Dari Rimba Afrika sampai Konstantinopel


‘Meledak!’

Satu kata yang paling mewakili isi buku ini, menurut saya. Eits, bukan isinya anarkis apalagi radikalis. Meledak yang saya maksud di sini adalah,

Tahun Baru 1440 Hijriah, Apa Saja Yang Akan Ditargetkan?

Alhamdulillah kita sudah memasuki tahun baru Hijriah yang ke 1440. Saya pun merenung. Apa saja yang telah saya lakukan selama setahun ke belakang? Apakah yang saya lakukan lebih banyak manfaatnya atau sebaliknya?

Ternyata Bakmi Jawa ini ada di Perumnas!



Udah baca curhatan saya di sini? Hehehe. Silakan baca dulu, siapa tahu ada manfaatnya ☺☺

Nah, jadi sebenarnya, saya udah beberapa kali makan Bakmi Jawa ini, karena beberapa kali suami bawain ke rumah. Tapi, baru kemarin saya tahu dimana lokasinya.



Yup. Lokasinya ternyata ada di blok belakang Masjid Raya Perumnas. Jalan untuk melalui ke lokasinya emang kurang nyaman sih, karena gank ke blok situ belum mulus banget jalannya.

Tapi, setelah sampai di kedai Bakmi Jawa, rasanya terbayarkan dengan kenyamanan suasana kedai.



Selain desain interior yang modern minimalis, kedai ini juga menggabungkan nuansa pedesaan, seperti menyediakan fasilitas lesehan, dan sebubah Gazebo di sudut ruangan.

Fasilitas lain seperti toilet dan tempat cuci tangan juga ditempatkan terpisah.

 

Kelebihan berkunjung kesana, adalah selain karena rasa dari menunya yang oke serta tempatnya yang nyaman, kita juga disuguhkan audio murottal yang disiarkan dari mikrofon Masjid.

Ya, kedai ini memang dekat dengan Masjid Raya Perumnas. Sehingga bagi yang memang sedang mampir ke Masjid Raya Perumnas, bisa melipir sedikit ke blok belakang perum untuk bisa menemukan kedai cozy ini.



Jadi, kalau misalnya ada acara buka puasa bersama, atau hang out bareng teman dan keluarga, Kedai ini bisa jadi rekomendasi untuk semua.

Tapi, waktu itu saya lupa bertanya, apakah di kedai ini ada free wifi nya atau enggak, hehehe.

Oh, ya, sebenarnya, nama kedai ini adalah BBJ. Bandeng Bakar Juwana. Karena kedai ini memang awalnya mengusung tema bandeng. Pokoknya, semua tentang bandeng yang dikreasikan dengan berbagai variasi ada di kedai ini.

Nah, bakmi Jawa yang menurut saya enak ini, adalah menu tambahan dari menu utama perbandengan. Menu yang lainnya juga ada sih, enggak kalah enak. 

Silakan berkunjung untuk menjajal langsung citra rasa yang disajikan oleh kedai ini.

Dan saya sarankan sih, baiknya kalau ke kedai ini rame-rame, selain karena lebih seru, juga biar enggak ketahuan jomblonya, eeeeh. Becanda ya mblo. Hehehehe.



Oh ya, mari kita biasakan untuk 'merapikan' kembali meja yang kita gunakan ketika berada di fasilitas publik seperti ini.




Simple sih, kita cuma tinggal menumpukkan piring-piring (berikut bekas tissue dan sisa makananya) juga gelas ke tengah meja atau ke salah satu sudut meja, sehingga menyisakan meja yang lapang dan bersih. Sehingga memudahkan petugas resto untuk mengambil alih kemudian.

Kalau ada yang bilang, "halah, ngapain sih repot-repot ngerapiin kembali, kan ada pelayan atau petugasnya yang nanti membersihkan? kita mah tinggal cabut aja lah"

Emang sih, ada petugas kedai atau resto yang nanti akan membersihkan dan merapikan. Tapi, kalau keadaan sedang ramai sekali dan petugas kewalahan, barangkali bantuan kecil kita yang sederhana ini mampu membuat mereka senang, sehingga lebih semangat bekerjanya.

Pun, jika kita membereskan meja kita sebelum meninggalkan lokasi, orang yang datang selanjutnya tidak harus menunggu lama untuk bisa duduk nyaman di tempat yang baru saja kita pakai.



Toh, kita sendiri juga lebih senang mendapati meja makan yang lebih rapi saat berkunjung ke resto atau kedai makanan kan? 

Semoga gerakan sederhana ini mampu menyenangkan banyak orang. Jadi pahala yang banyak deh, Aamiin.

Hal jazaa ul ihsaani illal ihsaan. Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula) QS. Arrahman : 60.

Salam,
Djayanti Nakhla Andonesi

Sempat kecewa gitu sama provider ini, tapi ternyata bisa juga…



Ditemani oleh suami dan anak-anak, saya pergi ke salah satu gallery sebuah provider. Udah sering sih, bolak-balik kesini. Seperti ketika mencoba mengaktifkan kembali kartu yang terlanjur terblokir. Tapi, unfortunately, enggak bisa. Dikarenakan…  (nanti deh ditulis dipostingan lain, ya)

Nah, kali ini, kita niatnya mau minta tolong ngebenerin paket datanya Mama, karena udah diisi pulsa sekitar seratus ribu lebih, tapi koq pulsanya enggak bisa diapa-apain. Dipaketin dengan nominal berapapun enggak bisa, ditransfer pulsanya pun enggak bisa. Malah, berkurang sekian rupiah dari awal mengisi, padahal sudah meng-offkan data seluler.

Biasanya gampang koq kalaupun kita maketin sendiri. Enggak ada kendala kayak gini. Makanya saya penasaran ingin langsung menghubungi Customer Service.



Eh tapi, pas udah sampe sana, keluhan kami enggak bisa ‘diurus’. Dikarenakan, Mama –si pemilik nomor hape yang bermasalah, enggak ikut. Padahal saya udah bawa KTP asli MAMa dan hapenya, supaya bisa langsung diperbaiki paket datanya.

Agak kecewa sih, karena ternyata enggak bisa walaupun sudah diwakili saya yang notabene anaknya, hehehe.

“Jangankan anaknya bu, suaminya pun enggak bisa, harus sama yang punya KTPnya.” Kata petugas CS.

“Yah, Mama saya lagi enggak bisa ikut, mbak.” Saya mengiba.

“Maaf, bu. Kalaupun mau diwakilin, harus bikin surat kuasa bermaterai.” Jawab sang CS.

Duileeeee. Makin ribet, ya, tibang mau benerin paket data doang, gumam saya. Si mbak CS nya jadi agak canggung gitu. Mungkin karena ngerasa enggak enak, kali ya.

“Ada saran lain enggak mbak?” tanya saya lagi.

“Hm,” si mbak nampak mikir, “Coba aja sim-cardnya di masukkin ke hp jadul, terus aktifasinya di hape jadul itu, kalau udah ada respon dari provider dan aktif paket datanya baru deh dipindahin ke hp androidnya.”

“Oh, gitu, ya, mbak.” Sahut saya.

Si mbak CS memberikan KTP Mama saya.

“Oh, yaudah deh, makasih, mbak.” Saya menerimanya dengan agak kecewa dan mikir, mau minjem hape jadul kemana, kan hp jadul kita udah pada rusak, apalagi chargerannya udah kebanting-banting dimainin bocah, haghaghag.

Kami pun keluar dari ruangan bernuansa kuning yang ada di salah satu Mall di bilangan Telukjambe itu.

Nah, jadi gitu, guys, kalau mau benerin apa-apa soal sim-card atau no hp, harus orang yang sesuai dengan KTP nya yang datang langsung ke gallery. Aturannya gitu. Enggak bisa diganggu gugat. Kecuali kalau mau bikin surat kuasa plus materai, baru kita boleh mewakili dengan catatan KTP asli pemilik nomor atau sim-cardnya harus dibawa serta.

“Mi, kita mau kemana lagi?” tanya suami setelah kami berjalan jauh dari gallery itu.

“Pulang.” Jawab saya pendek.

Suami saya paham banget kalau jawaban yang keluar hanya seperlunya, berarti saya lagi bueteee. Haghaghag.

Sesampainya di parkiran,

“Mami, masa kita enggak beli apa-apa, sih?” itu bukan pertanyaan dari suami saya, tapi sebuah protes dari anak sulung saya yang baru berusia 4 tahun. Hahaha.


Saya jadi nyengir mendengarnya. “Nanti lagi aja, ya.”

“Mami,” nah itu suara suami saya manggil dari belakang, karena emang sejak dari ruangan gallery itu, jalan saya teramat cepat ingin sampai rumah, hahaha.

Saya menoleh kepadanya.

Suami saya mengangkat-angkat alisnya, “Mami, gimana kalau kita ke bakmi Jawa? Mau enggak?”
Tawaran yang menyenangkan dan sangat dibutuhkan istrinya di saat-saat bete seperti ini, hehehe. 

Saya nyengir lebar, karena persekian detik yang lalu, saya memang sedang membayangkan, kayaknya enak makan mie Jawa biar enggak bete. Eh ternyata doi ngajak makan itu pisan, jadi kayak ada semacam gelombang elektromagnetik yang menyambungkan, #hazek.

“Yeh, mau enggak?” Suami saya membuyarkan lamunan saya.
Lalu dia mendahului langkah saya yang sedang menggendong dede Rara, “Yaudah kalau enggak mau.”

“Mauuu laaah.” Saya akhirnya tertawa.


Sesampainya di rumah, dan setelah tamu yang membeli herba-herba hni hpai pulang, saya pun iseng-iseng memindahkan Sim-card Mama ke slot sim ke dua, karena kebetulan hp yang dipegang Mama dual sim, dan yang satunya kosong.

Kalau Mbak CS kan bilangnya harus ganti ke hape jadul dulu, tapi masalahnya, kami hape jadul kami rusak, jadi saya berinisiatif untuk mencoba mengganti tempat ke slot sim di hp android yang sama. Susuganan weh kitu. Mun tiasa alhamdulillah, mun henteu mah nyaaaa wayahna, urang teangan deui Gallery nu sanes. Hehehe. Karena kebetulan, kita baru ngeh juga, kalau gallery provider untuk di Karawang ini, cabangnya ada yang berlokasi di daerah Rawagabus.

Klik.

Saya baru saja memasangkan chasing hape Mama kembali, sudah saya tukar Sim cardnya, ke slot ke dua yang notabene kosong enggak diisi kartu lain.

Saya coba registrasi paket data, dengan status data seluler di offkan. Dan, boom!

Eh enggak boom sih bunyinya, biasa aja bunyi sms masuk. Isinya : Registrasi paket data Anda sedang diproses. Lalu disusul ucapan-ucapan selamat dari dirinya, eh dari providernyah maksudnya, yang menyatakan bahwa paket datanya berhasil diaktifkan. Enggak jadi hangus pulsanya, hehehe.
Alhamdulillah, ternyata saran dari Mbak CS nya berhasil saya modif dengan  baik, makasih mbak CS!

Oke deh, semoga tulisan yang seluruhnya curhat ini ada manfaatnya, hahaha.

Salam,
Djayanti Nakhla Andonesi

4 Harapan di Empat tahunnya Caca


Alhamdulillah, hari ini Caca menginjak usia 4 tahun. Enggak berasa emang kayaknya. Hehehe.
Masih inget banget deh, waktu itu jam empat sore, suami belum pulang dari acara kemping di sekolah, saya ngerasain kontraksi di rumah. Awalnya keluar flek, terus koq makin mules-mules gimana gitu, kayak cewek yang mau datang bulan haid, mulesnya lebih nyelekit tapi.

Momen Indah saat Lebaran Idul FItri


Ada banyak momen yang indah pada saat lebaran. Sebagai mana yang dialami oleh muslim umumnya. Dan beberapa di bawah ini adalah momen terindah yang saya alami.

Momen terindah saat lebaran adalah

Mayako Matsumoto Vs ‘Rezeki anak sholeh’



Beberapa hari yang lalu, teman dekat saya, bercerita bahwa anaknya yang baru kelas satu SD, dibekali tempat minum Tupperware, hilang di dalam kelas.

Sebenarnya awalnya begini, ketika keluar dari kelas dan baru sampai gerbang sekolah, teman saya ngeh, koq botol Tupperware yang dibawa anaknya enggak ada di tas. Lalu,

Buah Tin dan Rahasianya

Ada yang belum tahu buah Tin? Atau ada yang belum pernah dengar kata Tin? Wah, kalau orang muslim pasti pernah mendengar nama itu. Apalagi kalau yang sering membaca Alquran, pasti telinganya tidak asing lagi dengan buah Tin. Karena, buah Tin adalah salah satu buah yang disebutkan secara langsung di dalam QS. At-Tin.

Nah, awalnya saya juga enggak pernah tahu bentuk buahnya kayak gimana.

Sampai pada suatu ketika,

5 Cara Ini Bisa Mempercepat Move ON

Sumber gambar di sini

Seorang adik tingkat bercerita pada saya, long time ago, bahwa doi sedang dalam masa dimana ingin sekali move on, tapi koq susyeh banget. Entah ya, padahal saya bukan mama dedeh, yang suka jadi tempat curhat tapi enggak ada salahnya juga saya mencoba sharing atas apa yang bisa saya jawab mengenai persoalan itu.

Dan sebenarnya bukan cuma adik tingkat saya itu saja yang pernah konsul demikian, beberapa orang yang kebetulan dekat dengan saya juga pernah menanyakan tips serupa agar segera bisa move on. Saya kadang merasa lucu saat menuliskan ini kembali, karena menjawab hal itu membuat saya seperti sedang menasehati diri saya ratusan tahun silam, wkwkwk, kesannya eike tue bener yak :D

Ya, setiap orang mungkin pernah ada di masa yang kurang menyenangkan. Ada yang mungkin pernah merasa dikhianati, mungkin ada yang pernah merasa disakiti, dan sebagainya. Apalagi kalau kasusnya soal asmara. Fuuuh #niupDandelion

Maka, mungkin, mungkin sharing yang akan saya tulis ini bisa sedikit membantu siapapun yang sedang merasakan itu.

Berikut ini ada 5 cara yang bisa mempercepat kita untuk bisa Move ON.

Akhirnya, setelah 20 tahun, Prancis Kembali menjadi Juara Dunia


Saya bukan bola-adict, tapi saya suka memperhatikan permainan ini. Sebenarnya awal saya mulai memperhatikan sepak bola dunia adalah ketika piala dunia 2002, karena di sana ada Miroslav Klose.

Ah elah, bocah cewek kelas enam SD, tahu apa soal bola. Tapi ya emang begitu kenyataannya, saya mulai tertarik piala dunia sejak melihat ada Uwa Klose di sana. Keren aja gitu melihat gol-gol kecenya waktu itu. Sampai

Meskipun beda pilihan, tetap Asyik untuk berteman kan?

"Ridwan Kamil ya, jadinya yang menang?" tanya paman saya kemarin sore.

"Eh?" saya terperanjat, bukan karena mendengar pertanyaan dari paman saya tersebut, tapi lebih karena saya baru ingat kalau saya belum menuliskan hal itu di blog ini.

Ya, beberapa waktu lalu, kita semua tahu dan sama-sama melaksanakan pemilihan gubernur atau kepala daerah dengan serentak dibeberapa provinsi di Indonesia. Jawa Barat salah satunya.

Ada empat calon pasangan saat itu, dengan julukan masing-masing. Yang kesatu, Rindu, singkatan dari nama Ridwan Kamil-UU. Yang kedua, Hasanah, akronim dari Hasan-Anton-amanah. Yang ketiga, Asyik alias Adjat-Syaikhu. Dan yang ke Empat sebutannya 2D, yakni Dedy Mizwar-Dedy Mulyadi.

Menurut beberapa survei,

Pertemuan Yang Tak Direncanakan

Pernah enggak sih, ngalamin momen dimana kita ingin reunian, tapi ada saja halangannya. Yang satu bisa, yang lain enggak bisa. Yang satu sempet, yang lain enggak sempet. Enggak ketemu timing yang pas untuk ngumpul semua.
Pernah ngalamin gitu sama temen-temen? Atau sering? Hahaha. 

Ya, saya dan kedua 'kakak' saya pun begitu. 

Jadi ceritanya begini.

Nikmati Makanan Yang Dimasak Porsi Besar Berikut Ini, Yuk!

Kuliner merupakan wisata yang tak bisa lepas dari siapapun saat pergi liburan. Menikmati ragam kuliner di kota tujuan terkadang membuat kebahagiaan tersendiri yang menjadi pelengkap liburan kamu. Seperti

Membongkar Rahasia Magnet Rezeki ala Ust Nasrullah

Tanggal 20 Mei 2018 yang lalu, kami berkesempatan untuk mengikuti kegiatan Safari Ramadhan Ustad Nasrullah, yang pada saat itu dilaksanakan di aula Hotel Brits Karawang. Dan maaf baru sempat saya posting sekarang #gigitgadget

Hadirnya saya dan suami di kegiatan tersebut terbilang ajaib menurut kami. Karena, sebelumnya kami bingung apakah akan mengikuti kegiatan itu atau tidak dengan berbagai pertimbangan.
Pertama,

Geliat Pasar Tumpah Menjelang Lebaran

Baju baru alhamdulillah 
Tuk dipakai di hari raya
Tak punya pun tak apa-apa
Masih ada baju yang lama ๐Ÿ˜Š

Masih ingat lagu anak-anak yang dipopulerkan oleh Dea Ananda, di atas? (hahaha, ketauan banget ya yang nulis anak jaman kapan ๐Ÿ˜›)

Ya, budaya yang ada di Indonesia, entah sejak kapan dimulainya, menjelang akhir ramadhan, masyarakat kita berburu

Rek Kitu Wae?

Kalau Anda sering mendengar ceramah salah satu Ustad asal Parahyangan, alias asal Sunda, pasti paham siapa yang sering mengatakan kalimat ini : "Rek Kitu Wae?"

Yap, dialah Ustad Evie. Seorang dai yang dikenal eksentrik. Unik. Namun, kali ini saya belum akan membahas biografinya. Melainkan saya akan meminjam kata yang sering beliau ucapkan. Rek Kitu Wae? Dan akan saya uraikan melalui perspektif saya.

Karena saya sendiri seringnya merasa ter-Jleb-isasi, ketika mendengarnya. 'Rek kitu wae?'

Balada Kemenag Rilis 200 Mubalig dan Tanggapan Unig

Maafkan jika tulisan ujung judulnya terkesan agak maksa biar sounds interesting ya ๐Ÿ˜„ Maksudnya mah gini:
Balada Kemenag Rilis 200 Mubalig dan Tanggapan Unik ๐Ÿ˜„

Subhanallah. Awalnya saya enggak niat membuat tulisan ini. Tapi, rasanya sayang kalau tidak mengarsipkan momen luar biasa ini. Apalagi pas saya baca komentar-komentar netizen yang kayaknya koq enggak putus-putus urat kreatifnya :D

Buktinya ini,

Tips Melahirkan Normal

15 Mei 2017.

Pagi-pagi udah mulai enggak keruan rasanya perut. Sampai siang makin enggak keruan. Apa iya, kontraksi beneran? Mana di rumah lagi sendirian. Suami lagi di sekolah. Teteh Caca lagi nginep di eyanknya.

Alhamdulillah, jam satu siang mama datang. Beliau khawatir kalau saya emang mau brojolan. Mama udah nyaranin  ke bidan. Dan emang mau ke bidan nunggu suami pulang. Tapi, waktu itu suami belum bisa pulang karena masih ada tugas yang tak bisa ditinggalkan. Saya mah udah pasrah. Kalaupun suami enggak bisa nganter, toh bisa minta tolong saudara atau tetangga. Soalnya waktu itu belum booming ojek/driver online.

Dan, the amazing of pasrah,

Refleksi Negeri di Ujung Tanduk


Dalam postingan sebelumnya, di sini, saya menyarankan agar Tere Liye melanjutkan kisah Negeri Para Bedebah yang memang ciamik tapi masih ngegantung itu. Dan ternyata, emang udah ada lanjutan sekuelnya.

Jadi, emang saya nya aja yang telat bacanya, hahaha. Wong Negeri Para Bedebah terbit 2012, saya bacanya 2018. Hahahaha. Tapi, konten ceritanya masih sesuai dengan keadaan zaman now koq. Dan inilah sekuel nya : Negeri di Ujung Tanduk.

Nah. Ternyata,

Negeri Para Bedebah, Nyatakah?

Adalah Thomas, 

seorang Konsultan Keuangan Profesional yang karirnya cemerlang. Kesibukannya yang padat sebagai pakar atau penasehat ulung ekonomi membuatnya sibuk wara wiri ke sana dan kemari, seminar ini, seminar itu, pertemuan ini, pertemuan itu, mengurus ini, mengurus itu, membuat dia sibuk bukan main, bahkan sibuknya mengalahkan jadwal presiden ternama sekalipun. Karena kan kalau presiden yang kita ketahui bersama mah sesibuk apapun tetap bisa membuat Vlog sendiri ya, santai membahas Kuda, atau Rusa istana, dll. #uhuk #fokus please.

Curriculum Vitae Thomas terlihat lempeng. Umumnya orang-orang berprestasi lainnya. Lulus dari sekolah dengan membanggakan. Namun tak banyak yang tahu, bahwa Thomas memiliki masa kelam. Puluhan tahun yang lalu. Dan itu masih membekas pedih di hatinya.

Alur Novel yang satu ini, bisa dibilang maju mundur cantik #syahrinimodeon. 

Hobi Cerita, Restu Mama dan Forum Lingkar Pena

Jauh sebelum kenal blog, aku sudah senang bercerita, sejak masih di bangku SD. Kadang bercerita lewat gambar-gambar yang kujelaskan panjang lebar alur ceritanya pada teman-teman yang mau mendengarkan. Dan aku baru sadar sekarang, mereka koq mau-mau saja ya mendengarkan ceritaku. Padahal gambarku juga enggak bagus-bagus amat, seadanya malah. Apa mungkin mereka kasihan semata, karena melihatku butuh pendengar? Hahaha. Ah entahlah. Aku sudah sangat berterima kasih pada mereka apapun alasannya.

Selain bercerita lewat gambar (sekali lagi aku tekankan, gambar yang kuguratkan sangat sederhana, jadi jangan membayangkan kalau aku jago menggambar ya, hehe), aku juga senang bercerita lewat tulisan.

Dan aku bisa menghabiskan berlembar-lembar tulisan di buku tulis biasa. Itu loh, buku tulis yang di setiap lembarnya selalu ada kata-kata motivasi terselip di bawahnya. Misal, yang paling aku ingat adalah : never put till tomorrow what you can do today. Uh yeah. Dulu saat membaca kamut itu berasa keren sekali. Tapi sampai sekarang, pengaplikasiannya butuh niat dan usaha extra ternyata.

Atau kadang-kadang, kalau lagi iseng, aku menulis cerita di halaman belakang. Jadi seperti menulis catatan berbahasa arab. Dari belakang ke depan. Maka, penuhlah halaman belakang buku-buku tulis aku dengan warna-warni cerita. Entah itu cerita karangan yang yang aku buat di sekolah, ataupun saat senggang di rumah.

Kegemaran menulis cerita terus berlanjut sampai ke jenjang berikutnya. Apalagi saat itu ada dua orang teman aku, Siti Masitoh dan Nur Ayu Sekar Ningsih, yang juga punya kegemaran serupa. Walaupun kita beda esempe alias SMP.

Bahkan kami sempat membuat novelet. Trio. Kami menulisnya gantian. Di buku yang sama. Temanya mengalir begitu saja, karena tergantung buku itu sedang ada di tangan siapa, hahaha. Dan tentu saja menulisnya langsung menggunakan pulpen alias tulis tangan. Bukan ketikan komputer. Karena, waktu itu belum ada fasilitas komputer. Kalaupun ada, masih sangat sulit kami temui rental-nya. Sekalipun menemukan rental-nya, uang sewanya lebih baik kami gunakan untuk jajan baklor alias martabak telor sepulang kami ngaji, hehehe.

Untuk itu, saking niatnya, aku pernah menulis sendiri beberapa novelet (tentu kaidahnya jauh dari sempurna sebagaimana novel yang telah diterbitkan penerbit), masih di buku tulis biasa, dan dibaca oleh beberapa teman yang senang membaca. Ada juga kakak kelas yang ikut membaca secara bergantian. Lalu ada yang berkomentar, bahwa cerita yang aku buat bagus sekali. Padahal itu cuma fiksi.  

Sejak saat itu aku makin semangat menulis. Dan makin senang membaca, karena amunisi menulis memang berawal dari membaca. Namun karena aku tak punya cukup uang untuk membeli majalah-majalah atau buku-buku selain buku pelajaran, maka perpustakaan sekolah merupakan tempat favoritku. Aku bisa menahan lapar pada jam istirahat, untuk aku gunakan sebanyak mungkin di perpustakaan.

Menjelang kelas tiga esempe, hobi menulisku redup. Karena, Mama tak suka aku menulis. Bagi Mama menulis itu buang waktu. Mama khawatir aku kebanyakan melamun dan tidak fokus pada pelajaran. Karena memang aku menulis tanpa panduan siapapun alias otodidak.
Hiks.

Semua buku tulis yang isinya cerita fiksiku, aku sobek-sobek sendiri. Kesel, sedih, kecewa. Karena hobiku tak direstui. Sejak saat itu  aku malas menulis. Enggak selera lagi menulis cerita, bahkan ketika diminta oleh teman yang suka membaca.

Sampai kelas dua esema alias SMA, aku kangen. Sudah dua tahun aku berhenti menulis. Aku kangen halaman belakang buku tulisku ada cerita karyaku lagi. Maka, tanpa sepengetahuan Mama, aku mulai menulis lagi. Masih di belakang buku catatan sekolah. Walau selalu tanpa ending, karena mogok ide di tengah jalan. Dan itu yang membuat Citra Asri Meida, teman sebangku, uring-uringan, “Dije, ini tulisan diselesaikan doooong! Enggak enak banget lagi seru-serunya baca tapi lanjutannya ilang gitu aja!”

Hahaha. Ah, terima kasih Citra. Kau komentator tulisanku yang paling setia.

Dan momen tak terlupakan itu pun datang.

Saat itu aku kelas tiga esema. Aku mengikuti lomba cerpen pada saat PIJAR, Perlombaan Islami Antar Pelajar, yang diadakan oleh Forum Komunikasi Dakwah Kampus UNSIKA. Alhamdulillah, cerpenku yang berjudul “Gerimis” berhasil mendapatkan juara dua. Namun, karena saat itu aku enggak punya gawai, jadi enggak bisa mendokumentasikannya. Tapi mungkin pialanya masih nangkring di lemari sekolah SMAN 1 Telukjambe. Itu juga kalau enggak kegusur piala siswa lain di generasi selanjutnya, maklum, aku kan udah termasuk generasi lawas sekarang, hahaha.

Yang lebih penting, setelah menjadi juara dua di lomba cerpen itu, alhamdulillah Mama akhirnya mengizinkanku melanjutkan hobi menulis. Bahkan, Mama sampai berurai air mata saat membaca Cerpenku yang berjudul “Gerimis” itu.

Apalagi sejak aku akhirnya mengenal Forum Lingkar Pena di masa kuliah. Mama semakin membolehkan hobi menulisku, karena tulisanku mulai terarah. Apalagi ketika Mama  tahu, bahwa orang-orang yang gabung di FLP adalah orang-orang baik, seperti di antaranya yang ada di FLP Karawang, di antaranya Teh Lina (yang saat ini menjadi ketum FLP Karawang), dan masih banyak lagi yang tanpa disebutkan nama pun aku tetap mengagumi kebaikan mereka.


Bersama FLP Karawang




Dan alhamdulillah, beberapa karyaku menetas setelah gabung dengan FLP. Di antaranya, Antologi Kisata (Unsa,indie publisher), juara dua menulis resensi novel Indiva (2015), Antologi JJCC, Jangan Jadi Cewek Cengeng(Indiva, 2017). Jiaaaah, ternyata karyamu baru segitu doang? Sebuah suara di lubuk hatiku berkomentar.

Hm, sebenarnya malu juga sih, sudah lama gabung di Forum Lingkar Pena, tapi karya yang kuhasilkan belum seperti teman-teman yang lainnya. Tapi, aku ingat pepatah lama, gapailah bintang, karena saat meleset pun kau tetap berada di antara bintang.


Ya, walaupun aku sekarang belum jadi penulis atau blogger ‘beneran’, tapi dengan bergabungnya aku di keluarga besar FLP seluruh dunia, ada banyak sekali pengalaman dan manfaat yang didapat. 
Paling berkesan, bisa kenal lebih dekat dengan penulis-penulis ternama –yang walaupun karya mereka melangit tapi hatinya tetap membumi.

dari WAG FLP sedunia


FLP pernah bilang, bahwa manfaat menulis itu banyak, di antaranya, menulis bisa menjadi ladang pahala, kalau ‘pesannya’ kebaikan. Menulis bisa jadi salah satu terapi menjaga kewarasan. Menulis pun bisa ‘memperpanjang umur’ karena walaupun kelak penulisnya sudah tiada, karyanya masih bisa dinikmati dan diambil manfaatnya.

Maka, dalam sebuah catatan kecil di sudut hatiku, aku terus berharap, semoga apa yang kutulis, dan yang akan kutulis, bisa membuahkan manfaat, yang bisa dipetik di ‘kehidupan’ mendatang. Karena aku tidak ingin, restu Mama yang susah payah kudapatkan menjadi sia-sia belaka. ***



Dari Rimba Afrika sampai Konstantinopel

‘Meledak!’ Satu kata yang paling mewakili isi buku ini, menurut saya. Eits, bukan isinya anarkis apalagi radikalis. Meledak yang saya ...