Refleksi Negeri di Ujung Tanduk


Dalam postingan sebelumnya, di sini, saya menyarankan agar Tere Liye melanjutkan kisah Negeri Para Bedebah yang memang ciamik tapi masih ngegantung itu. Dan ternyata, emang udah ada lanjutan sekuelnya.

Jadi, emang saya nya aja yang telat bacanya, hahaha. Wong Negeri Para Bedebah terbit 2012, saya bacanya 2018. Hahahaha. Tapi, konten ceritanya masih sesuai dengan keadaan zaman now koq. Dan inilah sekuel nya : Negeri di Ujung Tanduk.

Nah. Ternyata,
harapan saya agar Thomas segera dapat melabuhkan hati di sekuel selanjutnya, belum terwujud. Tapi yang nampaknya sesuai tebakan saya adalah di sekuelnya ini, banyak tokoh baru bermunculan.

Adalah Maryam, seorang wartawati yang boleh dibilang memiliki kesamaan nasib dengan Julia. Karena harus bersusah payah mengejar jadwal Thomas hanya untuk wawancara. Dan pada saatnya bertemu, malah dia kecipratan masalah. Hehehe.

Tapi, Tere Liye, agak mengubah sedikit karakter orang yang menemaninya selama konflik berlangsung itu. Kalau karakter Julia kan, cerewetnya minta ampun. Kalau Maryam, agak cool.

Nah, tokoh lain yang muncul adalah pengganti tokoh Tunga dan Wusdi. Di novel Negeri Para Bedebah, keduanya “modiar” dikhianati oleh sesama pengkhianat. Nah, dalam Negeri di Ujung Tanduk ini, karakter yang jauh lebih ‘ular’ ada di petinggi mereka.
Dan masih ada lagi tokoh-tokoh lain.

Alur & setting


Masih khas novel sebelumnya, setting novel ini hanya menceritakan kejadian beberapa hari saja. Dan uniknya, selalu pas weekend. Hahaha. Sedangkan alurnya alur maju. Sesekali penguatan tentang konflik yang ada hubungannya dari masa lalu ini, ditulis ulang dalam huruf bercetak miring.

Mafia Hukum

Negeri di Ujung Tanduk ini, banyak sekali memberikan kita wawasan, khususnya dibidang hukum. Dan Novel ini seolah membisikkan pada telinga kita bahawa mafia hukum itu ada. Pantas saja, kasus hukum Munir sampai sekarang masih jauh panggang dari api. Padahal, untuk teknologi secanggih sekarang, mengapa tak juga selesai diusut kalau memang niat diusut?

Dalam Negeri di Ujung Tanduk ini, para saksi ahli yang melibatkan banyak pihak, yang jika dia berhasil masuk ke persidangan, maka akan ada banyak pihak yang tertangkap. Seperti efek domino. Hal itu yang menyebabkan mobil yang membawa Om Liem tabrakan, tepatnya sengaja ditabrak. Om Liem diculik dan dianiaya, agar tak bisa memberikan kesaksian.

Membaca episode itu, saya jadi teringat kasus Novel Baswedan. Yang menjadi saksi ahli dalam kasus korupsi ‘domino’ di negeri antah berantah itu, yang ternyata naas menerima perlakuan buruk dari pihak yang sepertinya tak ingin kebenarannya terungkap.

Saya juga jadi ingat kasus korupsi E-KTP. Pantas saja proses hukumnya begitu alot. Karena mungkin seperti kasus Bank Semesta yang ada di NEgeri Para BEdebah, yang melibatkan banyak pihak, bahkan sampai petinggi negara sekalipun. Sehingga akan sulit sekali ditegakkan hukumnya, jika para bedebah itu banyak di dalamnya.  Bedanya, kalau kasus Bank SEmesta di Novel Negeri Para BEdebah itu fiksi, sementara kasus E-KTP itu nyata. Tapi kesamaannya ada, sama-sama melibatkan banyak pihak.

Dan masih banyak kasus lainnya yang saya tak hendak mengabsennya di postingan ini. Tapi, intinya, Tere Liye seolah ingin mengatakan kepada kita, bahwa semua kasus yang proses hukumnya terasa begitu janggal dan a lot itu dikarenakan adanya mafia hukum. Mafia yang wujudnya seolah tak ada, namun mengerikannya melebihi Susana.

Kejutan


Dalam hemat saya, di novel ini tidak terlalu banyak kejutan seperti pada novel pertamanya. Tapi, kejutan-kejutan yang ada dalam Negeri di Ujung Tanduk ini, justeru seluruhnya lebih masuk akal. Karena kan kalau di novel sebelumnya, seperti yang sudah saya tulis di postingan ini, ada kejutan yang terasa janggal, misalnya kehadiran Rudi saat Thomas menyamar jadi kurir Pizza.

Dan kejutan yang paling saya suka di sekuelnya ini adalah, saat konflik pengejaran maupun penyergapan yang terjadi di hongkong.

Pesan

Novel Negeri di Ujung Tanduk ini seperti refleksi negara kita sih kalau boleh saya bilang. Ada banyak orang yang begitu ingin berkuasa, dengan semua janjinya yang omong kosong. Kenapa omong kosong? Karena bahkan hampir 4 tahun berkuasa, janji-janji yang dikeluarkannya sama sekali tidak terbukti. Bahkan sampai membuat Slank dan Iwan Fals menyanyi lagi, menagih janji #eh ini mah di negeri antah berantah ya hahaha. #fokus fokus

Tapi, apakah semua politikus hanya membual? Tidak. Karena, ternyata masih ada yang benar-benar murni ingin menyejahterakan rakyatnya. Bahkan ingin menegakkan hukum setegak-tegaknya, seperti tokoh yang menjadi klien Thomas di novel ini. Yang bahkan, untuk urusan biaya penerbangan pun dia tak memakai uang rakyat jika itu taka da hubungannya dengan kepentingan rakyat. Ya Allah, semoga beneran bisa dapat pemimpin kayak gini.

Dan kalau saat ini ada banyak pro dan kontra seperti soal hastag #gantipresiden, itu wajar.
Mari kita berkaca pada Om Liem. Om Liem itu baik. BAIK. Tapi, langkahnya salah. Sistem yang dia jalankan keliru. Kepribadian OM LIEM memang BAIK. Tapi ada mafia di belakangnya yang sangat tidak baik. Dan sialnya, om Liem ini ketergantungan pada para mafia itu.

So, kalau ada orang yang ingin mengganti OM LIEM, saya rasa wajar. Mereka yang ingin ‘mengganti’ OM LIEM tahu kalau OM LIEm itu baik, tapi Langkah dan sistemnya tidak.

Begitupun jika ada orang yang pasang hastag #gantipresiden, bukan karena  kepribadian presidennya tidak baik, tapi lebih kepada langkah dan sistem yang dijalankannya tidak sesuai dengan janji-janji yang diucapkannya saat kampanye dulu. #Ealah. Koq ini jadi meleber kemana-mana bahasannya, hahaha, maaf ya kalau ada yang tersinggung, kan niatnya bahas Novel loh. hehehehe.

Kekurangan


Ada yang kurang sreg di novel ini. Seperti yang terjadi di novel pertamanya, yakni saat ponsel Thomas disita oleh kepolisian, dan Thomas dapat pinjaman ponsel lain. Mengapa Thomas langsung bisa menghubungi Maggie? Begitupun dengan Maryam yang langsung bisa menghubungi rekan-rekannya. Memangnya keduanya hapal di luar kepala nomor sebanyak itu? Atau bisa jadi memang Tere Liye sengaja menyiratkan kepada pembaca, kalau Thomas dan Maryam memang cerdas banget visualnya hehehe.

Dan yang paling kentara sih, pada halaman 171, penyebutan Maryam dan Maggie ketuker saat menjelaskan susasana menelpon di kantor Kris.

Quotes

Nah, ada banyak Quotes yang bisa ditemukan dalam Novel Negeri di Ujung Tanduk ini.
Seperti pada halaman 115-116
            

    “…. Presiden negeri ini. Beliaulah pemilik komando tertinggi dalam jihad mulia menegakkan hukum. Mengacu pada konstitus, Presidenlah pendekar paling sakti,paling berkuasa, dan paling menentukan ke arah mana hukum akan dijalankan. Ribuan pilisi korup, presiden berwenang penuh mengurusnya. Mengganti seluruh pucuk pimpinan kepolisian itu mudah, sepanjang ada niat dan BERANI.

Ribuan hakim berkhianat atas amanah yang diberikan, juga mudah, mereka ada dibawah rantai komando presiden. Pun termasuk kejaksaan, jaksa-jaksa yang bermain-main dengan hukum. Pun birokrat, hingga kepala desa yang berbuat curang, mengurus KTP harus membayar, apapun itu.

PRESIDEN bisa memimpin perang besar-besaran terhadap orang-orang yang bukan saja melanggar hukum tapi sedang menghina hukum negeri ini.

Maka akan berbeda saat aku jadi walikota atau gubernur, yang lebih fokus terhadap kesejahteraan rakyat, pendidikan dan kesehatan mereka. Membuat mereka nyaman, tidak mengalami kemacetan, tidak menderita kebanjiran, bisa mendapatkan upah minimum, dan bisa memenuhi kebutuhan minimalnya.

Sebagai presiden, prioritas itu berubah. Penegakkan hukum, demi Tuhan, penegakkan hukum adalah kunci semua masalah. Kita harus menyadari hal ini. Kita sebenarnya sedang berperang melawan kezaliman yang dilakukan kita sendiri dan orang-orang di sekitar kita yang mengambil keuntungan karena memiliki pengetahuan, kekuasaan atau sumber daya alam.

Jika kita memilih tidak peduli, lebih sibuk dengan urusan masing-masing, maka nasib negeri ini persis seperti sekeranjang telur di ujung tanduk, hanya soal waktu akan pecah berantakan. Ini negeri di ujung tanduk, Thomas.”

Jadi, alangkah tidak wajarnya  kalau ada sebuah negeri yang dipimpin oleh pemimpin yang saat menghadapi masalah, dengan mudahnya mengatakan “bukan urusan saya,” atau “saya tidak membaca apa yang saya tandatangani” karena, bukankah doi presiden? #tepokjidat

                Halaman 357.
            
    “Kau tahu, Nak, sepotong intan terbaik dihasilkan dari dua hal : suhu dan tekanan tinggi di perut bumi. Semakin tinggi suhu yang diterimakanya, semakin tinggi tekanan yang diperolehnya. Jika dia bisa bertahan, tidak hancur, dia justeru berubah menjadi intan yang berkilau tiada tara. Keras. Kokoh. Mahal harganya.

Sama halnya dengan kehidupan, seluruh kejadian menyakitkan yang kita alami, semakin dalam dan menyedihkan rasanya, jika kita bisa bertahan, tidak hancur, kita akan tumbuh menjadi seseorang yang berkarakter laksana intan. Keras. Kokoh…”

                Halaman 358

                “Kau tahu, Thomas, jarak antara akhir yang baik dan akhir dari semua cerita ini hanya dipisahkan oleh sesuatu yang kecil saja, yaitu kepedulian.”

“Begitu juga hidup ini, Thomas, Kepedulian kita hari ini akan memberikan perbedaan berarti pada masa depan. Kecil saja, sepertinya sepele, tapi bisa besar dampaknya pada masa mendatang. Apalagi jika kepedulian itu besar, lebih besar lagi bedanya pada masa mendatang.”

                Halaman 359

                “…. Selalulah menjadi anak muda yang peduli, memilih jalan suci penuh kemuliaan. Kau akan menjalani kehidupan ini dengan penuh kehormatan. Kehormatan seorang petarung.”

Quotes pamungkas Tere Liye:

Di Negeri di Ujung Tanduk kehidupan semakin rusak, bukan karena orang jahat semakin banyak, tapi semakin banyak orang yang memilih tidak peduli lagi.

Di negeri di ujung tanduk, para penipu menjadi pemimpin, para pengkhianat menjadi pujaan, bukan karena tidak ada lagi yang memiliki teladan, tapi mereka memutuskan menutup mata dan memilih hidup bahagia sendirian.

Tapi, di negeri di ujung tanduk setidaknya, kawan, seorang petarung sejati akan memilih jalan suci, meski habis seluruh darah di badan, menguap segenap air mata, dia akan berdiri paling akhir demi membela  kehormatan.

Judul buku : Negeri di Ujung Tanduk

Penulis : Tere Liye

Tahun Terbit : April 2013

Tebal buku : 360 halaman

Penerbit : PT Gramedia Pustakan Utama

ISBN : 978 979 22 9429 3





salam,
Djayanti Nakhla


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dari Rimba Afrika sampai Konstantinopel

‘Meledak!’ Satu kata yang paling mewakili isi buku ini, menurut saya. Eits, bukan isinya anarkis apalagi radikalis. Meledak yang saya ...