Rabu, 12 Desember 2012

Kesepakatan 12-12-12

Tulisan ini dipindahkan dari akun wordpress saya

***

Jam 12 teng!
Tanggalpun berganti, menjadi 12-12-12.
Was-was menyelimuti wanita berkerudung coklat itu. Hari yang cukup tegang, pikirnya.
Hatinya ketar-ketir. Sudah kesekian kalinya ia hampir spot jantung berada di antara teriakan utusan perserikatan.
Dimulai dengan lagu Bongkar besutan Iwan Fals, yang bertalu-talu memenuhi udara sebuah Perusahaan. Para buruh berseragam laut itu digiring ke depan gedung. Mereka bagai semut yang keluar dari sarangnya. Banyak sekali.  Ada lebih dari seribu orang jumlahnya. Mengorasikan sesuatu.
Tak lama, kaum hawa diungsikan semua ke dalam Masjid. Wanita berkerudung coklat itu berkali-kali bicara pada salah satu utusan perserikatan. Berharap kaum hawa dipulangkan saja. Apalagi yang baru saja selesai sift dua, pasti mereka lelah ingin segera melenturkan ototnya. Tapi, tidak bisa. Tidak ada bus jemputan yang bersedia mengantarkan mereka. Dan belum ada instruksi untuk membolehkan mereka beranjak dari sana, meskipun mereka adalah wanita. Sampai sebuah kesepakatan didapatkan.
“Maaf ga bisa, Teh! Biar ngerasain perjuangan yang lain juga. Kan udah dikasih keringanan diungsikan ke dalam Masjid,” ujar salah satu utusan perserikatan. Baiklah, tak ada pilihan lain, wanita berkerudung coklat itu, akhirnya manut juga untuk tetap diam di dalam Masjid.
Dipandanginya setiap sudut Masjid yang baru berdiri satu tahun yang lalu itu. Warna putih mendominasi bangunannya. Ada dua lantai. Lantai atas menjadi tempat mengungsi mereka.
“Udah lama aku pengen masuk ke Masjid ini lagi. Dan sekarang, aku dsini. Tapi gak pengen kayak gini caranya…” wanita berkerudung coklat itu bicara pada tembok. Berharap Masjid itu memaklumi kedatangan mereka yang mendadak begitu rupa.
“Kapan pulangnya ini, Teteh?” pertanyaan yang berulang kali terdengar. Entah itu dari yang muda ataupun yang sudah lebih lama bekerja di sana.
Wanita berkerudung coklat itu menggelengkan kepala dengan lemah. Selain kantuk, di pelupuk matanya terbayang tugas makalah yang belum rampung ia kerjakan. Sedangkan tak ada yang bisa menjamin sampai kapan ia bertahan di sana.
“Udah mending kita tidur aja! Daripada nangis gitu.” Hiburnya pada salah satu kawannya yang baru dua minggu bekerja di Perusahaan itu. Masih fresh graduate.Pasti belum pernah tergambarkan suasana tegang seperti ini di benaknya.
“Ga bisa tidur, Teh,” keluh salahsatu anggota pengungsi itu.
Wanita berkerudung coklat itu mengerti. Lantai dingin tanpa alas begini, tak memungkinkan mereka untuk tidur menyenyakkan diri. Ditambah suasana tegang masih mengudara di sana.
Para kaum pria, sedang berkoar-koar di bawah sana. Di ujung depan gedung Perusahaannya.
Bahkan issuenya, tak ada yang boleh pulang sampai dua hari ke depan bila kesepakatan tak didapatkan.
Mendengar hal tersebut, Wanita berkerudung coklat itu menelan ludah. Tak berharap lebih lama lagi ketegangan itu berlangsung.
Demi membantu mereka yang di bawah sana, kaum hawa merapat duduk membentuk lingkaran. Mereka bersama-sama berdoa. Semoga apa yang sedang dirundingkan, dapat menuai hasil sebagaimana baiknya. Dan tentu saja, agar mereka bisa lebih cepat pulang dan istirahat di rumah.
Alfaatihah…
Wanita berkerudung coklat itu tercengang, ketika dilihatnya banyak orang, (kaum adam) yang mencoba memejamkan mata untuk sejenak tidur di luar Masjid sana. Beralaskan kardus saja. Berselimutkan angin malam yang menusuk tulang.
“Apa yang sebenarnya arti kesepakatan?” Tanya wanita berkerudung coklat itu tak tega, kepada angin yang meliuk melewatinya.
Subuh menggema, belum ada tanda-tanda kesepakatan juga. Pasokan makananpun belum ada. Lapar dan haus mengusik mereka.
Untuk pertama kalinya, wanita berkerudung coklat itu menyaksikan semburat terbit Matahari di atas Masjid Perusahaannya itu. Subhanallah…
Matahari yang juga ikut berdoa, agar setiap perundingan berakhir dengan sebaik-baiknya.
Pukul enam sudah, dan tak ada lagi yang matanya terpejam, meski sebenarnya tak ada yang benar-benar bisa terpejam dengan tenang.
Demi fokus untuk menyelesaikan perundingan.
Pasokan makanan datang juga akhirnya. Lumayan untuk mengganjal perut mereka. Diamatinya nasi bungkus dihadapannya, wanita berkerudung coklat itu teringat saudaranya yang di luar sana, di luar gedung sana, jauh di tempat kenyamanan sana. Saudaranya yang biasa tidur di kolong jembatan, atau di trotoar jalanan, atau di depan ruko-ruko yang entah sudah menemukan sarapan atau belum seperti dirinya.
Tiba-tiba perutnya melilit, bukan karena nasinya tidak enak, tapi karena membayangkan apa jadinya bila ia ada di posisi para saudaranya yang baru saja ia ingat itu. Wanita berkerudung coklat itu menghela nafas, semoga mereka sudah sarapan juga. Karena pasti mereka tidak punya perserikatan. Lagi pula, mereka harus ‘bersepakat’ dengan siapa?
“Ayo, Nak… Sebentar lagi kita pulang!” seperti seorang guru mengajak pulang anak playgroupnya, seorang utusan perserikatan membuyarkan lamunan wanita berkerudung coklat itu.
Wajah para ‘pengungsi’ itu mencerah. Beranjak menuju gedung depan. Di mana saudara-saudara semarganya sudah siaga kembali.
“Aduh, kasihan ya nanti yang bersihin gedung ini. Padahal mereka tak ikut menerima hasil perundingan ini” ujar kawan wanita berkerudung coklat itu, mewakili apa yang ada di pikirannya. Ia menghembuskan nafas dengan berat lagi, ketika sampah bekas makanan para perunding itu bergelimpangan di mana-mana. Padahal di setiap sudut bangunan itu, tong sampah sudah siap siaga dua puluh empat jam. Oh, mungkinkah karena kecewanya tong-tong sampah itu tidak lebih penting dari urusan kesepakatan?
Suara para perunding kembali berdentang. Saat cemas di sebagian hati kaum hawa, kembali mengguncang. Hm, kapankah mereka bisa pulang? Sedang Bus jemputan tak ada satupun yang bersedia datang.
Dengan langkah masygul, wanita berkerudung coklat itu mengikuti kawan wanitanya yang lain. Menuju parkiran. Untuk mencoba pulang duluan. Meskipun hanya mengandalkan kalimat ‘bagaimana nanti saja cara pulangnya’.
Namun sebelumnya, mereka berbelok dulu ke klinik. Bukan karena ada yang sakit, tapi hanya sekedar ingin tahu berat tubuh mereka. Haha, wanita berkerudung coklat itu tertawa, ketika berat badannya turun jauh dari yang ia kira. Ah, ia jadi ingat sesuatu. Susah payah ia berusaha menaikkan berat badannya, dan ketika sudah berhasil, ternyata ia tak bisa menjaga keberhasilannya. Dan harus rela ketika ditanya ‘koq sekarang kurusan?’, sejak ia sempat kehilangan selera makan karena sebagian porsi semangatnya mundur teratur ditelan takdir.
Wanita berkerudung coklat itu kini mencoba tersenyum, tak ada yang harus disesali. Semua ada masanya, begitu nasehat sejuk dari kawannya. Termasuk soal berat badan. Nanti juga gemuk lagi. Yang penting sehat, pikirnya lagi.
Di depan parkiran, wanita berkerudung coklat itu kembali resah. Pasalnya, tak ada hujan tak ada ojek tak ada becek! Halah! Maksudnya tak ada ojek atau kendaraan lain yang sudi menampung mereka pulang.
“Di mana-mana juga gini, Neng. Ga ada fasilitas untuk pulang duluan,” ujar utusan perserikatan yang sudah berusaha meski gagal menghentikan kendaraan roda empat yang lewat.
Karena tak ada yang menjemput, maka, duduk-duduklah para wanita itu di trotoar. Menunggu keajaiban datang. Sedang tatapan prihatin pengguna jalan yang kebetulan lewat, sudah tak dianggap aneh lagi. Toh, ini sudah kesekian kalinya perusahaannya hajat begini. “Semoga, kesepakatan itu berakhir indah dikedua belah pihak di tanggal yang indah ini,” doanya wanita berkerudung coklat itu dalam hati.
“Huh! Buat apa sih demo terus?” pertanyaan yang tiba-tiba membuat wanita berkerudung coklat itu sesak. Karena tak disangka keluar dari mulut salah seorang marganya sendiri, yang bahkan tak ikut dalam perundingan ini. Padahal nanti keberhasilan dari perundingan ini juga tak kan ia tolak untuk dinikmati.
“Hm… buat apa ya? Yang pasti semoga bukan untuk foya-foya.” jawab wanita berkerudung coklat itu. Ketika tak lama kemudian, pertolongan datang.
Kesepakatan perundingan itupun selesai, seiring dengan kesepakatan antara wanita berkerudung coklat itu dengan dirinya sendiri, dalam menyelesaikan harap selama ini menjadi ikhlas menyemai hati.
“Oh, tugas skripsi sudah menanti! Yuk mariiii….” pamitnya pada Mentari.

Karawang, 12-12-12.
Djayanti Nakhla Andonesi

Selasa, 11 Desember 2012

Shift Dua

Tulisan ini dipindahkan dari akun wordpress saya

***

Shift Dua

Kupilih kursi bus deret dua, dekat jendela yang terbuka. Sengaja agar aku dapat merasakan bisik angin yang menyapa. Atau sekedar memastikan langit baik-baik saja, meski mendung tak bisa ia sembunyikan dari wajahnya. Mungkin sebentar lagi, rombongan air akan turun menjejakan diri ke bumi. Tak masalah bagiku. Hujan ataupun tidak. Aku tetap menyukai langit dan bumi. Sayup ku dengar, Ashar berkumandang memenuhi keduanya.

Dua orang bocah, jika ia masih sekolah, ku taksir sekitar kelas dua sekolah menengah pertama. Memainkan lagu-lagu yang ia hafal. Untuk dipersembahkan pada hadirin penumpang bus Hiba yang kutumpangi ini. Tak jelas benar apa yang mereka dendangkan. Namun yang jelas, mereka adalah anak bangsa yang terpaksa menjadi seniman jalan raya. Bila tak terpaksa, mestinya kini mereka sedang mengeja logaritma di kelas sana. Eh, tapi bukankah hidup ini bukan matematika sepenuhnya? Mesti ada seni yang menyertai. Hmm, barangkali memang seni menjadi daya tarik tersendiri untuk aktualisasi diri mereka, meski caranya sering nelangsa. Atau sebenarnya mereka bahagia-bahagia saja dengan hal demikian?
Hmm, aku tak tahu rumus mana yang mesti digunakan untuk menentukan seseorang bahagia atau sebaliknya.

Di jembatan Badami, dua bocah tadi turun, tak sampai ikut ke Pabrik di mana kami bekerja.
Sayang sekali. Padahal aku ingin mengenalkan pada mereka bagaimana mesin-mesin bisa menjadi manusia. Atau ingin sekali ku ajak mereka keliling bertamasya di dalam Pabrik. Rasanya mereka pasti akan mengatakan ‘seru!’. Meski kutahu itu tidak mungkin sama sekali.
Baiklah Nak, semoga kehidupan kalian selalu beranjak menuju sejahtera. Aamiin.

Dua langkah kakiku seturun dari bus, sudah disambut gerimis. Alhamdulillah… Karawang menjadi lebih adem. Ku lanjutkan langkah menuju loker, kemudian tanpa harus berlari, ku biarkan hujan menari di atas kepalaku yang tanpa payung, menuju ruangan di mana ku bekerja.

Dan sudah dua orang yang bertanya padaku, apakah aku benar-benar masuk sift dua atau bukan.
Aku jadi geli sendiri, sampai seheran itukah mereka?
Hmm… mungkin karena aku sering sekali tukar sift. Sehingga, kawan-kawanku bingung aku ini  grup mana. Kesannya nomaden banget gitu ya… Haha.
Ah, sudahlah. Aku tidak harus menjelaskan pada mereka satu persatu kan? Tentang mengapa aku sekarang sift dua.

Dua pesan ku terima. Dari dua sahabatku. Intinya, mereka memberikanku suntikan semangat untuk melaksanakan ibadah bekerja. Ah, mereka seolah tahu saja bahwa aku sedang membutuhkan kalimat itu.
Dua menit berlalu. Aku masih mengamati mesin yang ada di depanku, setelah dua hari sudah kami tak bertemu. Mesin buatan jepang sepenuhnya sekaligus menjadi yang paling besar di ruangan ini seperti tersenyum padaku. Senyumnya dan dua mesin yang menjadi adik-adiknya, hanya aku yang mengerti. Hehe.
Tapi giliran mereka ngadat, aku belum begitu mengerti untuk bagaimana mengembalikkan senyumnya.

Dua orang wanita, dan disusul dengan yang lainnya, yang berpapasan denganku menuju kantin saat bel istirahat berbunyi, menyadarkanku bahwa aku tidak sendirian di sift ini. Hehe. Dan jauh di lubuk hati, aku merindukan adikku yang ada di sift lain. Intan, namanya.

Makanan yang didapat sepulang sift dua, sudah ku telan jam dua pagi. Sambil mengingat-ingat, kronologi hari tadi. Entah mengapa, rasanya kerja kali ini dengan semangat begitu jauh sekali. Ku ceritakan kepada sahabatku, “mungkin kau kecapean… aku juga hari ini begitu,begitu sahut sahabatku.
Hmm… aku memohon ampun pada Ilahi. Barangkali aku lupa bersyukur hari ini.

Tapi feelingku memang tidak enak terus sejak tadi. Ada apa ya?
Karawang, 11 Desember 2012/ 27 Muharram 1434H.
Djayanti Nakhla Andonesi

Jumat, 07 Desember 2012

Tahukah Kau, Angel?

Tulisan ini dipindahkan dari akun wordpress saya.


Tahukah Kau, Angel?*

mungkin kau sudah lupa; bagaimana caranya kita menata
serakan bintang menjadi cindera mata;
tapi aku tidak

mungkin kau sudah lupa;
bagaimana menebak ilalang bergoyang kemana
atau menanti hujan sambil menyeduh kata di beranda;
tapi aku tidak

mungkin kau sudah lupa;
bagaimana hilir mudik kerbau di desa
yang sengaunya kadang membuat kita terbahak, tertawa meski
entah lucunya di mana;
tapi aku tidak

mungkin kau sudah lupa;
bagaimana terharunya aku ketika kau tetap setia,
menantiku menyelesaikan magrib, sebelum petuah Mang Ujang berkoar di Mushola;
tapi aku tidak

mungkin kau sudah lupa;
monopoli, gatrik, galah, loncat karet, bulu tangkis, bola bekel,menjadi warna permainan kita
di sela-sela hari untuk menghibur hidup yang terlalu matematika;
tapi aku tidak

mungkin kau sudah lupa;
bagaimana kita pernah menaruh logika, pada ketiadaan rasa cinta?
menjadi galau jauh sebelum kata
itu menggaung hari ini, hahaha;
tapi aku tidak

mungkin kau sudah lupa;
bentuk buku harian kita, berapa halamannya, di mana ada gundah, bahagia, bahkan kecewa yang tertoreh di sana;
tapi aku tidak

mungkin kau sudah lupa;
bagaimana hari terakhir kita bersama, setelah Gombong menjadi pilihan kota, kau menetap di sana;
tapi aku tidak
mungkin kau sudah lupa;
bagaimana nama Violet, Angel dan Sweety tercipta,
VAS begitu kita menyebutnya;
tapi aku tidak

mungkin kau sudah lupa;
sebagian kisah atau seluruhnya;
tapi aku berusaha tidak melupakannya
dan tahukah kau, Angel?
kini ada Queen-sha, begitu Violet menamakan anaknya
pipinya lunak padat seperti ibunya,
aku dibuat gemas jadinya,
hingga sempat ku tanya,
kira-kira bagaimana rupa anak Angel dan Sweety?
bahkan sebelum ku sempat bertanya ke sana,
ku hanya bisa menduga-duga, sudahkah kau temukan tambatan hati di sana?

*untuk Nur Ayu Sekar Ningsih, semoga kau membaca ini…
aku tak tahu harus menyampaikan rindu untukmu kemana…
semoga kau selalu baik-baik saja,
dimana kau berada
Karawang, 7 Desember 2012,
Djayanti Nakhla Andonesi

Senin, 03 Desember 2012

Shift Tiga

Tulisan ini dipindahkan dari akun wordpress saya.
 

Sift Tiga, Tiga Desember 2012

Hari ini, tanggal tiga desember dua ribu dua belas, dan aku pertama kalinya lagi bekerja sift tiga.
Jadwal kerja yang dimulai tengah malam sampai matahari menandakan dhuha.
Aku pergi tepat jam sebelas malam hari minggu. Kurang dua jam lagi untuk sampai tanggal tiga.
Tapi peraturannya memang begitu; waktu masuk kerja adalah pukul 00.20 dini hari, berarti si buruh pabrik sepertiku, berangkat dari rumah tiga jam lebih awal dari jam masuk. Mengikuti jadwal penjemputan Bus Pabrik.

Hari ini tanggal tiga desember dua ribu dua belas, dan aku pertama kalinya lagi bekerja sift tiga.
Setelah sejak lima belas oktober lalu aku dinon siftkan sementara.
Karena keperluan perusahaan untuk melakukan training pada karyawan baru di shop kerjaku; yang baru saja ditinggal oleh kedua partner kerjaku. Ditinggalkan dengan dua alasan. Yang pertama karena dipindah bagian-kan. Yang kedua adalah karena me-resign-kan diri, karena mengikuti suaminya tinggal di Tangerang.

Nah, dua orang yang training untuk menggantikan mereka, kini sedang di uji klinis oleh atasan yang bersangkutan.

Hari ini, tanggal tiga desember dua ribu dua belas, dan aku pertama kalinya lagi bekerja sift tiga.
Waktu bekerja yang unik, di mana aku diajak takdir untuk merasakan empati, karena pada saat yang bersamaan, ada orang-orang yang rela berjibaku malam-malam buta, demi menyambung hidup; tentunya dengan cara yang halal, di saat sebagian manusia yang lain sedang terlelap, terbuai mimpi.

Aku diajak takdir untuk memaknai malam, karena pada saat yang bersamaan, ada orang-orang yang rela
bertekuk lutut sujud di atas sajadah, bermunajat panjang… panjang sekali. Sampai airmata mereka menganak sungai mencahayai bumi. Jauh di lubuk hatiku, aku menyesalkan waktu-waktu luangku bila tidak sedang sift tiga yang jarang diisi dengan hal yang sama seperti mereka.

Aku diajak takdir untuk mengerti rasi bintang.
Bahwa bintang yang paling terang bukanlah yang ada di langit sana.
Tapi ada di setiap jiwa manusia, yang berani mensyukuri hidup atas apa yang dimilikinya.
Dan, aku pun diajak takdir, untuk menikmati semua proses perjalanan hidupku. Hingga aku memaknai, bahwa hidup terlalu berharga untuk disesalkan, apalagi disia-siakan.

Djayanti Nakhla Andonesi, di Kamar Jiwa.
Karawang, Tiga Desember 2012/ 19 Muharram 1434.

Kamis, 22 November 2012

[Lomba] Nulis Artikel Berhadiah 112.5 Juta




Di ujung tahun 2012 ini, sepertinya menjadi berkah buat para penulis. Banyak sekali lomba nulis salah satunya lomba nulis artikel berhadiah 112.5juta yang diadakah oleh Kemenparekraf bekerjasama dengan NulisBuku.com & Plot Point ini. Lomba Tulis Nusantara dengan tema: “Menangkap ragam cerita hidup di Indonesia”

Kategori Lomba:
1). Fiksi Cerpen
2). Fiksi Puisi
3). Non-Fiksi

Hadiah
Fiksi Cerpen.
Juara I: Rp 20.000.000,
Juara II: Rp 15.000.000,
Juara III: Rp 10.000.000.

Fiksi Puisi.
Juara I: Rp 10.000.000,
Juara II: Rp 7.500.000,
Juara III: Rp 5.000.000.

         Non-Fiksi.
Juara I: Rp 20.000.000,
Juara II: Rp 15.000.000,
Juara III: Rp 10.000.000.

3 buku kumpulan fiksi dan non-fiksi hasil kompetisi Tulis Nusantara 2012 akan diterbitkan secara major!

Lomba ARJUNA, DEADLINE 30 NOVEMBER 2012

ARJUNA (AJANG KREATIFITAS JURNALISTIK MAHASISWA) “Karyaku Untuk Indonesia Yang Bebas Dari Korupsi"
ARJUNA (AJANG KREATIFITAS JURNALISTIK MAHASISWA) “Karyaku Untuk Indonesia Yang Bebas Dari Korupsi"




DEADLINE 8 DESEMBER 2012


Lomba Menulis cerita hadiah 1 Rp 15 Juta

nama info lomba: Lomba Menulis Cap kaki Tiga

deadline: 8 Desember 2012

hadiah: 1. Pemenang Pertama : Uang Tunai Rp 15.000.000
2. Pemenang Kedua : Uang Tunai Rp 10,000,000
3. Pemenang Ketiga : Uang Tunai Rp. 5,000,000

Langkah Awal

    Peserta harus menjadi fans Facebook & Twitter Cap Kaki Tiga
    Peserta adalah Warga Negara Indonesia (WNI)
    Melengkapi semua data dan informasi sesuai dengan kolom yang telah disediakan
    Tentukan dan Pilih katagori yang sesuai dengan cerita anda ( Friends, Couple and Family)

Mekanisme

    Registrasi data lengkap dan "Tuliskan Cerita Persembahan Terbaik" Apa yang ingin kamu persembahkan untuk orang terkasih maksimal 1.000 kata berdasarkan katagori yang kamu pilih (misal : saya ingin memberikan hadiah umroh kepada ibu saya karena dia adalah orang paling berjasa dalam hidup saya. Dan isi juga untuk kolom pertanyaan "Mengapa kita harus memilih kamu menjadi pemenang". Kemudian upload foto kamu max 1mb foto berdasarkan kategori yang kamu pilih.
    Periode Kontes Persembahan 75th Cap Kaki Tiga berlaku mulai 22 Oktober sampai 8 Desember 2012.
    Cerita tidak mengandung unsur SARA dan cerita diangkat untuk persembahan terindah seseorang yang kamu sayangi, foto yang di upload tidak diharuskan menggunakan produk. Cerita yang diambil harus ada kaitanya dengan "Persembahan, Harapan, membantu, dan juga hal yang dapat membangun orang lain menjadi lebih baik.
    Setiap Cerita dan Foto yang diupload mempunyai halaman tersendiri dan peserta harus mengajak temannya untuk VOTE.
    Setiap minggunya ( Oktober, November, Desember) akan dipilih 3 Pemenang dengan VOTE terbanyak yang berhak mendapatkan Paket menarik dari Cap Kaki Tiga.
    Kompetisi ini ditutup 8 Desember 2012, dan peserta yang menang berdasarkan masing2 katagori akan di umumkan pada 17 Desember 2012. Peserta akan langsung dikonfirmasi oleh panitia Cap Kaki Tiga.

Kriteria

    Juri akan memilih cerita paling menyentuh
    Pemenang/Juara 1 dan 2 ditentukan oleh juri. Pilihan JURI tidak bisa diganggu gugat
    Pemenang / Juara 3 adalah cerita dengan jumlah VOTE terbanyak. Segala bentuk kecurangan peserta akan di diskualifikasi tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, dan JURI akan memantau peserta yang aktif untuk promosi
    Setiap cerita yang masuk menjadi hak milik panitia.

sumber: 75tahuncapkakitiga.com

Rabu, 03 Oktober 2012

Danau Tepian Kiri

Sudah seminggu ini, perjalananku ke tempat kerja, rasanya lebih menyenangkan dari biasanya.
Apa pasal?
Ini soal rute jalan.
Tepat ketika menemukan Bundaran KIIC, itu artinya dua menitan kemudian, seharusnya mobil angkutan karyawan yang menjemput kami akan segera sampai di tempat yang dituju.

Tapi kali ini lain.
Karena jalan yang melingkari Bundaran KIIC sedang diperbaiki, maka tidak ada yang bisa menolak pengalihan jalan sebagai dampak bagi para pengguna jalan.

Mungkin hal tersebut menjadi gangguan bagi sebagian orang, apalagi bagi orang-orang yang sangat menghemat waktu disegala kesempatan (baca: terlambat :D), karena harus rela memutar kendaraan ke arah yang lebih jauh dari tempat tujuan.

Tapi, aku akan tetap mengatakan bahwa aku senang karena pengalihan jalan tersebut.
Meskipun sebenarnya, bukan tidak jarang aku menjadi salah satu personil pabrik yang rajin ngejar-ngejar Bus jemputan. Hahaha. Dont try this, please! ;p

Dan aku tetap merasa senang dengan pengalihan jalan ini. Karena, selain aku lebih mengharapkan diri untuk tidak menjadi pengejar amatiran bus jemputan, hehe, adalah aku bisa melihat pemandangan yang menakjubkan. Dan akan selalu menakjubkan di mataku.

Dia adalah sekumpulan air dalam ceruk bumi. Yang biasa kita kenal dengan sebutan, Danau.

Yups, aku jadi bisa melihat Danau yang entah apa namanya itu.

Ada kebahagiaan tersendiri ketika aku melihat ketenangan air yang entah berapa dalam itu.
Ada ketenangan tersendiri ketika aku melihat kebahagiaan air yang entah sejak kapan berada di situ.

Meski memang, aku belum pernah melihatnya lebih dekat.
Meski memang, aku belum pernah menyentuh udara disekitarnya
Meski memang, aku belum tentu melihatnya bila tak melalui jalan ini.

Namun, satu yang pasti.
Aku senang melihat danau yang kadang permukaannya memainkan tarian surya,
walau sekedar melihatnya sekejap mata, itupun cukup mengamatinya di atas kendaraan saja.
Karena
Hal itu seolah sudah cukup menjadi tambahan energi ketenangan,
sebelum aku tiba di pedalaman mesin.
Dan itulah yang membuatku selalu ingin duduk di barisan kursi bus bagian kiri.
Karena Danau itu, terletak indah di tepi kiri jalan.

Ya, ku namai Danau itu, Danau Tepian Kiri.
Penambah syukur ku terhadap karunia Ilahi

Karena entah, bila mata ini tak bisa melihat lagi
atau bila hati ini terlanjur terbawa mati
apakah aku masih bisa merasakan salah satu karuniaNya ini?

^______^

Ya Robb..
aku bahagia..
dengan segala yang Kau Punya.


^^_______________^^


Minggu, 16 September 2012

Selamat Datang para 'Singa'!


Atasan putih, bawahan hitam. Seragam yang mereka pakai terlihat mendominasi sebuah Aula. Mereka juga mengenakan toga yang terbuat dari kertas karton berwarna hitam yang diberi pita. Lengkap dengan ID card yang terbuat dari kertas karton warna merah marun. Ekspresi mereka beragam. Ada yang

Rabu, 05 September 2012

Wish my dreams comes true :)



Ka'bah, dengan segala panggilanNya, suatu hari kelak, aku menjadi  salah satu hambaNya, bersama orangtuaku, dan orang-orang yang kusayang, sampai dan menjejakkan kaki disana. Menyentuh tiap inci doa dalam kekhusuan di tengah gelombang kalimat tayyibah, yang menggaung bagai lebah.
Merasakan nikmatnya menyambut panggilanMu ya Robb..
Labbaikallahumma labbaik...
Labbaikalaa syariikalaka labbaik...
Innal hamda...
Wani'mata...
Laka Walmulk...
Laa syariikalak...

aamiin..
:)




Madinah al Mukaramah
Suatu hari nanti, sebelum aku kembali ke dalam bumi, semoga aku diizinkanNyaberziarah ke makam Habibi... Muhammad saw.
aamiin.... :)



Mesjid Raya Medan
Di Kota ini, Aku ingin ziarah ke surau Medan. Suatu hari nanti pasti sampai di sana :) InsyaAllah


Selasa, 04 September 2012

Peringatan Hijab Sedunia



Latar belakang

04 September 2002, dengan kebijakan yang tidak bijaknya, pemerintah Perancis melarang muslimah mengenakan hijab di sekolah maupun universitas. Bahkan polisi sampai menjegat para muslimah saat hendak ke sekolah atau ke universitas yang memakai jilbab. Dengan tujuan agar para muslimah segera menanggalkan hijab yang mereka pakai.

Hal itu menyulut kaum muslim dan -tentu saja- muslimah di berbagai belahan dunia untuk memprotes dan mengecam kebijakan tersebut. Aksi penolakan kebijakan tersebut di lakukan oleh tak kurang dari 35 negara yang mengatasnamakan kebebasan dalam berkeyakinan. Seminoritas apapun pemeluknya.Ya, karena hijab berkaitan dengan keyakinan sekaligus akidah yang tak bisa dilecehkan oleh siapapun, sekalipun penguasa tertinggi di dunia.

Akhirnya, setelah dua tahun kecaman bertubi-tubi dilemparkan kepada pemerintah Perancis, tanggal 4 September 2004, diselenggarakanlah sebuah Konferensi London untuk menengahi masalah tersebut. Konferensi tersebut dihadiri oleh 300 delegasi dari 102 Organisasi Internasional, termasuk di antaranya hadir Syeikh Yusuf Al Qardawi dan Prof. Tariq R.

Hasil Konferensi tersebut antara lain :
1.  Menetapkan dukungan terhadap Jilbab
2.  Menetapkan 4 September sebagai hari Solidaritas jilbab Internasional (IHSD)
3   Rencana Aksi untuk tetap membela hak wanita Muslim mempertahankan busana takwa mereka.


Namun, kebahagiaan dari hasil Konferensi tersebut ternyata tidak dirasakan oleh Marwa El-Sherbini, seorang martir muslimah keturunan Mesir, berusia 31 tahun yang dibunuh pada tanggal 01 Juli 2009 (bertepatan dengan hari pertama saya bekerja di sebuah Perusahaan).
Marwa, muslimah hebat nan luar biasa itu, mati syahid bersama anak yang ada dalam kandungannya, di dalam gedung pengadilan Dresden, Jerman. Marwa, ditikam sebanyak 18 kali tusukan oleh seorang rasis-islamofobik keturunan Rusia bernama Axel W, hanya karena menuntut keadilan sebagai warga negara dan menuntut hak asasinya sebagai seorang muslimah. (Semoga Allah menempatkan Marwa di SurgaNya. Aamiin.)

Sehingga, selain tanggal 4 September, tanggal 01 Juli pun banyak yang memperingatinya sebagai hari Hijab Internasional, untuk memberikan dedikasi yang penuh ta'zim pada saudari seiman kita, Marwa El Sherbini dan muslimah-muslimah lain di sekitar kita yang mungkin saja tidak terangkat ke media, namun punya kisah yang luar biasa dalam membela dan mempertahankan akidahnya sebagai seorang musimah. 


Harapan

Diadakannya peringatan Hari Hijab Sedunia ini tak lain adalah untuk menyadarkan kita, bahwa pentingnya mengambil hikmah di setiap kejadian. Apapun itu. Sehingga, kita bisa lebih banyak belajar dan instrospeksi diri.

Mungkin kita, khususnya saya pribadi, belumlah setangguh Marwa El Sherbini, ataupun muslimah-muslimah lain yang luarbiasa itu. Namun semoga, perjuangan mereka yakni saudara-saudari kita dalam mempertahankan akidah dan iman di dadanya, memberikan kita inspirasi dan motivasi perbaikan diri. Memperbaiki dalam dua hijab, hijab lahir maupun batin. Tak hanya menjilbabkan jasmani kita, namun juga menjilbabkan akhlak dan ruhani kita. Dengan tujuan hakiki, yakni Ilahi anta maksudli wa ridloka matlubi. (Ya Allah, sesungguhnya hanya Engkaulah yang kutuju, dan hanya ridloMu lah yang kucari.)

Aamiin.


________________
referensi bacaan: 
- http://www.bersamadakwah.com/2012/09/hari-solidaritas-jilbab-internasional.html
- http://www.fahdisme.com/2012/09/hijab.html?showComment=1346729864411#c3583613838788429590
- http://blog.innomuslim.com/history-of-international-hijab-solidarity-day-ihsd/


gambar diambil dari sini: http://mubhar.files.wordpress.com/2009/03/kartun-jilbab3.jpg






Jumat, 31 Agustus 2012

Memories part2


Saya pernah berjanji untuk melanjutkan sebuah tulisan… yup! Here are..

Hari ketiga OSPEK!
Berusaha lebih cermat lagi dari hari sebelumnya. Lagian kapok kalo mesti di omelin subuh-subuh gitu! :p
Hhehe.

Dengan langkah lebih percaya diri...

Kamis, 23 Agustus 2012

Memories part1


Tulisan ini berawal ketika saya membaca status teman saya. Yang sudah lama terpisah karena liburan semester plus liburan ramadhan. Begini bunyinya:
“kangen kekampus temenxx ,tinggal setaun lagi semanggat seperjuang allah huakbar merdeka semangat”
Saya sempat terhenyak membaca status tersebut. Sekaligus tersenyum geli. Eh! Udah mau Setaun lagi ya studinya?? Ga kerasa yak? :D
Hari ini tanggal 24 Agustus 2012, tanggal saat tiga tahun lalu saya sedang sibuk meminta informasi, saran dan petuah dari tetangga yang lebih dulu merasakan KULIAH.
Ingatan saya pun terlempar ke dalam kotak memori September 2009.
Perasaan baru aja ngerasain ospek; subuh-subuh buta di omelin Kakak Tingkat karena salah kostum! Ahaha… ga sih, ga salah-salah amat.
Hanya saja,

Rabu, 18 Juli 2012

Yang dirindukan datang :)

RINDU!!

hm, siapa coba yang tak kenal dengan kata itu? ;)
segala macam definisi tentang rindu banyak tertera di kamus.
termasuk di kamusku. hehe.

Rindu di kamusku adalah

Kamis, 28 Juni 2012

:)))

Speechless !!! pas ada tukang pos :D datang ke posko.. dimana saya sedang melaksanakan salah satu kegiatan kampus, yakni KNM.

pokoknya, alhamdulillah ya Allah :)))





Jumat, 25 Mei 2012

SITI Shaleha


(Sebuah KAMIS, 24 Mei 2012)

Alhamdulillah… hari itu, sebuah presentasi –yang yaaa walopun hasilnya tidak bagus2 amat- telah saya dan kawan-kawan saya lalui dengan baik. 
Tak bisa dihindari, sebuah debat kusir terjadi. Teman-teman sekelas saya pasti hapal diluar kepala lah yaa siapa yang –selalu- menjadi tokoh pendebat nya :D. Kalo ada beliau, pasti deeeh ramee.. saking ramenya ampe mengundang esmoni.. ckckck!

Tapi, sebenarnya beliau orangnya baik koq ^_^,  jadi tidak usah berfikir yang aneh-aneh ya..
Eh, istigfar bareng ah… Astagfirullahal’adziim… :’)

Hm, semoga kita tidak lupa dengan KalamNya ya..
“Serulah manusia kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik. Dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Robbmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat di jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS An-Nahl ayat 125)

Anyway.. pasti pembaca bertanya-tanya. Emang saya ini mau ngomongin apa seeh?
Kalem, kalem.. ^.^ 
Yang mau saya ceritain disini bukan bagaimana debat kusir itu terjadi koq. Lagian Ga penting lah ya kalo kita meruncingkan sesuatu yang malah bisa memicu alias membuat perpecahan persaudaraan. Tul? 
Kan kita ini bhineka tunggal ika? (tumben nasionalisme bangeeett. hehe)

Jadi, apa dong yang mau saya share disini?

Hm..
Langsung saja, Check this one out : )

Kamis, 09 Februari 2012

Asing

Awalnya semua asing

lingkaran waktu menjaring

menjadi bagian halaman-halaman penting

Entah mengapa, pada akhirnya kembali asing

laba-laba pun tak sanggup lagi melempar pusing


*GAje, ahahaha :D

Djayanti Nakhla Andonesi

Minggu, 05 Februari 2012

Habiibanaa..

Subhanallah...

Hari ini adalah tanggal 12 Robiul Awal, dimana Rosulullah lahir dengan sinar yang terang benderang.
Semoga Shalawat selalu tercurah limpah kepadanya.. kepada junjungan kita yang mulia, ya habibana.. Muhammad....rosulullah shallallahu 'alaihi wasallam...

Amiin...

Dan semoga,

Aku Ingin Hidup

Nafas semangat yang tercekik waktu itu, tak seharusnya membuatku mati sebelum mati sesungguhnya.
Tak seharusnya, tak seharusnya...

Gelas semangat itu memang lama terbanting.

Jumat, 03 Februari 2012

Rekomendasi bacaan

Artikel ini keren, dan berhasil membuat saya bolak-balik membacanya.
bahasanya lugas, jelas, tuntas dan cerdas.

maka, saya rekomendasikan tulisan ini, barangkali pembaca belum membacanya..

so, check this one out..
keep reading .. :)


Pendidikan yang Pingsan
Oleh: B Herry-Priyono


Kamis, 02 Februari 2012

Asmi_part1

"Kau terlihat lebih kurus sekarang.." Katanya pada seorang wanita yang baru beberapa menit sampai di beranda rumahnya.

"Baik-baik saja kah?" Tanyanya yang hanya dibalas senyum oleh tamu istimewanya itu.
Mereka beranjak menuju kursi, lalu duduk di kursi rotan yang masih sama seperti saat wanita itu pergi beberapa bulan lalu.

Senin, 30 Januari 2012

Kamboja


Pada kuncup bunga kamboja
dimana segala asa kutaruh disana

hingga lebur bersama bau tanah manusia, ke dalam bumi
sepi, jauh melangkahi sepinya dewata di malam nyepi

tak dengarkah kau?

Kamis, 26 Januari 2012

contoh orang yang mengaplikasikan petuah Rosul : be uswatun hasanah, please!

"Dalam pendidikan, pada jenjang apapun, contoh hidup menjadi hal yang paling penting.

Kita tidak usah banyak ngomong, tidak usah gembar-gembor, tidak usah menyuruh anak membuat semboyan atau yel-yel, atau membuat maklumat lalu ditempelkan di mana-mana dan setiap pagi di ucapkan.
Apa arti semua itu, kalau yang tua tidak memberikan contoh?

Senin, 16 Januari 2012

masihkah merasa menjadi manusia termalang di dunia??

oleh Djayanti Nakhla Andonesi pada 22 Oktober 2011 pukul 23:46 (was posting on my FB)


Sob, awalnya saya bingung hendak menulis apa disini?

Namun, setelah lelah dengan kebingungan yang mengambangkan fikiran, ternyata saya bertemu dengan sebuah pertimbangan.

Biidznillah...

Akhirnya, saya putuskan untuk menulis ini saja.
tentu saja ini warning untuk saya khususnya...


Sob, pernah merasa jadi orang termalang di dunia? (yang jelas sih kalo termiskin di dunia mah lagunya Hamdan att yaa :D )

hm... kalo pernah atau mungkin sedang mengalami perasaan seperti itu, entah karena sedang disakiti atau tersakiti (sengaja ataupun tidak), mari kita review lagi dengan sebuah kisah nun jauh dibelahan dunia sana. namun sebenarnya ........

Rabu, 11 Januari 2012

Hujan

ceceran1

oleh Djayanti Nakhla Andonesi was posting in my FB on 11 Januari 2012, 14:14 



Hujan, turun lagi
Aku, bergegas pergi

Hujan, pergi lagi
Aku? kembali?

PadaMu saja, Ilahi