Tahun Baru 1440 Hijriah, Apa Saja Yang Akan Ditargetkan?

Alhamdulillah kita sudah memasuki tahun baru Hijriah yang ke 1440. Saya pun merenung. Apa saja yang telah saya lakukan selama setahun ke belakang? Apakah yang saya lakukan lebih banyak manfaatnya atau sebaliknya?
Apakah waktu-waktu yang saya lalui produktif dan positif? Apakah hari-hari yang telah saya lewati memberikan makna?

Saya terhenyak. Ternyata tidak banyak timbangan manfaat yang saya lakukan selama setahun kebelakang. Banyak kesempatan baik yang saya lewatkan dengan sia-sia. Menyesal? Tentu. Tapi menyesal saja tidak cukup. Saya perlu menggebrak diri saya agar bisa menebus penyesalan tersebut.

Maka saya azamkan diri untuk bisa memperbaiki apa yang keliru, menambah apa yang kurang, pun mengurangi yang tidak seharusnya.

Selain niat yang kuat untuk merealisasikannya, saya perlu menuliskan target untuk perbaikan diri saya. Baik itu target ubudyah hablumminallah maupun hablumminannas. Baik itu perbaikan spiritual, emosional, dan sosial.

Maka saya membreakdownnya dalam buku yang semoga bisa konsisten saya lakukan, day-by-day nya.




Bagi sebagian orang mungkin tidak asing lagi dengan pembuatan target tahunan, lalu memfollow upnya setiap hari.

Sebenarnya saya pun begitu. Setiap tahun saya membuat list apa saja yang ingin saya capai. Tapi godaan terbesarnya adalah diri sendiri. Sering kali saya justeru tak istiiqomah dengan list yang sudah saya buat. Hehehe tapi paling tidak, di awal tahun 1440 Hijriah ini, saya punya kesempatan untuk memperbaiki : memfollow-up apa yang sudah saya list.

Karena, ternyata setelah saya review, list-list yang saya follow up, efektif membuat saya menjadi lebih dekat dengan apa yang saya inginkan.

Nah, bagi teman-teman yang mungkin belum terbiasa membuat list target hidup dalam arti positif, momentum pergantian tahun baru Islam ini bisa jadi langkah yang tepat untuk memplanning ulang, apa saja yang akan kita lakukan di tahun ini, apa saja yang ingin kita capai di tahun ini, danseterusnya.

Karena rasanya koq rugi ya kalau tahun-tahun yang kita lalui itu enggak ada perkembangannya, terutama dalam hal spiritual. Lebih celaka lagi kalau justeru lebih buruk dari sebelumnya. Padahal kan Islam sendiri sudah mengajarkan semangat perbaikan diri. Seperti yang Rosulullah saw, ingatkan bahwa hari ini harus lebih baik lagi dari hari kemarin.

Pun sama dengan pergantian tahun ini. Tahun 1440 Hijriah ini sudah seyogyanya kita --eh saya terutama-- rencanakan untuk lebih baik lagi dari tahun sebelumnya. Hijrah dari yang belum baik menjadi lebih baik. Dari gelap menuju terang. Minadzdzulumati ilannur. 

Misalnya, begini.

Bila tadinya, sholat wajib mengulur waktu, atau bahkan di ujung waktu, di tahun 1440 Hijriah ini, kita targetkan untuk hijrah, sholatnya jadi selalu di awal waktu.

Bila tadinya, tidak pernah menunaikan sholat sunnah, maka di tahun 1440 Hijriah ini kita rutinkan sholat sunnah, baik itu qobla-ba'da, duha, tahajjud, dan sebagainya. Hijrah.

Bila tadinya, sebelum tidur tidak berwudlu dahulu, di tahun 1440 Hijriah ini, kita targetkan untuk memastikan diri terbasuh air wudlu sebelum terlelap tidur.

Bila tadinya, membaca Alquran selembar per hari, hijrah jadi setengah juz perhari atau bahkan jadi satu juz perhari. Bila tadinya, istigfar cuma sesekali, hijrah menjadi istigfar minimal 100 kali atau bahkan setiap saat. Dan lain-lain.

Bila tadinya, kita pesimis, hijrah menjadi orang yang optimis. Hijrah, dari putus asa ke penuh semangat luar biasa. Bila tadinya, sulit untuk melupakan kenangan pahit, tahun 1440 ini kita hijrah, mengikhlaskan apa yang telah berlalu. Eaaaa...

Bila tadinya bingung mau nambah-nambah penghasilan, bisa hijrah berbisnis, baik itu dengan modal kecil seperti bisnis yang bisa teman-teman lihat di link ini. 

Bila tadinya bermindset enggak peduli dengan kehalalan produk yang kita makan, hijrah ke mindset untuk selalu mengutamakan yang halal.

Bila tadinya, kita menyebut orang lain dengan panggilan kurang baik, kini hijrah untuk menyebutkan namanya dengan benar, bukan dengan sebutan cebong atau kampret.

Bila tadinya, kita adalah masyarakat yang apatis, sabodo teuing terhadap sekitar, tahun ini kita hijrah menjadi masyarakat yang peduli. Bila tadinya kita golput, maka tahun 1440 Hijriah ini kita gunakan hak suara dengan baik dan benar.

Bila tadinya kita tak pernah mendoakan kebaikan dan keselamatan untuk orang lain, maka tahun 1440 Hijriah ini kota hijrah untuk senantiasa mendoakan kebaikan dan keselamatan untuk orang lain, khususnya untuk kaum muslimin seluruhnya, di mana pun berada.

Bila tadinya kita tak pernah mendoakan negeri ini, maka di tahun 1440 hijriah ini, kita doakan negeri ini setiap selesai shalat, agar dianugerahkan pemimpin-pemimpin yang jujur, amanah, adil, dan mampu memimpin bangsa dan negara ini menjadi bangsa dan negara yang berdikari, dan yang paling penting Allah swt ridhoi di dunia dan akhirat.

Pun dengan kita sebagai masyarakatnya, doakan seluruh masyarakat Indonesia khususnya kaum muslimin yang ada di Indonesia ini menjadi kaum yang solid, bersatu, saling menghormati dan menghargai, juga saling peduli satu sama lain di jalan yang Allah swt ridhoi. Aamiin. Dan lain-lain.

Bila tadinya jomblo, semoga 1440 Hijriah ini hijrah menjadi sepasang suami istri. Hehehe. Tapi pastikan istri atau suami yang dinikahi adalah pasangan yang tepat, dengan cara yang ahsan dan Allah swt ridhoi, serta tidak mengorbankan kebahagiaan orang lain. Karena percuma juga punya pasangan tapi hasil merebut kebahagiaan orang lain yang telah susah payah membangun rumah tangga, na'udzubillah.

Dan masih banyak lagi, list 'tadinya-tadinya' yang kurang baik, hijrah menjadi list yang baik-baik. Baik itu sebagai seorang anak, sebagai orangtua, sebagai suami/istri, sebagai keluarga, dan sebagai apapun definisi yang diemban dalam kategori manusia.

Perbaikan-perbaikan itu bisa kita targetkan di tahun baru Hijriah ini, dengan perencanaan yang baik serta menuliskannya di buku catatan masing-masing. Karena, rencana itu harus. Dan mengerjakannya, jelas lebih harus. Hehehe. Semoga kita semua semangat dalam menjalankannya, dan diberikan Allah hasil terbaik atas perbaikan itu, aamiin.


Salam,
Djayanti Nakhla Andonesi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Dari Rimba Afrika sampai Konstantinopel

‘Meledak!’ Satu kata yang paling mewakili isi buku ini, menurut saya. Eits, bukan isinya anarkis apalagi radikalis. Meledak yang saya ...