enak banget lagi seru-serunya baca tapi lanjutannya ilang gitu aja!”

Hahaha. Ah, terima kasih Citra. Kau komentator tulisanku yang paling setia.

Dan momen tak terlupakan itu pun datang.

Saat itu aku kelas tiga esema. Aku mengikuti lomba cerpen pada saat PIJAR, Perlombaan Islami Antar Pelajar, yang diadakan oleh Forum Komunikasi Dakwah Kampus UNSIKA. Alhamdulillah, cerpenku yang berjudul “Gerimis” berhasil mendapatkan juara dua. Namun, karena saat itu aku enggak punya gawai, jadi enggak bisa mendokumentasikannya. Tapi mungkin pialanya masih nangkring di lemari sekolah SMAN 1 Telukjambe. Itu juga kalau enggak kegusur piala siswa lain di generasi selanjutnya, maklum, aku kan udah termasuk generasi lawas sekarang, hahaha.

Yang lebih penting, setelah menjadi juara dua di lomba cerpen itu, alhamdulillah Mama akhirnya mengizinkanku melanjutkan hobi menulis. Bahkan, Mama sampai berurai air mata saat membaca Cerpenku yang berjudul “Gerimis” itu.

Apalagi sejak aku akhirnya mengenal Forum Lingkar Pena di masa kuliah. Mama semakin membolehkan hobi menulisku, karena tulisanku mulai terarah. Apalagi ketika Mama  tahu, bahwa orang-orang yang gabung di FLP adalah orang-orang baik, seperti di antaranya yang ada di FLP Karawang, di antaranya Teh Lina (yang saat ini menjadi ketum FLP Karawang), dan masih banyak lagi yang tanpa disebutkan nama pun aku tetap mengagumi kebaikan mereka.


Bersama FLP Karawang




Dan alhamdulillah, beberapa karyaku menetas setelah gabung dengan FLP. Di antaranya, Antologi Kisata (Unsa,indie publisher), juara dua menulis resensi novel Indiva (2015), Antologi JJCC, Jangan Jadi Cewek Cengeng(Indiva, 2017). Jiaaaah, ternyata karyamu baru segitu doang? Sebuah suara di lubuk hatiku berkomentar.

Hm, sebenarnya malu juga sih, sudah lama gabung di Forum Lingkar Pena, tapi karya yang kuhasilkan belum seperti teman-teman yang lainnya. Tapi, aku ingat pepatah lama, gapailah bintang, karena saat meleset pun kau tetap berada di antara bintang.


Ya, walaupun aku sekarang belum jadi penulis atau blogger ‘beneran’, tapi dengan bergabungnya aku di keluarga besar FLP seluruh dunia, ada banyak sekali pengalaman dan manfaat yang didapat. 
Paling berkesan, bisa kenal lebih dekat dengan penulis-penulis ternama –yang walaupun karya mereka melangit tapi hatinya tetap membumi.

dari WAG FLP sedunia


FLP pernah bilang, bahwa manfaat menulis itu banyak, di antaranya, menulis bisa menjadi ladang pahala, kalau ‘pesannya’ kebaikan. Menulis bisa jadi salah satu terapi menjaga kewarasan. Menulis pun bisa ‘memperpanjang umur’ karena walaupun kelak penulisnya sudah tiada, karyanya masih bisa dinikmati dan diambil manfaatnya.

Maka, dalam sebuah catatan kecil di sudut hatiku, aku terus berharap, semoga apa yang kutulis, dan yang akan kutulis, bisa membuahkan manfaat, yang bisa dipetik di ‘kehidupan’ mendatang. Karena aku tidak ingin, restu Mama yang susah payah kudapatkan menjadi sia-sia belaka. ***



Akhirnya, setelah 20 tahun, Prancis Kembali menjadi Juara Dunia

Saya bukan bola-adict , tapi saya suka memperhatikan permainan ini. Sebenarnya awal saya mulai memperhatikan sepak bola dunia adalah ketik...

Postingan Terpopuler Bulan ini