Reportase Sementara Grandparenting Kemarin



                   Alhamdulillah, akhirnya terlaksana sudah hajatan besar TQ Mutiara Hati di bulan Juni tahun 2019. Yakni kegiatan grandparenting yang memang sudah biasa diadakan setiap tahunnya. Dan tahun ini, adalah tahun ke empat kegiatan tersebut dilakukan. Berbeda dari sebelumnya, tahun ini Grandparentingnya diadakan di ball room sebuah hotel ciamik, di Karawang.



Peserta yang datang juga dari berbagai penjuru angin. Hehehe. Ada yang dari Jekardah eh Jakarta, ada yang dari Bekasi, ada yang dari Sawangan, bahkan ada juga yang dari Subang. Keren-keren. Mereka sesemangat itu, padahal jarak yang ditempuh juga lumayan jauh. Maka dari itu, yang jarak dekat pun tidak mau kalah semangat. Mantap jiwa. *Uplous yang meriah untuk semua peserta*

Dan alhamdulillah semua peserta sangat antusias mengikuti grandparenting ini. Bagaimana tidak antusias, wong yang menjadi pembicaranya adalah seorang praktisi pendidikan alias pegiat home education terkenal sekaligus penulis buku, Teh Kiki Barkiah. Plus, tema yang dibahas adalah tema yang super duper penting. Yakni, mempersiapkan Akil Baligh Sejak Dini.


Eits, apakah yang mengikuti seminar ini hanya untuk kalangan yang sudah jadi emak-emak?   yang sudah jadi bapak-bapak, saja? Nope. Tema Grandparenting kemarin justeru sangat-sangat penting bagi semua kalangan, termasuk bagi semua orang yang merasa masih gadis atau jejaka. Agar apa? Agar ketika sudah berkeluarga, mereka punya pegangan ilmu yang sangat penting untuk diterapkan.

And you know what? Yang kemarin hadir di GP itu, ada peserta termuda, I mean, bukan anak-anak ya, tapi memang doi ini remaja. Inisialnya F. Setelah mengikuti Grandparenting kemarin itu, doi jadi makin mantap untuk terus mengembangkan diri untuk siap menjadi suami plus ayah yang baik kelak, bahkan doi ini sudah punya time line hidup alias planning rinci selama 30 tahun ke depan. Padahal usia doi masih 17an kurang. Wuiiihh... udah mah anaknya cakep, pinter ngaji/saritilawah (yang ikut acara GP, pasti ngeh maksudnya F ini yang mana, hehehe), pandai menjaga diri, dan visioner pula. Ya ampun, mantu idaman para emak-emak tuh. Hehehe.

Nah, tentu saja untuk menjadikan pemuda-pemudi kita menjadi generasi yang tidak mudah gamang, tidak loyo, tidak gampang diombang-ambing tren,  yang mestinya visioner sekaligus sadar diri, sadar batasan sekaligus sadar tujuannya diciptakan di muka bumi ini –menjadi kholifah fil arld--, tidak akan terwujud bila kita tidak mempersiapkan Akil Balighnya sejak dini.

Lalu, seberapa penting sih, kita harus mempersiapkan Aqil baligh sejak dini? Dan bagaimana langkah-langkahnya?


Begini. Seperti yang Teh Kibar –sapaan akrab pembicara-- paparkan, mempersiapkan baligh bukan sekadar mengajarkan anak mencuci darah haid dan mandi wajib. Karena, mempersiapkan aqil baligh artinya sebuah proses panjang mempersiapkan mereka siap memikul beban.

Yang perlu digaris bawahi adalah, fase remaja dalam Islam itu tidak ada fase galau, coba-coba, buang-buang waktu enggak jelas, seperti pacaran, tawuran, dll. Karena, setiap mukallaf (sudah akil baligh) harus sudah siap menjadi hamba Allah untuk mengikuti perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Jadi, seorang mukallaf itu sudah dihitung alias sudah dihisab amal perbuatannya.

Masalahnya sekarang:

  • banyak yang sudah baligh tapi belum siap aqilnya. Salah satu contohnya ya, tidak tahu batasan antara laki-laki dan perempuan dalam koridor Islam, sehingga banyak terjadi kasus amoral, dll.

Atau dalam hal pola pikir pun demikian. Ada yang sudah baligh, tapi belum dewasa. Bahkan tidak sedikit yang sudah tua pun, dewasa mentalnya belum tercapai. *uhuk, auto lihat KTP, ngecek tanggal lahir, udeh tuwir atau belum ya akooh :D*

  • anak-anak baligh lebih cepat.

Jadi, guys, kita ini sebenarnya berkejaran dengan waktu. Kalau anak-anak sudah keluar air mani atau haid, itu artinya mereka sudah harus melaksanakan tanggungjawab sebagai “khalifah fil ‘arld’’ dengan baik. Jadi, misal, anak-anak sudah baligh di usia 10 tahun, artinya kita hanya punya waktu sesingkat itu segera menanamkan rasa taqwa dan cinta terhadap kebaikan pada mereka sebelum usianya genap 10 tahun.

Bisa dibayangkan kalau kita tidak bisa menanamkan pondasi agama dan kemandirian pada anak. Akan jadi generasi seperti apa mereka nanti? Akan jadi apa dunia ini jika dipimpin oleh mereka yang tidak bertaqwa dan tidak berdikari?

Well, idealnya, kita sebagai orangtua –dan para calon orang tua—harus bisa menanamkan rasa ketaqwaan dan kemandirian sejak dini. Sebelum  masa baligh mereka tiba.

Sehingga, ketika mereka sudah baligh –yang notabene sudah jadi seorang mukallaf—mereka mampu mengemban tugas dengan baik, mampu memfilter mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan sesuai dengan syari’at Islam. Karena sungguh, Islam sudah sesempurna itu mengatur seluruh aspek kehidupan kita.

Nah, langkah-langkah yang harus dilakukan apa, ya? Karena ada 10 metode pendidikan dan kumpulan “prinsip T” yang mampu mengantarkan anak-anak ke jenjang aqil baligh dengan baik.

Metode dan prinsip apakah ituuuu?

Tunggu postingan selanjutnya, ya, kalau sempat, huehuehe. Atau pantengin terus update-an postingan ini, siapa tahu saya updatenya tetap di postingan ini. ^__^

Oh, mau langsung diposting secepatnya? Hm... Makanya ikuti langsung kalau ada acara parenting lagi ya guys, supaya dapat ilmunya langsung full :D plus, kalau ikutan langsung, bisa dapat dorprize yang buanyak banget!

See, kalau mengandalkan reportase gini, punten wayahna ya guys, gimana sempetnya yang nulis aja, enggak apa-apa, kan? Hehehe. Mohon bersabar, ini ujian! *pakAniesModeOn:D

Djayanti Nakhla,
Emak-emak yang sedang belajar

Reportase Sementara Grandparenting Kemarin

                   Alhamdulillah, akhirnya terlaksana sudah hajatan besar TQ Mutiara Hati di bulan Juni tahun 2019. Yakni kegiatan gr...