Kondangan Sekaligus Jalan-jalan Gratis, Why Not?


Hari Sabtu, tanggal 21 Juli 2018, teman seprofesi suami saya, menikah.

Awalnya saya tak didaftarkan dalam peserta rombongan, tapi
berhubung ada peserta sebelumnya yang cancel seat, akhirnya saya bisa ikut serta, hehehe. Padahal rada galau juga sih mau ikut atau enggak, soalnya perjalanannya cukup jauh, dan yang jadi alasan utama sih, bisa ke-handle enggak nih anak cewek shalihah saya, Caca yang aktifnya level dewa, haghaghaghag. Kalau adiknya, Rara, karena langkahnya masih belum mau jauh, jadi cukup bisa diantisipasi. Nah, Tetehnya ini. Ajaibnya masya Allah.

Tapi pada akhirnya, kami pun jadi berangkat sepasukan. Hehehehe.

Titik kumpul rombongan di Masjid Raya Perumnas. Setibanya kami di sana, sudah banyak yang nangkring di atas bus. Ada juga yang masih mencari angin segar pagi, sambil sarapan di pelataran Masjid. Pukul 7 lebih 4 menit, setelah peserta rombongan lengkap semuanya, akhirnya kita start berangkat.

Mau kemana kita? Bogooooor. Yeay.

Diawali dengan membaca doa perjalanan di darat, kami pun meluncur membelah udara pagi. Jalanan masih lengang ketika bus yang kami tumpangi memasuki pintu tol. Mungkin karena ini weekend. Meski, cukup padat juga sih di beberapa titik di jalan tol yang kami lewati setelahnya. Terlebih karena adanya proyek tol kejar tayang.



Diamati dari suasana dalam Bus, semuanya nampak menikmati perjalanan, ditambah kami ditemani shalawatan yang dikidungkan oleh Grup Syabyan, dan beberapa penyanyi solo lainnya.

Jam 9.30  kami sudah tiba di Bogor, perjalanan cukup lancar pemirsah, alhamdulillah. Awalnya kami bingung juga sih, lokasi penganten di mana, soalnya enggak ada satupun dari peserta rombongan yang bawa kartu undangannya. Ada yang ketinggalan di sekolah, ada yang lupa naro dimana, hihihi. Tapi setelah mengingat-ngingat, mempelai pernah posting alamat lokasi hajat di fesbuk. Akhirnya ada tuh yang berusaha scroll, nyari alamat. Cuma pas discanning di google map koq malah tambah bingung, :D

Untunglah dari pihak penganten, ada yang akan menjemput rombongan SAKA ini. Clue yang disebutkan oleh penganten adalah, yang jemputnya pake baju batik.

Jadi, sepanjang jalan, kita mencari orang yang berbaju batik, itu semacam nyari jarum di atas tumpukan jerami, unpredictable. Huehehehe. Tapi, untungnya, kita ketemu juga sama yang jemput. Lah, katanya tadi yang jemput pakai baju batik? Yang dipakai beliau, bahkan enggak ada secuilpun motif-motif batiknya, blaster malah. Hehehe.

Cuma yang menarik dari clue ini adalah, mengingatkan saya dan suami saat pergi kondangan beberapa tahun silam ke Cimahi. Dimana kami mendapat clue, patokannya adalah sebuah gang yang di seberangnya ada sebuah minimarket. Dan apakah minimarket cuma ada satu di Cimahi? Banyaaaak pemirsah, maka akhirnya kami saat itu nyasar. Wkwkwkwk.

Survival


Lupakan soal kostum dan clue unik itu, yang jelas perjalanan kami dari titik jemput  untuk tiba di lokasi hajatan bisa dibilang amazing. Gimana enggak, ternyata body bus yang segede gambreng ini harus bisa masuk ke jalan kecil, dan itu sudah jalan yang 'paling gede' untuk bisa dilalui mobil.



Lagi-lagi kami beruntung karena sopir bus, sudah expert. Jadi, kami tak harus mendadak turun dari bus di tengah jalan, walaupun dari jalan utama ke tempat hajat hanya bisa dilalui oleh jalan semefet itu untuk ukuran bus.




Kami benar-benar melewati perkampungan yang asri. You know what I mean. Yang namanya asri pasti banyak pohon-pohon gede. Dan, seperti itulah keseruan kami saat melewati gang tersebut. Kaca dan atap bus harus 'say hello' langsung dengan banyak dahan, ranting, buah, di kedua sisi bus.



Bergemeletuk bunyinya. Lebih dari cukup untuk menyita perhatian, baik yang ada di dalam bus ataupun yang ada di luar  sana. Apalagi, saat kami menabrak buah Berenuk yang ada di kebun pinggir jalan. Hampir semua yang ada di bus berkomentar soal buah yang namanya sering dijadikan bahan selorohan. Termasuk saya, yang berkomentar "oh, jadi kayak gitu, buah berenuk teh" :D

Belum lagi kondisi jalan gang tersebut yang aduhai. Cukup bisa dikategorikan trek survival. Dan, karena ini rombongan guru-guru sekolah Alam, jadi asyik-asyik saja sih kami melewatinya. Sudah biasa melewati jalan yang bahkan lebih aduhai lagi dari ini. Beberapa teman guru sempat berseloroh, ini yang mau jadi manten karena keseringan Survival mungkin ya, jadi ketemu jodohnya juga di daerah yang bikin mental kita like a survival juga hehehe.



Bagi saya mah seru sih. Dan andaikan ada yang mau inisiatif megang microfon saat itu, kami sudah seperti sedang tour, dengan toorguide seperti di wahana-wahana wisata, menikmati pesona alam yang hijau dan lestari. Sayangnya, enggak ada yang kepikiran untuk jadi toorguide dadakan kemarin, huehehehe.

Dan akhirnya, kami pun tiba di lokasi hajat. Di mana di sana juga ada bus Budiman dari Tasik (FYI, besannya emang dari Tasik) yang sedang parkir.

Melihat ada dua Bus ketemu di jalan yang sangat mefet, saya pun agak worry, gimana nih bus kita bisa parkir nanti? Ngebayanginnya aja saya enggak sanggup. Wkwkwk.

Tapi, lain halnya dengan sopir. Sopir selalu punya intuisi dan selangkah lebih maju dalam berpikir, apalagi di saat harus markir di tempat yang challenging banget kayak gini. Hm, kayaknya kalau ada Talent Mapping khusus sopir bus atau sopir mobil-mobil besar, pasti terlihat hasilnya bahwa daya intuisinya warna merah menyala. Alias para sopir itu berbakat self-accuerance. Hehehe.



Seturunnya kami dari bus, samar-samar kami mendengar ada suara penghulu sedang menikahkan. Wah, akad sedang berlangsung. Rupanya kami datang tepat waktu, alhamdulillah. Sebagian langsung mengerubungi masjid, karena akadnya di dalam masjid. Sebagian lagi, sibuk mencari toilet, termasuk saya. Hehehe.

Selepas akad, semua tamu kondangan, mengucapkan selamat kepada penganten. "Barokallah ya Pak Maul dan istri". Ada juga teman penganten yang bercanda, "akhirnyaaa... Sold out juga"
Lah, dikate produk kali sold out :D Intinya sih, dari sekian guru laki-laki yang awal-awal masuk SAKA, akhirnya semuanya sudah menemukan jodohnya masing-masing. Alhamdulillah. Barokallah.. Barokallah...

What's next? 


Nah, setelah makan dan foto-foto, ternyata kami masih punya cukup waktu untuk bisa dipakai kemana kek gitu sepulangnya kami dari kondangan ini. Maka, panitia dan beberapa perwakilan rombongan pun berdiskusi.

Kalau ke kebun Raya, rutenya muter, dan harus nambah 'ongkos' lagi. Sedangkan budget sudah pas banget, apalagi ini bukan tanggal segar, hehehehe. Tempat wisata lain yang searah dengan jalan pulang? Enggak ada deh kayaknya. Jadi, yowes, setelah mengingat, menimbang dan memutuskan, kita mampir sebentar di Masjidnya Arifin Ilham.

Pilihan bijak. 


Karena, selain kita bisa numpang shalat, ternyata kita juga bisa study tour lagi. Hehehe. Kebetulan kami juga kebanyakan belum ada yang mampir ke situ. Saya juga belum.

Alhamdulillah akhirnya, setelah kami pulang kondangan melewati rute yang amazing tadi, kamipun sampai di gerbang depan Pondok Adz-dzkira, yang ada di pinggir jalan keluar-masuk pintu tol Bogor.



Awalnya saya mengira, dari pintu gerbang depan jalan dekat Tol itu, sudah tinggal parkir. Rupanya lokasi masjid Adz-dzikra masih jauh. Dan lagi-lagi kami beruntung mendapatkan view yang kerennya masya Allah. Kami harus melewati jalan naik turun, maklumlah, ternyata masjidnya ada di atas bukit sana.



Yang paling membuat kita terkesan adalah, di sepanjang jalan menuju gerbang utama Masjid Adz-dzira, ada serangkaian papan as maul husna. Per berapa meter, disediakan semacam papan rambu, yang isinya sifat-sifat Allah swt.

99 nama asmaul husna tersebar rapi di sepanjang jalur masuk-keluar pintu utama kawasan Adz-dzikra. Bikin kita dzikir. Dan papan berisi asmaul husna tersebut bisa dijadikan contoh juga sih, untuk diterapkan di area sekolah-sekolah, khususnya yang berbasis Islam. Supaya memberikan inspirasi juga untuk lingkungan sekolah.




Anyway, pas sampai di portal utama, security memastikan maksud dan tujuan kami datang. Lalu sebagai jasa parkir, per mobil diharap memberikan kontribusi 10 ribu rupiah. Dari pintu utama, kami bisa melihat suasana pondok Adz-dzikra yang nyaman. Ternyata ada kawasan perumahannya juga. Dan banyak spot dan aturan menarik yang ada di kawasan itu. Seperti kawasan bebas rokok, dan kawasan wajib berjilbab.




Saya juga melihat beberapa santri dan santriwati yang hilir mudik di kawasan itu. Tapi, saya enggak berkesempatan mewawancari mereka euy, jadi saya engga tahu kegiatan keseharian mereka di sana gimana. Yang jelas sih, kawasan itu cukup terjaga sekali.




Memasuki kawasan masjid, saya makin terperangah. Ajib, ini masjidnya luas banget. Bisa lah, untuk nampung tiga kelurahan, kalau sampai pelatarannya dipakai semua hehehe.



Bangunannya artistik banget. Setiap detail bangunannya, dibuat senyaman dan sefungsional mungkin. Di samping masjid, yang jadi pintu kita masuk, ada kolam ikan yang cukup untuk menghiasi bangunan.



Rara sedang meneliti ikan koi, khusu bener dah :D


Di pojok kanan bangunan, ada kantin. Dan, ruangan wudu ataupun toiletnya dibuat terpisah. Jadi nyaman. Apalagi ada petugas yang rajin merawat.



Oh ya, mungkin emang desain masjid ini dibuat agak mirip dengan masjid yang ada di nabawi. Terlihat dari ornamen dan gaya beberapa ruangnnya, seperti ruangan wudlu, juga menara payung teduh yang ada di pelataran masjid.



Jadi, bagi yang udah ngerasain umroh atau pergi haji, sentuhan suasana kayak gitu bikin kangen pengen balik lagi ke Mekkah dan Madinah sana. Semoga kita semua kesampean ke baitullah yaaa, aamiin.

Oh ya, kawasan binaan Ustad Arifin Ilham ini juga ternyata memiliki spot-spot menarik lainnya. Seperti area memacu kuda. Dan ada beberapa rusa yang dipelihara di dekatnya. Saya dan anak-anak excited ketika berhadapan langsung dengan rusa dan kuda.

Berasa lagi ada di Mini Zoo :D


Kuda Arbi


Kuda poni


Papi lagi sayhello sama kuda :D


Bahkan saya sampai ngeri-ngeri gimana gitu, saat mendengar ringkikan kuda secara live. Norak ya, Wkwkwk. Tapi, emang pertama denger ringkikannya aja, langsung berasa dipacu adrenalin tuh. Apalagi kalau sampai bisa memacunya, ya.

Gelanggang kuda

Wow. Pantesan aja, salah satu hadis rosul, menganjurkan kita untuk bisa berkuda. Life skill, khususnya keberanian kita jadi terlatih. Dan muslim emang harus berani sih, minimal berani menyampaikan kebenaran, tentunya dengan cara yang ihsan pula.

Karena, kita tahu, kekacauan yang terjadi di masyarakat biasanya bukan karena terlalu banyak orang jahat, tapi karena terlalu banyak orang baik yang diam, atau bahkan enggak berani menyampaikan kebenaran.  Emang sih, kita semua juga bukan orang yang sempurna, tapi kalau harus jadi sempurna dulu untuk menyampaikan yang haq, apa nanti enggak keburu wafat kitanya? Eh kan, jadi kemana-mana bahasannya nih, maap pemirsah.

Oh ya, kawasan Adz-dzikra ini juga punya market sendiri. Dan di depan marketnya juga ada bazar makanan dan minuman gitu. Jadi, pengunjung bisa bebas milih menu yang disuka.



Over all, menurut saya, layout kawasan ini kreatif. Bisa jadi rekomendasi juga nih, bagi yang mau wisata religi, hehe. Khususnya untuk keluarga dan anak-anak sekolah.

Dan ternyata ada salah satu guru SAKA yang bertanya perihal pacuan kuda. kabarnya, harga sewa pacunya 50 ribu rupiah/orang. Tapi, belum tahu durasinya berapa lama. Mungkin kalau ada yang tahu info ini lebih lanjut, bisa ditulis di kolom komentar. #wasek.

Jam dua siang, kami pun berkumpul kembali ke dalam bus. Lalu siap-siap pulang ke Karawang.

Hm, ternyata perjalanan kali ini sebenarnya sangat-sangat efisien dan lancar. Kondangan tepat waktu, bisa mampir untuk 'wisata religi' yang ramah kantong pula. Bahkan kami bisa pulang di saat matahari belum benar-benar tenggelam.

Karena perjalanan pulang pun alhamdulillah lancar. Dan semua jamaah yang ada di dalam bus, cukup merasa senang. Hanya saja, harapan rombongan bisa merem dan istirahat di bus, bisa terealisasikan. Namun faktanya tak semanis itu, karena suasana justeru lebih gaduh dari keberangkatan, apalagi anak-anak, termasuk anak kami, Caca yang baterenya enggak abis-abis, hahahaha.

Oke deh, sampai jumpa di kondangan selanjutnya :D

Anyway, satu pelajaran yang bisa kita petik at another side adalah, bahwa jodoh itu emang udah disiapkan sama Allah.

So, no need to worry, kalau sekarang belum bertemu jodohnya. Bisa saja, ternyata jodoh kita teman waktu sekolah dasar, atau teman satu profesi, atau teman sehobi, ataupun teman yang bahkan kita enggak pernah ngeh sebelumnya kalau doi itu sealmamater. Hahaha, who knows kan? Yang penting, tetap on the right track aja, alias tetap dalam koridor Allah di manapun kita berada. Sehingga, jauh-jauh deh kita dari predikat perebut kebahagiaan keluarga orang lain. Aamiin.

Laki-laki yang baik, untuk wanita yang baik. Begitupun sebaliknya.

Jadi, siapakah guru selanjutnya yang bakal ngundang? Kita tunggu sama-sama. Hehehe.

Salam,
Djayanti Nakhla Andonesi

PS: foto-foto nyusul diuploadnya ya, one by one dari koleksi pribadi

10 komentar:

  1. Tulisan yang sangat bagus. Saya membacanya seakan-akan ada di dalam cerita tersebut. Wajib langganan blog ini nih saya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih sudah mampir, dan alhamdulillah kalau mau jadi langganan blog saya hehehe.. Maapkan kalau ada konten yang belum bagus :D Doakan biar istiqomah nulis ya :D

      Hapus
  2. Ada2 saja y mbak. Tp setiap perjalanan ada hikmahnya. Apalagi memenuhi undangan, walaupun perjalanannnya melelahkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak,kalau perjalanannya jauh kadang melelahkan tapi seruuuu hehehehe

      Hapus
  3. Bisa jadi dstinasi wisata alternatif nih ya, masjid arifin ilham. Cukup jarangvorg yg mnjadikan masjid sbg tmpat tjuan wisata. Kompleks masjjidnyabternyata jg seru utk dijelajahi ya. Ttg lokasi acara resepsi yg jauh itu anggap aja sebagai acara penjelajahan mbak. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehee iya mbak, kondangannya seru :D

      Tapi emang unik sih mbak, kawasan masjid Adz-dzikra. Selain lokasinya yang keren, eh ditambah ada wahana pacuan kuda juga di deket masjid. Edutour banget jadinya :D

      Hapus
  4. Waaah... kapan yak bisa ke bogor juga aku... dari dulu pengen kesana tapi belum kesampean

    BalasHapus
    Balasan
    1. Loh emang masbro ini orang mana to? smoga segera kesampean k bogor deh kalau gitu :D

      Hapus
  5. semacam mengikuti perjalanan mbak djayanti.. runtut dan terasa serunya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah alhamdulillah mbak kalau feel nya dapet, 😘

      Hapus

Dari Rimba Afrika sampai Konstantinopel

‘Meledak!’ Satu kata yang paling mewakili isi buku ini, menurut saya. Eits, bukan isinya anarkis apalagi radikalis. Meledak yang saya ...