Langsung ke konten utama

Rek Kitu Wae?

Kalau Anda sering mendengar ceramah salah satu Ustad asal Parahyangan, alias asal Sunda, pasti paham siapa yang sering mengatakan kalimat ini : "Rek Kitu Wae?"

Yap, dialah Ustad Evie. Seorang dai yang dikenal eksentrik. Unik. Namun, kali ini saya belum akan membahas biografinya. Melainkan saya akan meminjam kata yang sering beliau ucapkan. Rek Kitu Wae? Dan akan saya uraikan melalui perspektif saya.

Karena saya sendiri seringnya merasa ter-Jleb-isasi, ketika mendengarnya. 'Rek kitu wae?'

Sumber gambar dari sini

Kalau Anda kebetulan belum paham maksud kalimat itu, kemari saya bisikkan. 'Rek kitu wae?' bila diterjemahkan bebas secara harfiah ke dalam bahasa Indonesia, kurang lebih begini, 'Mau Kayak gitu aja?'

Namun, bila diterjemahkan bebas secara istilah, maka maksudnya adalah sebuah pertanyaan retoris yang ditujukan untuk mengetuk kesadaran diri sendiri, agar bercermin untuk  berbenah lebih baik.

Tapi memang, pertanyaan retoris ini hanya akan diterima oleh mereka yang mentalnya masih sehat, alias pikirannya masih waras. Karena kadang percuma juga kalau kita bertanya dengan menggunakan kalimat itu pada orang yang terkena skizo. #tariknafas #hembuskan

Nah, bulan Ramadhan yang sudah hampir masuk ke 10 hari terakhir ini, seolah menampar saya keras-keras dengan pertanyaan "Rek Kitu wae?"


Amal ibadah yang tak juga diperbanyak, diperikhlas, diper-rajin, padahal Ramadhan ini seluruh amal ibadah dilipatgandakan. Mengapa membiarkan diri malas bergerak menjemput kemuliaan Ramadhan? Emangna Rek kitu wae?

Shalat masih sekenanya, padahal kalau kita shalat sunnah pun akan diberi pahala shalat wajib di bulan Ramadhan. Tapi mengapa kita membiarkan yang sunnat tak tergapai, yang wajib pun terbengkalai? Astagfirullah. Emangna Rek Kitu Wae?

Tadarus Quran ogah-ogahan. Enggak khatam-khatam. Bahkan enggak ada niat untuk mengkhatamkan. Padahal kalau baca novel enggak sampai tiga hari juga selesai, kenapa kalau baca Quran diberi tenggat sebulan pun enggak sampai-sampai di lembar terakhir?

Padahal dalam hadis shohih, setiap kita membaca Alquran, jangankan baca seayat, baca satu hurufnya pun akan mendapat balasan kebaikan, apalagi di bulan Ramadhan.
Pun Alquran juga banyak sekali keutamaannya.
Tapi mengapa enggan meluangkan waktu untuk berkhalwat dengan Alquran? Emangna Rek kitu wae?

Sedekah atau membantu orang yang lagi tertimpa musibah, masih mikir seribu kali, tapi kalau untuk beli atau melakukan yang enggak penting mah enggak pakai mikir. Padahal Allah enggak pernah menyia-nyiakan kebaikan hambaNya, apalagi di bulan spesial ini. Tapi mengapa lebih memilih menahan kemuliaan dari-Nya. Emangna Rek Kitu Wae?

Doa asal-asalan, enggak pakai penghayatan, enggak pakai yakin, enggak pakai pengharapan, padahal Allah sangat menyukai hambaNya yang berdoa. Dan Dialah yang Maha Mengabulkan. Tapi mengapa kita masih enggak yakin dan putus asa? Emangna rek kitu wae?

Hati masih saja dipenuhi iri dan dengki. Padahal setiap kita sudah memiliki takaran rezeki. Dan Allah lah sebaik-baik pemberi rezeki. Lantas mengapa kita masih meragukan kebaikan Ilahi? Rek kitu wae?

Hidup tanpa arah dan pegangan. Tak jelas mencari cinta dan perhatian manusia. Padahal sudah ada tuntunan dari yang terkasih Rosulullah saw. Tapi mengapa kita mengekor pada mereka yang tak jernih pikiran dan akhlaknya? Emangna rek kitu wae?

Hati sibuk mencari penilaian manusia. Padahal manusia bisa apa. Yang Maha Segala kan Hanya Allah SWT. Jadi mengapa kita marah saat ada manusia yang memandang kita hina? Toh memang kita hina, banyak dosa.

Dan masih banyak lagi perbuatan-perbuatan yang semestinya kita pertanyakan kembali pada diri sendiri. Rek kitu wae? 

Ikhtiar enggak maksimal. Pas mentok langsung nyalahin Tuhan. Padahal Allah enggak akan merubah suatu kaum kalau kaum itu enggak mau merubahnya. Jadi, rek kitu wae? Atau mau berubah untuk berbenah? 

Wahai diri, mumpung masih Bulan Ramadhan, belum terlambat untuk memperbaiki kelalaian dan kemaksiatan yang telah diperbuat. Allah Maha Pengampun. 
Pompa lagi semangat kita, untuk meraih ridho dan ampunan Allah SWT. 

Masih ada waktu untuk kita berlomba-lomba dalam kebaikan. Dan insya Allah kita niatkan hanya untuk Allah swt. Karena hanya perbuatan baik yang niat Lillahita'ala yang akan menemukan kebahagiaan sesungguhnya. 

Semangat wahai diri!💪 

Salam, 
Djayanti Nakhla Andonesi
19 Ramadhan 1439 H. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mayako Matsumoto Vs ‘Rezeki anak sholeh’

Beberapa hari yang lalu, teman dekat saya, bercerita bahwa anaknya yang baru kelas satu SD, dibekali tempat minum Tupperware, hilang di dalam kelas.

Sebenarnya awalnya begini, ketika keluar dari kelas dan baru sampai gerbang sekolah, teman saya ngeh, koq botol Tupperware yang dibawa anaknya enggak ada di tas. Lalu,

Akhirnya, setelah 20 tahun, Prancis Kembali menjadi Juara Dunia

Saya bukan bola-adict, tapi saya suka memperhatikan permainan ini. Sebenarnya awal saya mulai memperhatikan sepak bola dunia adalah ketika piala dunia 2002, karena di sana ada Miroslav Klose.
Ah elah, bocah cewek kelas enam SD, tahu apa soal bola. Tapi ya emang begitu kenyataannya, saya mulai tertarik piala dunia sejak melihat ada Uwa Klose di sana. Keren aja gitu melihat gol-gol kecenya waktu itu. Sampai

Bahaya Penggunaan Gadget Yang Kurang Bijak Pada Anak

Hujan, angin, dingin. Badan kurang fit. Sebuah perpaduan yang klop untuk mager di rumah :D. Tapi, karena sudah ada agenda dan agendanya luar biasa penting, akhirnya saya menggeber diri saya untuk tetap menuju lokasi acara. 

Dengan kekuatan bulan (ketahuan amat ya, saya angkatannya sailormoon :D ), salah salah, maksudnya dengan kekuatan lillahi ta’ala dan ridho suami, akhirnya saya membelah hujan dengan deruman kuda mesin hijau kesayangan. 
Tentu sebelum berangkat saya lebih dulu meminum spirulina,androghapis dan HC alias Hpai Coffee, sebagai suplemen alami tubuh, apalagi kondisi badan sedang kurang fit, wajib banget dah jadinya untuk mengkonsumsinya, hehehe.
Jam 7.15 WIB, saya mampir dulu ke bu Yasmin, karena kita akan sama-sama berangkat ke tempat acara. Kalau hari Ahad cerah, sudah bisa dipastikan, jalanan dari bunderan galuh mas-bunderan masjid raya perumnas, pasti padat merayap karena ada kegiatan pasar tumpah. 

Nah, berhubung cuaca sedang gerimis, kami bisa melewatinya dengan cukup …