Selasa, 07 Juni 2016

Review film Kungfu Panda season 3



Pernah menonton Kungfu Panda? Saya pernah. Tapi, saya tidak mengikuti dari seri pertama. Yang saya tonton bahkan langsung ke Kungfu Panda season 3. Karena, yang ada di kompi cuma season itu. Hahaha.
Walaupun begitu. Saya sangat menikmati ceritanya. 
sumber gambar dari sini
 

Betapa polosnya Po si panda besar yang lucu itu. Dia berguru di perguruan Oogway. Oogway sendiri telah lama meninggal. Maka, estafet keguruan dilanjutkan oleh Shifu. Oogway menitipkan sebuah pesan alam kepada Shifu. Tentang, sesuatu yang luar biasa, yang ada pada diri Po. Sampai-sampai Oogway menjulukinya dengan sebutan Kesatria Naga.

Namun, walaupun tahu Po dijuluki Kesatria Naga, bahkan bangga dengan nama itu, Po sendiri tak pernah mampu untuk mengetahui apakah sesuatu yang luar biasa pada dirinya itu. Po, tak pernah tahu apa maksud dari Kesatria Naga itu sendiri.
Hanya saja, Shifu sering mengingatkan, bahwa untuk mengetahui apa sebenarnya Kesatria Naga, Po harus tahu jati dirinya sendiri.

Jati Diri? Ah, Po meradang. Pasalnya, dia belum tahu jati dirinya sendiri. Apalagi selama ini, sebagai seekor Panda, Po justeru diasuh oleh seekor Angsa. Ya, selama dua puluh tahun, Po hanya tahu bahwa dia berasal dari telur. Sampai pada akhirnya, Angsa tersebut memberitahukan fakta yang sebenarnya, bahwa Po adalah seekor Panda, bukan seekor Angsa. Po pun akhirnya tahu bahwa Ayahnya yang selama ini telah membesarkannya, bukanlah Ayah kandungnya. Ayah kandung Po di mana?

Pertanyaan itu terjawab sudah akhirnya. Ayah Po yang bernama Li Shan, akhirnya berhasil menemukan Po, bayi pandanya yang dulu ia beri nama Lotus Kecil.

Alur cerita begitu menarik. Dan tentu saja lucu.

Baru saja Po kegirangan memperkenalkan semua yang ada di dalam perguruannya pada sang Ayah Panda, tiba-tiba ada serangan datang. Makhluk-makhluk jahat berbentuk giok zombie, menyerang Lembah. 

Po dan kawan-kawan seperguruannya, Tigress, Crane, Mantis, Vipper, dan Monkey serta Shifu pun melawan. Namun, ketika mereka nyaris menangkapnya, justeru ada suara lain dari makhluk itu, yang menyebut dirinya sebagai Kai. Dan makhluk jahat berwarna hijau itupun mendadak lenyap seperti asap ditelan angin.

Shifu bersama Po n the Genk mencari referensi, siapakah sebenarnya Kai itu? Setelah hampir gila karena tak juga menemukan, akhirnya referensi mengenai Kai pun terbaca.

Ternyata, Kai dulunya adalah saudara seperjuangan Oogway. Kai adalah teman dekat Oogway. Kai dulunya baik. Bahkan Kai pulalah yang berusaha mencari pengobatan agar Oogway yang ketika itu terluka parah. Dan mereka akhirnya sampai di sebuah desa rahasia Panda nun jauh di atas pegunungan sana.
Para Panda itu, ternyata memang bisa menyembuhkan Oogway, dengan kekuatan Chi yang mereka miliki.
  
Lanjut dari referensi yang mereka baca, Oogway menuliskan di ‘buku diary’ nya, bahwa saat Para Panda itu menyembuhkan Oogway dengan kekuatan Chi. Melihat kekuatan itu, Kai justeru mengingikannya untuk kepentingan dirinya sendiri. Bahkan Kai pun membunuh para Panda yang baik hati itu.
Oogway tentu tak tinggal diam. Dia yang baru saja sembuh, kemudian berusaha menghentikan ulah Kai. Saudara seperjuangan itu pun akhirnya berperang. Dan akhirnya Oogway menang. Sementara Kai dilemparkan ke alam Roh.

Oogway pun menulis bahwa suatu saat, Kai bisa saja kembali ke dunia ini. Dengan obsesi jahatnya, tentu saja. Namun, Oogway menegaskan, bahwa hanya Master Chi sejati yang mampu mengenyahkan Kai.

“Chi? Apa itu Chi?” tanya Po beberapa waktu lalu sebelum mereka diserang oleh Kai, pada saat Shifu berhasil mempraktekan Chi nya hingga sebuah bunga yang layu bisa berkembang kembali dengan indah.

Shifu bilang, Chi adalah kekuatan yang mengalir pada setiap makhluk hidup. Dan Chi bisa didapatkan ketika kita mampu mengendalikan diri. Shifu sendiri baru berhasil memekarkan bunga yang layu itu, dan butuh 30 tahun untuk melatihnya.

               Po pun langsung berteriak, bahwa Master Chi itu adalah Shifu. Namun, Shifu mengelak. Bukanlah dirinya, melainkan Po lah yang bisa jadi Master Chi sejati. Seperti yang telah diprediksikan oleh Oogway, dan itulah mengapa Oogway menjuluki Po sebagai Kesatria Naga.

               Po kembali stress. Bagaimana mungkin dia bisa menjadi Master Chi sejati? Karena, mengajarkan Genknya kungfu saja yang ada malah kacau balau? Po memang bisa kungfu. Tapi, mengajar kungfu? Lalu menjadi Master Chi? Bagaimana bisa?

               Ditengah kegalauan Po dan the Genk, Ayah Kandung Po, Li Shan, memberanikan diri untuk bicara. Bahwasannya dia bisa menjadikan Po sebagai Master Chi Sejati.

“Benarkah?” tanya Po ragu.

“Tentu. Karena aku panda.” Jawab Li shan, mengingat Master Chi sejati yang diceritakan Oogway memang berasal dari kaum Panda.

Syaratnya, Po harus ikut pulang ke desa Panda. Dan menemukan jati dirinya di sana. Karena, Master Chi sejati harus tahu dulu apa jati dirinya, sebagaimana yang dijelaskan Shifu.
Akhirnya, Po pun pulang. Walaupun Ayah angkatnya keberatan. Dan ternyata sang ayah Angkat menyelinap masuk ke dalam tas Po. Dengan kata lain, Ayah Angsa memaksa ikut bersama Po dan Li Shan.

Sesampainya di desa Panda, Po benar-benar berusaha menjadi seekor Panda. Karena selama ini, dia berprilaku tak seperti Panda umumnya. Dan setiap Po ingin latihan Chi pada Ayah kandungnya, Li Shan selalu mengatakan bahwa ini belum waktunya.

Sementara, teman-teman Po sudah menjadi korban Kai. Karena Kai menyerang lebih cepat ke istana perguruan Oogway. Kai menghancurkan istana dan membuat Shifu bersama Genknya Po menjadi zombie giok yang ‘telah dicuci otaknya agar menurut terhadap perintah Kai’.
Namun untungnya, Tigress selamat. Dan Shifu sempat mengingatkan Tigress untuk segera menyusul Po. Berharap Po telah berhasil menjadi Master Of Chi.

                Hal-hal konyol, lucu, sekaligus mengaharukan mengiringi alur cerita besutan Dreamworks Animation ini.

                Semangat Po untuk bisa mempelajari Chi sangat menggebu. Dan pada saat yang tak disangka-sangka, Tigress sudah tiba di hadapannya. Po pun kaget dengan kabar yang dibawa Tigress, bahwa semua teman-temannya telah diambil oleh Kai. Bahkan, Kai pun sekarang sedang mengincar Po dan seluruh Panda yang ada di sana.

Sontak, Li Shan menyuruh semuanya mengamankan diri. Po mengejar Ayahnya, ingin segera diajarkan Chi. Namun, sang Ayah terus saja menghindar. Hingga akhirnya, Li Shan mengatakan yang sejujurnya, bahwa Ayahnya tidak bisa mengajarkan Chi. Mungkin para pendahulu Panda bisa melakukannya, namun generasi Ayahnya sudah tak mempelajarinya lagi.

Po pun kecewa, bingung dan merasa bersalah. Kecewa, karena Ayahnya tak jujur dari awal. Bingung, bagaimana dia harus melawan Kai sementara apa-apa tentang Chi saja dia tidak tahu. Dan merasa bersalah, karena julukan Kesatria Naga melekat padanya sementara dia belum mengerti apa yang harus dilakukan.

Namun, tiba-tiba, kedua ayahnya, juga seluruh Panda siap menjadi tim Po. Dan Po akhirnya menemukan apa yang dimaksud Shifu, bahwa jadilah diri sendiri. Sehingga, ketika seluruh Panda minta diajarkan kungfu pada Po, Po mengajarinya sesuai dengan kemampuan masing-masing, tanpa melupakan kodratnya sebagai Panda. Po akhirnya menemukan jati diri yang sebenarnya.

                Awalnya Po hampir kalah, namun berkat panduan yang ada, Po dan seluruh Panda pun akhirnya bisa mempraktekan Chi. Bahkan Po, benar-benar mahir menjadi Master Of Chi. Kai pun berhasil dikalahkan. Dan teman-temannya yang sempat ‘diculik’ Kai, berhasil di kembalikan.
Hingga, Po dan segenap penjuru Lembah, bisa mahir kungfu dan menguasai Chi. Dan dengan Chi itulah, setiap penjuru lembah menjadi lebih indah, lebih damai. Bahkan tumbuh-tumbuhan yang layu di seantero lembah pun menjadi segar kembali.

Film ini adalah animasi yang saya beri nilai 9 dari 10. Karena, film ini bisa dijangkau anak-anak. Sekalipun pangsa sebenarnya adalah orang dewasa. 
Dan saya baru tahu, kalau Jackie Chan, aktor laga favorit saya, ikut menjadi pengisi suara di film ini, hehehe.

                Banyak hal yang bisa dipetik di sini. Seperti kasih sayang orangtua kepada anaknya, sekalipun dia bukan orangtua kandung. Tentang belajar menghargai keputusan, mencari solusi, pantang menyerah, belajar percaya diri dan kesungguhan memahami jati diri sendiri kemudian melaksanakan amanah yang telah digariskan. Dan yang paling utama hikmah dari cerita ini adalah mengenai pengendalian diri.

Nah, jadi? Sudahkah kita menceklis semua hal yang tercermin dalam hikmah itu pada diri kita?

Salam, 
Djayanti Nakhla Andonesi
^_^