Sempat kecewa gitu sama provider ini, tapi ternyata bisa juga…



Ditemani oleh suami dan anak-anak, saya pergi ke salah satu gallery sebuah provider. Udah sering sih, bolak-balik kesini. Seperti ketika mencoba mengaktifkan kembali kartu yang terlanjur terblokir. Tapi, unfortunately, enggak bisa. Dikarenakan…  (nanti deh ditulis dipostingan lain, ya)

Nah, kali ini, kita niatnya mau minta tolong ngebenerin paket datanya Mama, karena udah diisi pulsa sekitar seratus ribu lebih, tapi koq pulsanya enggak bisa diapa-apain. Dipaketin dengan nominal berapapun enggak bisa, ditransfer pulsanya pun enggak bisa. Malah, berkurang sekian rupiah dari awal mengisi, padahal sudah meng-offkan data seluler.

Biasanya gampang koq kalaupun kita maketin sendiri. Enggak ada kendala kayak gini. Makanya saya penasaran ingin langsung menghubungi Customer Service.



Eh tapi, pas udah sampe sana, keluhan kami enggak bisa ‘diurus’. Dikarenakan, Mama –si pemilik nomor hape yang bermasalah, enggak ikut. Padahal saya udah bawa KTP asli MAMa dan hapenya, supaya bisa langsung diperbaiki paket datanya.

Agak kecewa sih, karena ternyata enggak bisa walaupun sudah diwakili saya yang notabene anaknya, hehehe.

“Jangankan anaknya bu, suaminya pun enggak bisa, harus sama yang punya KTPnya.” Kata petugas CS.

“Yah, Mama saya lagi enggak bisa ikut, mbak.” Saya mengiba.

“Maaf, bu. Kalaupun mau diwakilin, harus bikin surat kuasa bermaterai.” Jawab sang CS.

Duileeeee. Makin ribet, ya, tibang mau benerin paket data doang, gumam saya. Si mbak CS nya jadi agak canggung gitu. Mungkin karena ngerasa enggak enak, kali ya.

“Ada saran lain enggak mbak?” tanya saya lagi.

“Hm,” si mbak nampak mikir, “Coba aja sim-cardnya di masukkin ke hp jadul, terus aktifasinya di hape jadul itu, kalau udah ada respon dari provider dan aktif paket datanya baru deh dipindahin ke hp androidnya.”

“Oh, gitu, ya, mbak.” Sahut saya.

Si mbak CS memberikan KTP Mama saya.

“Oh, yaudah deh, makasih, mbak.” Saya menerimanya dengan agak kecewa dan mikir, mau minjem hape jadul kemana, kan hp jadul kita udah pada rusak, apalagi chargerannya udah kebanting-banting dimainin bocah, haghaghag.

Kami pun keluar dari ruangan bernuansa kuning yang ada di salah satu Mall di bilangan Telukjambe itu.

Nah, jadi gitu, guys, kalau mau benerin apa-apa soal sim-card atau no hp, harus orang yang sesuai dengan KTP nya yang datang langsung ke gallery. Aturannya gitu. Enggak bisa diganggu gugat. Kecuali kalau mau bikin surat kuasa plus materai, baru kita boleh mewakili dengan catatan KTP asli pemilik nomor atau sim-cardnya harus dibawa serta.

“Mi, kita mau kemana lagi?” tanya suami setelah kami berjalan jauh dari gallery itu.

“Pulang.” Jawab saya pendek.

Suami saya paham banget kalau jawaban yang keluar hanya seperlunya, berarti saya lagi bueteee. Haghaghag.

Sesampainya di parkiran,

“Mami, masa kita enggak beli apa-apa, sih?” itu bukan pertanyaan dari suami saya, tapi sebuah protes dari anak sulung saya yang baru berusia 4 tahun. Hahaha.


Saya jadi nyengir mendengarnya. “Nanti lagi aja, ya.”

“Mami,” nah itu suara suami saya manggil dari belakang, karena emang sejak dari ruangan gallery itu, jalan saya teramat cepat ingin sampai rumah, hahaha.

Saya menoleh kepadanya.

Suami saya mengangkat-angkat alisnya, “Mami, gimana kalau kita ke bakmi Jawa? Mau enggak?”
Tawaran yang menyenangkan dan sangat dibutuhkan istrinya di saat-saat bete seperti ini, hehehe. 

Saya nyengir lebar, karena persekian detik yang lalu, saya memang sedang membayangkan, kayaknya enak makan mie Jawa biar enggak bete. Eh ternyata doi ngajak makan itu pisan, jadi kayak ada semacam gelombang elektromagnetik yang menyambungkan, #hazek.

“Yeh, mau enggak?” Suami saya membuyarkan lamunan saya.
Lalu dia mendahului langkah saya yang sedang menggendong dede Rara, “Yaudah kalau enggak mau.”

“Mauuu laaah.” Saya akhirnya tertawa.


Sesampainya di rumah, dan setelah tamu yang membeli herba-herba hni hpai pulang, saya pun iseng-iseng memindahkan Sim-card Mama ke slot sim ke dua, karena kebetulan hp yang dipegang Mama dual sim, dan yang satunya kosong.

Kalau Mbak CS kan bilangnya harus ganti ke hape jadul dulu, tapi masalahnya, kami hape jadul kami rusak, jadi saya berinisiatif untuk mencoba mengganti tempat ke slot sim di hp android yang sama. Susuganan weh kitu. Mun tiasa alhamdulillah, mun henteu mah nyaaaa wayahna, urang teangan deui Gallery nu sanes. Hehehe. Karena kebetulan, kita baru ngeh juga, kalau gallery provider untuk di Karawang ini, cabangnya ada yang berlokasi di daerah Rawagabus.

Klik.

Saya baru saja memasangkan chasing hape Mama kembali, sudah saya tukar Sim cardnya, ke slot ke dua yang notabene kosong enggak diisi kartu lain.

Saya coba registrasi paket data, dengan status data seluler di offkan. Dan, boom!

Eh enggak boom sih bunyinya, biasa aja bunyi sms masuk. Isinya : Registrasi paket data Anda sedang diproses. Lalu disusul ucapan-ucapan selamat dari dirinya, eh dari providernyah maksudnya, yang menyatakan bahwa paket datanya berhasil diaktifkan. Enggak jadi hangus pulsanya, hehehe.
Alhamdulillah, ternyata saran dari Mbak CS nya berhasil saya modif dengan  baik, makasih mbak CS!

Oke deh, semoga tulisan yang seluruhnya curhat ini ada manfaatnya, hahaha.

Salam,
Djayanti Nakhla Andonesi

Tahun Baru 1440 Hijriah, Apa Saja Yang Akan Ditargetkan?

Alhamdulillah kita sudah memasuki tahun baru Hijriah yang ke 1440. Saya pun merenung. Apa saja yang telah saya lakukan selama setahun ke bel...