Mayako Matsumoto Vs ‘Rezeki anak sholeh’



Beberapa hari yang lalu, teman dekat saya, bercerita bahwa anaknya yang baru kelas satu SD, dibekali tempat minum Tupperware, hilang di dalam kelas.

Sebenarnya awalnya begini, ketika keluar dari kelas dan baru sampai gerbang sekolah, teman saya ngeh, koq botol Tupperware yang dibawa anaknya enggak ada di tas. Lalu,
segeralah teman saya dan anaknya itu kembali ke kelas. Eh, ternyata botolnya sudah tidak ada. Dicari disetiap kolong bangku pun tak ditemukan. Ya ampun, padahal ketinggalannya baru beberapa meter doang. Tapi subhanallah, sudah raib entah kemana. Meski sudah ditanya sana-sini, tapi enggak ada yang tahu.


Gambar terkait
sumber gambar di sini


Guys, tahu kan Tupperware. Plastik yang paling bikin emak-emak jadi amat sangat teliti. Karena emang harganya juga lumayan, bo. Hehehe.

Wajarlah, kalau kita kaum emak, nampak menjaga ketat keberadaan barang yang satu itu. Enggak peduli walaupun kaum bapak bilang, ‘ealah Cuma plastik dong.’ Dan ini bahkan seringkali jadi miskomunikasi antara para bapak dan ibu. Sampai-sampai bapak-bapak jika dibawakan benda itu, mesti menerima sekian kali ocehan istrinya yang mengingatkan untuk menjaga Tupperware dengan baik dan benar dan selamat sampai di rumah. Hehehe.

Anyway, saya nyebutin Tupperware gini bukan karena diendors ya, hahaha. Ya kali kalaupun ada tim Tupperware mau endorse di blog saya, boleh lah, nanti langsung japri via email ya! #GeERlevelDewa. Wkwkwkwk.

Kejadian Tupperware hilang dan enggak balik lagi itu enggak Cuma satu kali doang. Enggak Cuma dialami sama teman saya aja. Saya juga pernah kehilangan Tupperware. Rasanya emang enggak enak. Tapi, masih mending kehilangan Tupperware sih, daripada kehilangan kamu. Eaaaa. Ngok.

Nah, masalahnya adalah, di lingkungan kita bebanyakan, enggak Cuma kasus Tupperware aja yang hilang terus enggak balik lagi. Banyak juga barang lainnya yang sering kali, harapan untuk bisa kembali lagi dengan selamat, 50 persen ke bawah.

Beda dengan  dengan yang terjadi di Jepang. Seperti dilansir dari sini (https://amp.tirto.id//budaya-jujur-di-jepang-sudah-diasah-sejak-dini-ctmi) seorang anak bernama Mayako Matsumoto mengembalikkan sebuah dompet berisi sekitar 100 dolar AS kepada pihak kepolisian dengan ditemani oleh ibunya.

Enggak Cuma soal dompet, soal barang-barang lainnya seperti laptop, bahkan payung, seperti yang dikisahkan di berita-berita lainnya, yang walaupun harganya enggak seberapa, tapi tetap dikembalikkan pada yang memilikinya, minimal menitipkannya kepada kepolisian, dan emang dijamin amanah sih.

Nah, solusinya gimana nih?


Hasil gambar untuk gambar kartun menemukan
sumber gambar dari sini

Pertama, 


emang harus dimulai sejak dini. Dimulai dari lingkup keluarga. So, penting banget bagi kita para orang tua untuk menjadikan diri kita teladan bagi anak-anak kita. Jangan dibiasakan kalau nemu sesuatu dijalan, “wah, rezeki anak sholeh!” seberapapun harga nominalnya. Kontradiksi banget lah. Mana mungkin orang sholeh asal comot barang yang bukan haknya? Hehehe. Lah iya kan? Karena toh, barang temuan itu bukan milik kita.

Kedua, 

sering-sering diberikan edukasi menarik mengenai kejujuran. Nah di sini, peran pekerja kreatif, menjadi sangat membantu. Seperti halnya serial Dodo dan Syamil. Ada di salah satu serialnya yang menginspirasi hal itu. Atau bacaan buku dan dongen-dongeng yang menginpirasikan tentang kejujuran.

Beberapa waktu lalu, salah satu channel youtuber Indonesia, juga melakukan sosial eksperimen sosial, mengenai tes kejujuran ini. Ria ricis dan teamnya, membuat adegan seolah-olah ada uang jatuh. Hanya untuk mengetes, apakah yang melihat uang jatuh tersebut akan berusaha mencari siapa pemiliknya lalu mengembalikkannya,atau justeru malah diambil untuk jajan sendiri. Dan hasil sosial eksperimen itu ternyata variatif. Kalau boleh memberi rating pun, tayangan sosial eksperimen semacam itu, juga bisa mengedukasi masyarakat.

Ketiga, 

adanya teladan dari public figure
Bicara moral emang enggak ada habisnya. Maka, alangkah bijaknya, kalau setiap public figure, entah itu pemerintahan atau tokoh-tokoh terkenal, mampu mencontohkan kejujuran ini pada seluruh masyarakat.

Nah, bagi umat muslim, sebenarnya sudah ada contohnya sejak dahulu kala. Karena, rosulullah saw, adalah sebenar-sebenar suri tauladan yang baik, bahkan sebelum menjadi nabi pun, beliau sudah mendapatkan gelar AL-amin, karena kejujurannya.
Maka, alangkah ironisnya, bila kita sebagai umat Rosulullah, belum mau menjalankan kesadaran untuk senantiasa jujur.

Keempat, 


kurikulum moral.

Hehehe, bicara kurikulum juga enggak ada habisnya. Karena, biasanya ganti menteri ya ganti lagi kebijakannya.

Nah, alangkah kerennya kalau di setiap instansi atau lembaga pendidikan, lebih konsen lagi untuk menerapkan moral yang baik. Bukan sekadar teori. Seperti yang sering diceritakan oleh suami saya, bahwa di sekolah alam Amani Karawang, juga sangat konsen dengan penerapan pendidikan moral ini.

Nah, buibu, pakbapak, penting juga nih, survey sekolah yang bisa membimbing anak-anak kita jadi peduli dengan morality. Eits, tentu saja, bukan berarti setelah kita menemukan sekolah yang ideal, kita lantas menyerahkan segala tanggungjawab edukasi pada sekolah. Karena, seideal apapun sebuah sekolah, tetap para orangtua atau wali anak yang menjadi benteng terakhir pada proses pembelajaran anak.

Saya sangat bangga dan salut pada mereka yang senantiasa jujur kapanpun dan dimana pun. Lalu bagaimana dengan yang pernah tidak jujur? Okay, yang lalu biarlah berlalu. Kita mungkin pernah khilaf, pernah tidak jujur yang hanya kita dan TUhan yang saja yang mengetahuinya. Namun, alangkah lebih baik lagi, setelah ini, kita sama-sama untuk berusaha jujur, bahkan ketika menemukan barang semurah apapun di tempat yang paling sepi sekalipun.

Ternyata pendidikan karakter, moral, terutama kejujuran sejak dini emang penting banget. Dan yang pasti harus diimbangi dengan lingkungan yang juga serius ingin menjadi bangsa yang lebih bermoral. Kalau kejujuran sudah ditanamkan sejak dini, bukan tidak mungkin korupsi yang ada di negeri ini juga akan berkurang. Insya Allah.

Emang enggak gampang sih. Tapi juga bukan tidak mungkin kita bisa menerapkannya. Istilahnya nih, masa negara Jepang yang notabene ‘atheis’ saja bisa mengaplikasikan kejujuran, kita yang negara nya mayoritas muslim ini,  masa enggak bisa? So, jawabannya adalah harus lebih bisa lagi. Insya Allah pasti bisa. #optimisPrime, eh itu mah optimus :D


Gambar terkaitsumber gambar di sini


Dan ternyata tepat sekali pepatah lama yang menyebutkan, bahwa perubahan itu ibda' bin nafsik, dimulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, dan mulai dari sekarang.

See, setelah ini, semoga enggak ada lagi yang teriak “rezeki anak sholeh” ketika menemukan sesuatu yang bukan haknya. Malu sama Mayako.


Salam,

Djayanti Nakhla Andonesi


22 komentar:

  1. Bener banget, memang sebaiknya kita menyadari batasan hak kita dengan hak orang lain. dan ini harus mulai di tanamkan pada anak sejak dini

    BalasHapus
  2. Wah... hati2 bener ya pake kalimat "rezeki anak soleh". Yap, orangtua harus memberikan contoh dan menjadi teladan yang baik untuk anak-anaknya

    BalasHapus
  3. Iya mulai dari diri sendiri kalau hanya asal tunjuk tapi diri sendiri tidak mau berubah dengan kebiasaan salah dan buruk , bahaya sekali nantinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, semua harus dimulai dari diri sendiri ya ❤

      Hapus
  4. Rezeki anak sholeh ini yg akhirnya memunculkan koruptor2 kakap di Indonesia. Hiy, jangan sampai. Jujur dan amanah afalah dua hal yg penting, semoga kita dan keturunan kita mampu mengamalkannya.

    BalasHapus
  5. Benar banget sering baca komik Korea dan Jepang, kalau ada barang kayak dompet, bungkusan dll ilang, carinya di pos polisi ada yang balikin biasanya, amazing

    BalasHapus
    Balasan
    1. Termasuk komik Chibi maruko chan ya mbak hehehe

      Hapus
  6. Aku jarang sih bilang itu apalagi teriak, hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. πŸ‘
      Iya mbak, lagian kan jadi kontradiktif yak πŸ˜„

      Hapus
  7. Rejeki anak soleh... semoga gak ada unsur pamer ketika kita mengucapkan kalimat itu

    BalasHapus
  8. miris yaa.. kalau di Jepang dan negara maju lainnya ada benda2 yg ketinggalan dan memang tidak tahu siapa pemiliknya biasanya lsg diserahkan ke pos satpam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, di sini pun harus digalakkan bersama perihal itu

      Hapus
  9. MasyaAllah masih ada orang yang seperti ini mba, semoga kelak anak anak kita berjiwa besar yah

    BalasHapus
  10. Cuma gara-gara tupperware uruanya bisa panjang banget gini ya wkwk.
    Tapi jadi banyak pelajaran yang didapat :)

    BalasHapus
  11. setuju banget sama tulisan ini. pr juga nih buatku biar bisa mengajarkan nilai-nilai yang baik ke anakku nanti

    BalasHapus

Dari Rimba Afrika sampai Konstantinopel

‘Meledak!’ Satu kata yang paling mewakili isi buku ini, menurut saya. Eits, bukan isinya anarkis apalagi radikalis. Meledak yang saya ...