Minggu, 18 Desember 2016

Aleppo, Timnas dan Secangkir Tanda Tanya

Sumber gambar: antarkata.blogspot.com

Secangkir kopi seven elemen karya anak bangsa, sudah terhidang di depanku. Kusesap perlahan. Kunikmati dalam-dalam. Efeknya menenangkan. Tetapi, memang tak bisa menghalau tanda tanya besar dalam diriku terhadap banyaknya fenomena yang juga terhidang di depan mata.

Sumber gambar : FP Abdillah Onim.
Maaf, ga tega share tubuh korban warga Aleppo nya :()


Aku terhenyak. Membaca kabar. Aleppo semakin mengenaskan. Rezim Assad semakin mengerikan. Hak Asasi Manusia sudah tak lagi diindahkan. Keadaannya sudah berada di luar batas akal dan jiwa sehat kemanusiaan. Anak-anak yang tiada berdosa, wanita-wanita muslimah yang teraniaya, dan orang-orang mukmin semuanya dibantai begitu keji oleh pemimpin yang berdarah syi’ah laknatullah itu, dibantu oleh sekutu-sekutu vampirnya. Kita sudah tahu, siapa saja sekutunya, antara lain : Rusia, Cina, dan Iran. Mereka punya nafas yang sama. Komunis.

Dan aku lebih terhenyak, ketika mengetahui, kepala negara dari muslim terbesar di dunia, mengambil langkah ‘abstain’ saat voting untuk membela kaum yang tertindas lahir batin di Aleppo sana. Dengan dalih, non blok? What? Alibi itu laksana alibi kehilangan fungsi helicopter yang bisa saja kapanpun membawa kepala negara bertemu dengan rakyatnya saat aks beberapa waktu lalu. Tak masuk akal.

Sumber gambar: FB Amin ben Ahmed


Salah seorang Dosen Komunikasi, Maimon Herawati, ketika ditanya oleh Majalah Haramain tentang bagaimanakah posisi dan peran Indonesia terhadap konflik Timteng, khususnya terhadap para pengungsi? Uni Maimon menjawab : Indonesia ini negara terbesar berpenduduk muslim. Tentu saja perannya adalah peran yang terbesar, JIKA INGIN MENGAMBIL PERAN. Peran mediasi politik, peran bantuan kemanusiaan, sampai peran penyatuan faksi-faksi bertikai dengan pendekatan keagamaan. Tapi, ada goodwill  tidak dari pemerintah yang berkuasa (sekarang)? (Sumber dari Rumah Imun)

Ya. Aku sepakat dengan pernyataan Uni Imun di atas. Idealnya, pemerintah Indonesia mestinya lebih gesit dari Australia yang sudah membuka lebar tangannya untuk membantu Aleppo. Atau lebih tangkas dari penduduk Jepang yang konon ateis untuk menyuarakan ketidakberpihakkannya kepada rezim Assad dan para sekutunya. Paling tidak, jangan pura-pura tuli. Apalagi Abstain saat dimintai kepedulian sisi politiknya, yang justeru punya pengaruh besar. Jangan malah menunjukkan sikap mesra terhadap rezim yang justeru menjadi sekutu vampir Assad. Itu sama sekali tidak lucu, jika itu bagian dari dagelan. Karena, andai pemerintah saat ini mau lebih mendengarkan suara kemanusiaan dibanding suara non-kemanusiaan, Indonesia sudah pasti berada sejajar dengan pemerintah Turki atau Arab Saudi yang tanpa harus distempel ‘blusukan’, mengulurkan tangan kepada Aleppo yang tertindas.

Beringsut sejenak dari kekecewaan terhadap sikap pemerintah kita, aku terhenyak lagi. Ternyata Timnas sepak bola Indonesia main putaran pertama Agrerat, di Thailand, tanpa Andik. Tak apa. All is well. Ada tidaknya Andik, aku yakin Timnas tetap solid.

Menjadi penonton memang lebih mengasyikan ketimbang menjadi pemain. Apalagi saat seluruh lapangan bisa kita lihat dengan utuh lewat layar kaca tanpa harus membeli tiket dan segala akomodasinya. Entah mengapa, menjadi penonton, kita jadi lebih pintar padahal belum tentu bisa apa-apa, hehe. Maka awal-awal, sebagai penonton amatir, saya merasa bosan karena cara pemain kita yang hobi bermain api, yakni bermain di dekat gawang sendiri. Tak juga mau maju.

Mungkin efek terlalu lama dijajah Belanda, sehingga sulit untuk melangkah maju berinovasi. Atau mungkin efek terlalu lama kita dihadirkan oleh gosip-gosip picisan. Seperti misalnya, bertepuk sebelah tangannya Subatsa pada Sailormoon. Atau gagal move-on nya Doraemon dari Dorayaki. Sehingga, permainan menjadi tidak imbang. Ah, mulai ngacapruk. Hehe.

Hingga akhirnya, Indonesia kebobolan. Skor pertama 0-1. Ekspresi Bung Riedl sungguh unik. Kebobolan atau tidak, mimiknya tetap khas mempertahankan kedatarannnya, mungkin terpengaruh oleh bentuk televisi yang saat ini sudah tak lagi memproduksi yang cembung. Hanya bedanya, jika kebobolan dan attau pemain yang dilatihnya dengan penuh kasih sayang itu melakukan kecerobohan, maka kepala Bung Riedl akan geleng-geleng. Lalu melakukan aktifitas keren yang jarang dilakukan pelatih lainnya, namun sangat dianjurkan oleh agama Islam, yakni mencatat.

Aku jadi membayangkan. Sesungguhnya Bung Riedl geleng-geleng karena NKRI kebobolan banyaknya imigran illegal asing. Karena, mau dibilang hoax atau bukan, kenyataanya banyak imigran illegal asing yang sekarang memenuhi lapangan kerja di Indonesia, dari yang terang-terangan ‘mengibarkan’ bendera asal negaranya di bumi pertiwi ini sampai yang mengendap-endap di tanah-tanah yang masih sepi dan ‘perawan’. Bung Riedl barangkali sedang geleng-geleng, karena bagaimana mungkin hal ini dibiarkan begitu saja, sementara warga negara Indonesia yang legal saja masih banyak yang butuh perhatian, butuh pekerjaan, dan butuh penghidupan yang layak di negerinya sendiri.

Sumber gambar: theogozz.blogspot.com


Ketika akhirnya, Timnas mulai bergerak maju, barangkali Timnas menyerukan kita agar bangun dari kenyataan. Bahwa memang tidak bisa bermain api di depan gawang sendiri. Kita tidak bisa menunggu mereka lelah. Yang ada kita yang sering lengah. Maka, harus ada upaya ekstra untuk maju rapatkan barisan, mempertahankan tanah air kita ini. Ya, karena sering kali, kesadaran untuk bergerak lebih ekstra timbul setelah kita kecolongan. Padahal sungguh, mempertahankan NKRI adalah harga mati, bukan harga diskon.

Penonton stress, pemain lebih stress lagi, ketika skor bukannya berimbang malah makin menguntungkan kaum lawan. Skor 2-0. Kita harus akui, masih dari kacamata penonton amatir, tim Thailand lebih terorganisir, lebih kuat, dan lebih siap, mungkin karena disuntik semangat pendukungnya yang memenuhi hampir seluruh stadion. Atau bisa jadi, seperti yang temanku bilang, bahwa Dewi Fortuna mungkin sedang malam mingguan sehingga tidak berada di pihak Indonesia. Membuatku berseloroh, kalau memang Dewi Fortuna sedang tak berpihak, masih ada Dewi Sandra, atau Dewi Kwan In beserta biksu Tong Sang Chong dan seperangkat muridnya yang sedang mengambil kitab suci. Yah, gurauan macam itu memang timbul dari penonton yang frustasi sepertiku yang tak bisa berbuat apa-apa. Hahaha.

Akhirnya, aku ditakjubkan oleh seorang Meiga Kurniawan. Dia adalah orang yang paling banyak menerima gempuran lawan. Dan yang membuatku takjub bin salut adalah, ditengah kondisi permainan yang sungguh membuat stress itu, dia tetap bisa menghandle pinalti. Jika Maradona dijuluki ‘tangan Tuhan’, maka izinkan aku menjuluki Meiga  si ‘Kaki Malaikat’. Karena nyaris saja, kalau kakinya terlambat menghadang, penonton Indonesia dijamin semakin frustasi. Hehehe.
Di antara petikan hikmah dari permainan ini, Meiga si ‘Kaki Malaikat’ sungguh membuatku lebih sadar. Bahwa kita butuh mental sepertinya. Karena pada saat teman-teman Timnya mulai buyar fokusnya, sangat buyar, sehingga overran bola dan tendangannya terlihat teu pararuguh, Meiga tetap fokus hingga dia berhasil menyelamatkan gawangnya meski seorang diri.

Sumber gambar : rebutbola.com


Ah ya, ini ibroh yang sangat luarrr biasa menurutku. Masih ingat kan dengan kasus yang membuat kita berkumpul di silang Monas? Ya, ibroh dari fokusnya Meiga mestinya menjadi pengingat kita juga, agar kita tak lengah dan gagal fokus dalam menegakkan keadilan di bumi pertiwi ini, hanya karena provokasi media dan tangan-tangan dzalim lainnya. Kita harus fokus, untuk terus menanamkan semangat #spirit212, agar senantiasa membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan, dimana saja berada, seperti kerabat, tetangga, warga korban gempa di Aceh, sampai warga korban kesintingan rezim Assad di Syiria. Umat Islam harus lah fokus, bersatu pada kesamaan rasa iman di dada, bukan terpecah-pecah disebabkan virus komunisme, liberalisme, sekulerime, atau terkotak-terkotak karena berada di bawah naungan lintah berkedok dollar.

Saatnya umat muslim bersatu dan fokus pada satu tujuan. Yakni, amar makruf nahyi munkar. Amar makruf mungkin mudah, tapi nahyi munkar sungguhlah membutuhkan kebulatan tekad dan kerapatan barisan. Menjaga iman di dada, sekaligus menjaga kesatuan NKRI tercinta ini. Karena, kita pun tahu, ajaran Islam tak bertentangan dengan Pancasila, tak bertentangan dengan Bhineka Tunggal Ika, pun ajaran Islam kita jua lah yang menjadi lecutan semangat untuk terus menjaga keutuhan NKRI ini.

Hanya orang-orang yang sakit jiwa saja lah yang masih saja membentur-benturkan ajaran Islam dengan stigma-stigma negatif dan provokatif, sehingga mencoreng moreng wajah Islam yang sesungguhnya damai.

Maka, cukuplah Allah sebagai satu-satunya tujuan kita dalam melakukan seluruh amal kehidupan di dunia ini. Dan kepada-Nya lah kita berlindung. Hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’man nashir.

Aku menghela nafas. Kopi seven elemenku sudah tandas sedari tadi. Mendadak menyeruak lagi pertanyaan, apakah kegagalan Timnas AFF untuk menjadi juara pertama kali ini adalah tamparan bagi pemerintah kita yang telah abstain dari peran politiknya dalam menolong Aleppo? Entahlah. Ini hanya pertanyaan dari keresahan pribadi. Tak usah dijawab karena ini bukan Ujian Nasional. Karena bisa jadi ini tamparan bagiku sebagai penonton amatir yang mungkin belum maksimal dalam berdoa, atau barangkali tamparan bagi diriku pribadi karena tidak khusyu dalam menegakkan shalat di atas bumi ini. Wallahu a’lam.

Betapapun, aku tetap berterima kasih kepada Timnas Indonesia yang sudah berjuang mengharumkan negara ini. Karena paling tidak, bau tidak sedap atas prilaku-prilaku kronis atau menyimpang sedikit meruap.

Dan betapapun, semoga kita tak akan bosan mengulurkan bantuan yang kita mampu, doa, tenaga dan harta, bagi saudara-saudara kita di Aceh hingga Aleppo sana. Karena hidup yang hanya sekali ini, akan menjadi bukti otentik kita di akhirat kelak.

Salam,
Djayanti Nakhla Andonesi
Yang Cinta NKRI

Rabu, 09 November 2016

Selarik Asa Untuk Panglima


Sesak hati kami dikepung kabut asap
Penguasa bertopeng malaikat membuat dada pengap
Mata kami buram: silau pencitraan seolah cahaya itu nyata
Semakin sesak rasanya dada: itu hanya ilusi semata

Sabtu, 05 November 2016

Ketika Penyanyi Kehilangan Pemimpin Yang Dicintainya Di Negara Antah Berantah

Di sebuah negara antah berantah, para penyanyi dari seluruh mancanegara mendadak berkumpul, kabarnya mereka mencari seseorang

Ayu ting tong yang sudah lebih awal berkiprah di bidang pencarian tiba2 menangis.

~kemana... kemana... kemana... ku haruuuus mencariii kemanaaa... presiden tercintaaa tak muncul wujudnyaaaa saatku ingin menemuinyaaaaa ~

Rabu, 19 Oktober 2016

Tips Backpakeran Ke Bandung

Guys, pernah enggak sih, ngalamin kondisi galau begini: kita punya budget yang enggak banyak, tapi tetap ingin berwisata atau berlibur?

Pasti pernah, ya? Atau lagi ngalamin sekarang? Hehe. Tenang. Jangan bingung, ya. Di sini ada solusinya.

Karena memang liburan adalah hak setiap bangsa. Betul kan?

Sabtu, 17 September 2016

Ada Sesuatu di Bakmi Pacor

Sore tadi, akhirnya saya bisa juga mampir di kedai milik Pak Awan, atau yang biasa dikenal dengan Papa Corel tanpa draw.

Sejak Pacor, begitu sapaannya, launching logo kedainya melalui Facebook, saya yang emang rada gila sama jenis mie, jadi penasaran banget. Karena, kedai Pacor itu berjudul Bakmi.

Saya sudah berkali-kali merajuk sama suami, supaya segera berkunjung kesana.
Tapi,

Jumat, 16 September 2016

Suka Duka Pembuatan E-KTP di Karawang

Heboh. 

Akhir-akhir ini masyarakat (sebagian) yang belum mendapatkan E-KTP memburu lembaga kepengurusan penduduk.

Pasalnya, beberapa waktu yang lalu, Mendagri mengeluarkan ultimatum, barangsiapa yang belum merekam/mendata E-KTP sebelum tanggal 30 September 2016, maka segala hal yang menyangkut administrasi yang bersangkutan akan tidak diberlakukan.

Wadaw. 

Rabu, 14 September 2016

Potret Hari Jadi Karawang Ke 383

383, bukan angka yang pendek. Ada banyak proses yang dilalui di dalamnya. Jatuh bangun. Derai air mata. Gelak tawa. Putus asa. Derap harap. Pro kontra. Kalah menang. Dan

Rabu, 24 Agustus 2016

Dua hal yang harus kamu tahu, Nak.

Di dua tahun usiamu ini, barangkali kau masih terlalu kecil untuk bisa membaca, namun izinkan mami mengutarakan sesuatu, yang suatu saat akan kau pahami, anakku sayang.

Fatimah Salsabila Azizah…


Tak terasa, dua tahun sudah kau tumbuh.

Terima kasih sayang, sudah hadir di kehidupan mami dan kami semua.

Terima kasih sayang, atas segala tingkah laku mu yang lucu, menggemaskan dan sesekali mengesalkan, hahaha.

Terima kasih sayang, dari mu, mami belajar untuk terus menyuburkan syukur. Karena, suatu saat kau akan tahu nak, bahwa syukur adalah daya tahan jiwa yang paling ampuh menghadapi dunia yang gaduh.

Terima kasih sayang, dari mu, mami belajar untuk terus memupuk sabar. Karena, suatu saat kau akan tahu nak, bahwa sabar itu imun yang paling penting bagi jiwa setelah syukur.

Terima kasih sayang, dari mu, mami tahu bahwa selalu ada pengorbanan untuk cinta. Dan suatu saat kau akan tahu, nak. Semua yang orangtuamu pernah lakukan tak lain adalah karena kami senantiasa terus belajar mencintaimu.

Terima kasih sayang, dari mu, mami menginsafi bahwa menjadi ibu meski tak mudah, adalah sebuah anugerah. Anugerah yang tak terhingga.

Dan maafkan sayang, atas ketidak sempurnaan cara yang orangtuamu lakukan, entah yang kami tahu ataupun tidak, ketika membimbingmu. Namun, suatu saat kau akan tahu nak, cinta kami padamu selalu sesempurna angka delapan. Tak putus.

Maafkan sayang, bila ada khilaf yang terselip saat kami mentarbiyahmu. Ingatkan saja kami kelak, jika suatu saat kau telah paham mana yang hak mana yang batil. Karena suatu saat kau pun akan tahu nak, bahwa orangtua pun perlu menerima nasihat dari anaknya. Tentu dengan cara yang ahsan ya sayang.

Dan di usiamu yang kedua tahun ini, ada dua hal sayang, yang harus kau tahu, anakku.

             Bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat (bagi ummat)
-          Bahwa sebaik-baik perhiasan adalah wanita shaleha

Maka, doa mami dan papi untukmu, jadilah sebaik-baik keduanya, sayang. Aamiin.

Love you, nak.


<3


24-08-16, Rabu.
di 
Rumahku surgaku



Kamis, 16 Juni 2016

Pelajaran Dari Kartu SD

Ketika memulai menulis ini, saya sedang dalam perjalanan di Bandung. Sedikit macet di jalan Holis, karena kita cukup molor dari jadwal yang seharusnya.

Saya bisa menulis ini setelah kisah drama kartu SD alias kartu memori hape, yang membuat saya berhari-hari kemarin cukup sesak. Karena, kartu SD saya yang kemarin itu RUSAK. Sayangnya, saya belum sempat mem-backup data-data yang ada di dalamnya. Termasuk foto-foto bocil saya yang aktif, dan banyak file penting lainnya. Hiks. *GigitSpion*

Selasa, 07 Juni 2016

Review film Kungfu Panda season 3



Pernah menonton Kungfu Panda? Saya pernah. Tapi, saya tidak mengikuti dari seri pertama. Yang saya tonton bahkan langsung ke Kungfu Panda season 3. Karena, yang ada di kompi cuma season itu. Hahaha.
Walaupun begitu. Saya sangat menikmati ceritanya. 
sumber gambar dari sini
 

Betapa polosnya Po si panda besar yang lucu itu. Dia berguru di perguruan Oogway. Oogway sendiri telah lama meninggal. Maka, estafet keguruan dilanjutkan oleh Shifu. Oogway menitipkan sebuah pesan alam kepada Shifu. Tentang, sesuatu yang luar biasa, yang ada pada diri Po. Sampai-sampai Oogway menjulukinya dengan sebutan Kesatria Naga.

Namun, walaupun tahu Po dijuluki Kesatria Naga, bahkan bangga dengan nama itu, Po sendiri tak pernah mampu untuk mengetahui apakah sesuatu yang luar biasa pada dirinya itu. Po, tak pernah tahu apa maksud dari Kesatria Naga itu sendiri.
Hanya saja, Shifu sering mengingatkan, bahwa untuk mengetahui apa sebenarnya Kesatria Naga, Po harus tahu jati dirinya sendiri.

Jati Diri? Ah, Po meradang. Pasalnya, dia belum tahu jati dirinya sendiri. Apalagi selama ini, sebagai seekor Panda, Po justeru diasuh oleh seekor Angsa. Ya, selama dua puluh tahun, Po hanya tahu bahwa dia berasal dari telur. Sampai pada akhirnya, Angsa tersebut memberitahukan fakta yang sebenarnya, bahwa Po adalah seekor Panda, bukan seekor Angsa. Po pun akhirnya tahu bahwa Ayahnya yang selama ini telah membesarkannya, bukanlah Ayah kandungnya. Ayah kandung Po di mana?

Pertanyaan itu terjawab sudah akhirnya. Ayah Po yang bernama Li Shan, akhirnya berhasil menemukan Po, bayi pandanya yang dulu ia beri nama Lotus Kecil.

Alur cerita begitu menarik. Dan tentu saja lucu.

Baru saja Po kegirangan memperkenalkan semua yang ada di dalam perguruannya pada sang Ayah Panda, tiba-tiba ada serangan datang. Makhluk-makhluk jahat berbentuk giok zombie, menyerang Lembah. 

Po dan kawan-kawan seperguruannya, Tigress, Crane, Mantis, Vipper, dan Monkey serta Shifu pun melawan. Namun, ketika mereka nyaris menangkapnya, justeru ada suara lain dari makhluk itu, yang menyebut dirinya sebagai Kai. Dan makhluk jahat berwarna hijau itupun mendadak lenyap seperti asap ditelan angin.

Shifu bersama Po n the Genk mencari referensi, siapakah sebenarnya Kai itu? Setelah hampir gila karena tak juga menemukan, akhirnya referensi mengenai Kai pun terbaca.

Ternyata, Kai dulunya adalah saudara seperjuangan Oogway. Kai adalah teman dekat Oogway. Kai dulunya baik. Bahkan Kai pulalah yang berusaha mencari pengobatan agar Oogway yang ketika itu terluka parah. Dan mereka akhirnya sampai di sebuah desa rahasia Panda nun jauh di atas pegunungan sana.
Para Panda itu, ternyata memang bisa menyembuhkan Oogway, dengan kekuatan Chi yang mereka miliki.
  
Lanjut dari referensi yang mereka baca, Oogway menuliskan di ‘buku diary’ nya, bahwa saat Para Panda itu menyembuhkan Oogway dengan kekuatan Chi. Melihat kekuatan itu, Kai justeru mengingikannya untuk kepentingan dirinya sendiri. Bahkan Kai pun membunuh para Panda yang baik hati itu.
Oogway tentu tak tinggal diam. Dia yang baru saja sembuh, kemudian berusaha menghentikan ulah Kai. Saudara seperjuangan itu pun akhirnya berperang. Dan akhirnya Oogway menang. Sementara Kai dilemparkan ke alam Roh.

Oogway pun menulis bahwa suatu saat, Kai bisa saja kembali ke dunia ini. Dengan obsesi jahatnya, tentu saja. Namun, Oogway menegaskan, bahwa hanya Master Chi sejati yang mampu mengenyahkan Kai.

“Chi? Apa itu Chi?” tanya Po beberapa waktu lalu sebelum mereka diserang oleh Kai, pada saat Shifu berhasil mempraktekan Chi nya hingga sebuah bunga yang layu bisa berkembang kembali dengan indah.

Shifu bilang, Chi adalah kekuatan yang mengalir pada setiap makhluk hidup. Dan Chi bisa didapatkan ketika kita mampu mengendalikan diri. Shifu sendiri baru berhasil memekarkan bunga yang layu itu, dan butuh 30 tahun untuk melatihnya.

               Po pun langsung berteriak, bahwa Master Chi itu adalah Shifu. Namun, Shifu mengelak. Bukanlah dirinya, melainkan Po lah yang bisa jadi Master Chi sejati. Seperti yang telah diprediksikan oleh Oogway, dan itulah mengapa Oogway menjuluki Po sebagai Kesatria Naga.

               Po kembali stress. Bagaimana mungkin dia bisa menjadi Master Chi sejati? Karena, mengajarkan Genknya kungfu saja yang ada malah kacau balau? Po memang bisa kungfu. Tapi, mengajar kungfu? Lalu menjadi Master Chi? Bagaimana bisa?

               Ditengah kegalauan Po dan the Genk, Ayah Kandung Po, Li Shan, memberanikan diri untuk bicara. Bahwasannya dia bisa menjadikan Po sebagai Master Chi Sejati.

“Benarkah?” tanya Po ragu.

“Tentu. Karena aku panda.” Jawab Li shan, mengingat Master Chi sejati yang diceritakan Oogway memang berasal dari kaum Panda.

Syaratnya, Po harus ikut pulang ke desa Panda. Dan menemukan jati dirinya di sana. Karena, Master Chi sejati harus tahu dulu apa jati dirinya, sebagaimana yang dijelaskan Shifu.
Akhirnya, Po pun pulang. Walaupun Ayah angkatnya keberatan. Dan ternyata sang ayah Angkat menyelinap masuk ke dalam tas Po. Dengan kata lain, Ayah Angsa memaksa ikut bersama Po dan Li Shan.

Sesampainya di desa Panda, Po benar-benar berusaha menjadi seekor Panda. Karena selama ini, dia berprilaku tak seperti Panda umumnya. Dan setiap Po ingin latihan Chi pada Ayah kandungnya, Li Shan selalu mengatakan bahwa ini belum waktunya.

Sementara, teman-teman Po sudah menjadi korban Kai. Karena Kai menyerang lebih cepat ke istana perguruan Oogway. Kai menghancurkan istana dan membuat Shifu bersama Genknya Po menjadi zombie giok yang ‘telah dicuci otaknya agar menurut terhadap perintah Kai’.
Namun untungnya, Tigress selamat. Dan Shifu sempat mengingatkan Tigress untuk segera menyusul Po. Berharap Po telah berhasil menjadi Master Of Chi.

                Hal-hal konyol, lucu, sekaligus mengaharukan mengiringi alur cerita besutan Dreamworks Animation ini.

                Semangat Po untuk bisa mempelajari Chi sangat menggebu. Dan pada saat yang tak disangka-sangka, Tigress sudah tiba di hadapannya. Po pun kaget dengan kabar yang dibawa Tigress, bahwa semua teman-temannya telah diambil oleh Kai. Bahkan, Kai pun sekarang sedang mengincar Po dan seluruh Panda yang ada di sana.

Sontak, Li Shan menyuruh semuanya mengamankan diri. Po mengejar Ayahnya, ingin segera diajarkan Chi. Namun, sang Ayah terus saja menghindar. Hingga akhirnya, Li Shan mengatakan yang sejujurnya, bahwa Ayahnya tidak bisa mengajarkan Chi. Mungkin para pendahulu Panda bisa melakukannya, namun generasi Ayahnya sudah tak mempelajarinya lagi.

Po pun kecewa, bingung dan merasa bersalah. Kecewa, karena Ayahnya tak jujur dari awal. Bingung, bagaimana dia harus melawan Kai sementara apa-apa tentang Chi saja dia tidak tahu. Dan merasa bersalah, karena julukan Kesatria Naga melekat padanya sementara dia belum mengerti apa yang harus dilakukan.

Namun, tiba-tiba, kedua ayahnya, juga seluruh Panda siap menjadi tim Po. Dan Po akhirnya menemukan apa yang dimaksud Shifu, bahwa jadilah diri sendiri. Sehingga, ketika seluruh Panda minta diajarkan kungfu pada Po, Po mengajarinya sesuai dengan kemampuan masing-masing, tanpa melupakan kodratnya sebagai Panda. Po akhirnya menemukan jati diri yang sebenarnya.

                Awalnya Po hampir kalah, namun berkat panduan yang ada, Po dan seluruh Panda pun akhirnya bisa mempraktekan Chi. Bahkan Po, benar-benar mahir menjadi Master Of Chi. Kai pun berhasil dikalahkan. Dan teman-temannya yang sempat ‘diculik’ Kai, berhasil di kembalikan.
Hingga, Po dan segenap penjuru Lembah, bisa mahir kungfu dan menguasai Chi. Dan dengan Chi itulah, setiap penjuru lembah menjadi lebih indah, lebih damai. Bahkan tumbuh-tumbuhan yang layu di seantero lembah pun menjadi segar kembali.

Film ini adalah animasi yang saya beri nilai 9 dari 10. Karena, film ini bisa dijangkau anak-anak. Sekalipun pangsa sebenarnya adalah orang dewasa. 
Dan saya baru tahu, kalau Jackie Chan, aktor laga favorit saya, ikut menjadi pengisi suara di film ini, hehehe.

                Banyak hal yang bisa dipetik di sini. Seperti kasih sayang orangtua kepada anaknya, sekalipun dia bukan orangtua kandung. Tentang belajar menghargai keputusan, mencari solusi, pantang menyerah, belajar percaya diri dan kesungguhan memahami jati diri sendiri kemudian melaksanakan amanah yang telah digariskan. Dan yang paling utama hikmah dari cerita ini adalah mengenai pengendalian diri.

Nah, jadi? Sudahkah kita menceklis semua hal yang tercermin dalam hikmah itu pada diri kita?

Salam, 
Djayanti Nakhla Andonesi
^_^

Rabu, 01 Juni 2016

Penguin VS Gurita [Review Film]



  Review Film  Penguins Of Madagascar



Nonton film ini, sumpah bikin saya ngakak, merenung sekaligus tertohok. Film animasi yang saya tonton ini menghadirkan kisah petualangan beberapa ekor Penguin.

Sumber gambar dari sini

Dibuka dengan percakapan tak penting namun bermakna dalam dari Skipper dan Richo juga Kowalski saat mereka masih menjadi penguin kategori remaja. Mereka bertiga benar-benar antimainstream. Di saat penguin lain berjalan ikut-ikutan tanpa tahu arah dan tujuan yang jelas, Skipper justeru mempertanyakan esensi dari apa yang mereka lakukan.

Pada episode ini, saya tersentil. Kita ini manusia, seringkali seperti penguin-penguin itu. Ikut-ikutan semata. Padahal, apa yang kita ikuti, tidak jelas arah dan tujuannya apa. Padahal bisa jadi, di ujung sana adalah jurang.

                Saat Skipper dan Kedua CS nya berbincang-bincang tentang apa sebenarnya fungsi dari sayap mereka, dan akhirnya mereka menemukan fungsi lain, tiba-tiba ada sebutir telur yang menabrak mereka. Telur itu terus bergulir sampai jauh. Sampai akhirnya hendak jatuh ke jurang. Namun, tak ada yang peduli dengan telur itu, kecuali Skipper. Akhirnya Skipper mengejar telur itu, untuk menyelamatkannya. Sampai, nyaris saja Skipper jatuh ke jurang. Namun untungnya, Kowalski dan Richo berhasil menolongnya. Meski pada akhirnya, mereka tetap menjatuhkan diri juga untuk menyelamatkan sang telur dari kunyahan predator-predator laut.

Skipper CS menyadarkan saya,

Senin, 23 Mei 2016

6 Hal yang Perlu Dipersiapkan untuk Menyambut Ramadhan

 sumber gambar dari sini



Bulan suci nan penuh berkah sebentar lagi tiba. Karenanya, sebagai muslim dan muslimah kece, kita harus bergembira menyambut ramadhan. Kenapa begitu? Karena, bulan ramadhan ini adalah bulan di mana segala amal dibalas dengan berlipat ganda, namun jangan lupa, syarat dan ketentuanya berlaku, ya. ^_^

Bahkan, Rosulullah saw., pernah bilang seperti diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, “Andaikan para hamba mengerti kebaikan yang ada di dalam Ramadhan, niscaya umatku menginginkan Ramadhan sepanjang tahun”

Wow! Berarti memang kita pantas bergembira menyambut bulan suci ramadhan, karena di dalamnya amat sangat melimpah kebaikan dan keberkahan.

Nah, jadi bukti kita bergembira itu apa?

Senin, 16 Mei 2016

Kapal Telah Berlayar ke Samudera

Biarkan jiwamu dan jiwaku menyatu
Kita menari riang di atas cinta yang syahdu
Biarkan bahagia ini terus dijaga di dalam kalbu
Karena Allah telah menghalalkan engkau untukku, dan aku untukmu
~Djayanti Nakhla Andonesi~

Menjadi mempelai wanita dan pria, dalam satu kursi pelaminan yang sama, dalam ijab dan kabul yang menggema hingga ke langit-Nya, adalah naluri sekaligus dambaan seluruh insan yang nalar pikirnya masih terjaga.

Karena, cinta dan nafsu adalah dua hal yang tak sama namun tipis sekali bedanya. Maka cinta yang sebenarnya, adalah yang mendahulukan petunjuk-Nya, ketimbang bujukan mantan penghuni surga yakni syaithon namanya.

Bukanlah cinta, bila seorang insan mencumbu yang bukan mahramnya. Bukanlah sayang bila insan memadu kasih sebelum halal menggenapinya. Karena cinta yang sebenernya, akan lebih dulu mengikuti panduan Yang Maha Memiliki Cinta.

Maka berbahagialah. Bila insan

Minggu, 15 Mei 2016

Say Hello (again)

Wah, sudah lama juga ya, saya tidak menengok ‘rumah’ ini. Banyak faktor, memang.

Pertama, dari bulan maret akhir sampai april, saya riweuh pindahan rumah dalam arti sebenarnya. Kedua, dari pindahnya saya tersebut, saya juga riweuh untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Ketiga, ada hal-hal lain yang tidak bisa saya sebutkan di sini yang menyebabkan saya amat sangat riweuh. Sehingga, saya pun merelakan blog ini sepi dalam beberapa dekade, halah. Hehehe.

Dan sekarang, tanpa ingin berjanji karena khawatir mengingkari, saya akan berusaha untuk menulis lagi. Kawan, ternyata menulis memang salah satu terapi untuk mengurai berbagai macam perasaan termasuk spam-spam di pikiran yang tak sebaiknya di pendam. Hehehe.

Benar, kata seorang teman saya, menulis bisa membantu pikiran tetap 'waras'. Dan, sebelum saya menjadi tidak 'waras', saya akan menulis lagi. Semoga konsisten sih, Hahaha.

Baiklah, tidak ingin berpanjang kalam, saya sudahi dulu say hello setelah beberapa dekade saya tak nongol di sini. Adakah yang kangen dengan tulisan saya? Saya rasa kemungkinannya 0,0009 persen, hahaha. Ya sudahlah ya, saya tak perlu tim survey seperti itu, yang saya butuhkan sekarang adalah, keberanian untuk konsisten. Yuk Mari. *NelenNotebook.



Salam,
Djayanti Nakhla Andonesi

Rabu, 16 Maret 2016

Pendahuluan Tulisan

Bab 1
(Pendahuluan)

1. Iqra! Iqra bismirobbik!

Bacalah! Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu, Allah!

Mendahulukan untuk menyebut nama Allah dalam aktifitas apapun merupakan langkah kebaikan. Merupakan sikap orang beriman.

Mendahululan untuk menyebut nama Allah dalam kegiatan kita, akan membuat kita selalu sadar, bahwa kita selalu diawasi oleh Allah Swt., kapan pun dan di mana pun. Sehingga, akan terasa tidak wajar bila kita melakukan perbuatan yang dimurkai-Nya.

Mendahulukan untuk menyebut nama Allah dalam setiap hembusan nafas kita, berarti melatih jiwa kita untuk selalu menyadari, bahwasannya tak ada daya dan upaya sedikitpun selain dari daya dan upaya yang berasal dari kekuatan-Nya.

Mendahulukan untuk selalu, dan selalu menyebut nama Allah, dalam setiap detak jantung kita, berarti mendidik jiwa kita, agar senantiasa dekat dengan-Nya. Karena hanya orang-orang yang dekat dengan-Nya lah yang mampu melihat keagungan dari tanda-tanda kebesaran-Nya, yang mampu meresapi setiap hikmah dan mengambil ibrahnya, yang mampu mensyukuri apapun nikmat dan karunia-Nya, yang mampu menguatkan jiwa. Dan hanya orang-orang yang dekat dengan-Nya lah yang bisa merasakan lezatnya iman.

Maka, iqra, iqra bismirabbik!

Termasuk, bacalah tulisan ini, dengan mendahulukan menyebut nama Tuhanmu, Allah. Agar, ketika berselancar di dalamnya, Allah karuniakan petunjuk yang berguna di dunia dan akhirat bagi kita semua, khususnya bagi siapa saja yang beriman.

Ah, iman. Mendengar kata itu, barangkali ingatan kita akan melesat jauh ke masa lampau. Masa di mana kita duduk di kelas, mendengarkan guru agama kita menjelaskan apa itu iman, sementara sebagian kita -murid-muridnya kala itu- ada yang mengantuk karena bosan, ada yang usil tak memperhatikan pelajaran, ada yang melamun apakah masih bisa membeli baju lebaran atau tidak, ada yang sesekali menyimak apa yang dikatakan gurunya tersebut namun masuk telinga kanan langsung keluar telinga kiri, ada juga yang ingin buru-buru mengakhiri pelajaran karena perut sudah keroncongan ingin makan siang.

Ah, entah yang manakah sikap kita dahulu saat mendengarkan penjelasan guru agama kita mengenai iman ini. Terlepas dari kurang kreatifnya cara pengajaran dahulu. Namun tentu kita tak berhak menyalahkan guru, karena memang kita lah yang keliru, karena tak benar-benar memperhatikan.

Dan ternyata, barulah sekarang kita merasa menyesal, mengapa tak sedari dulu sungguh-sungguh mendalami dan memahami pelajaran agama. Karena, setuju atau tidak, agama lah yang sangat krusial bagi kehidupan kita. Sampai-sampai, B.J Habibie, seorang jenius yang IQ nya diketahui paling tinggi abad ini, yang telah berhasil membelalakan mata dunia atas jerih payahnya membuat pesawat pertama di Indonesia, berkata lirih, bahwa andaikan dari dulu saya tahu pentingnya agama, maka saya akan mempelajarinya lebih dalam, begitu kurang lebihnya beliau mengatakan.

Lalu, apakah berarti kita tak boleh mempelajari ilmu lain selain ilmu agama? Bukan. Bukan begitu maksudnya. Tak ada dikotomi antara ilmu agama dengan ilmu lain. Karena sesungguhnya semua ilmu yang ada di muka bumi ini milik Tuhan, karena berasal dari Kalam-Nya.

Namun, yang mesti kita garis bawahi adalah, di antara ilmu-ilmu lain yang sangat banyak ini, hendaklah kita mendahulukan ilmu agama. Agar kita bisa beragama dengan benar. Tidak sesat atau menyesatkan. Tidak keliru dan mengelirukan.

Karena, bila kita mendahulukan untuk mempelajari ilmu agama dengan baik dan benar, justeru kita akan merasakan harmonisasi yang nyata, bahwa apapun ilmu yang kita pelajari bila kita sudah mempunyai bekal agama yang benar, insya Allah kita tidak akan terperosok ke jurang kekufuran, kemaksiatan atau kedzaliman.

Ilmu agama yang dipahami dengan benar, tentunya akan sangat bermanfaat bagi kita semua. Karena bila kita paham agama dengan benar, kita akan memanfaatkan ilmu-ilmu lain seperti sain, sastra, teknologi, dan lain-lain, dengan tujuan yang baik, demi kemashlahatan umat, demi kebaikan bukan sebaliknya.

Apalagi di zaman uedan sekarang, kita harus benar-benar terisi dengan ilmu agama yang benar. Agar hidup tak salah arah, tak salah langkah, pun tak salah kaprah.

Termasuk agar kita tak salah kaprah dalam mengartikan makna sabar.

2. Apakah itu sabar?

Saya haqqul yakin, siapapun yang membaca tulisan ini, pasti sudah tahu hal ini. Mungkin sangat sering atau bahkan bosan mendengar kata ini, sabar.
Ya, sabar terkadang adalah perkara yang mudah diucapkan, namun amat sulit untuk dilakukan. Apakah Anda setuju dengan kalimat barusan?

Setuju atau tidak, kenyataannya memang banyak yang lebih mudah mengatakan sabar, ketimbang benar-benar mempraktekkannya.

Bukan hal yang aneh memang bila kita mendapati hal demikian. Namun, barangkali kita perlu menelisik lebih jauh. Mungkin ada yang salah paham dengan kata sabar ini. Mungkin ada yang kurang jelas memperhatikan guru kita sewaktu kecil mempelajarinya. Sehingga, sangat sering kita dapati penempatan sabar di tempat yang tidak semestinya, seperti kisah berikut ini.

...

Suatu ketika, ada seorang pemuda yang mendatangi pacarnya, dia berniat untuk melakukan hal-hal maksiat. Namun, saat itu pacarnya menolak keinginan pemuda tersebut.

Sang pemuda pun menceritakan kegagalannya dalam mengajak maksiat tersebut kepada temannya. Lalu sang teman berkata, "sabar ya, bro!"
***
Alkisah, ada seorang pencuri yang sedang ditraining oleh seniornya. Pencuri amatir tersebut diarahkan untuk sabar terlebih dahulu ketika melihat situasi tidak kondusif untuk mencuri. Sang senior mengajarkan agar pencuri amatir itu mampu membaca situasi dengan sabar agar bisa mencuri di saat yang tepat. Sang pencuri amatir itu pun menuruti seniornya.

***

Astagfirullah, sungguh, sabar yang dimaksudkan pada penggalan contoh-contoh di atas adalah sabar yang salah kaprah.
Sama sekali tidak tepat, bila sabar dilekatkan pada prilaku yang buruk. Sama sekai tidak benar, bila sabar disematkan pada hal kemaksiatan.
Karena, Islam tidak mengajarkan sabar dalam kemaksiatan.

Allah dan Rosulnya telah mengajarkan kepada kita semua tentang sabar yang benar. Sabar yang sebenar-benarnya sabar. Sabar yang tidak diperuntukkan dalam keburukan, melainkan sabar yang diperuntukkan pasa kebaikan dan pada kebenaran.

Sebagaimana dalam Q.S. Al-'Ashr, dijelaskan,

"Demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman. Yang  mengerjakan amal shalih, yang saling nasehat-menasehati dalam kebenaran, dan yang saling nasehat menasehati dalam kesabaran."

Maka, bila kita beriman insya Allah kita tidak akan rugi. Bila kita beriman, berarti kita harus mengerjakan amal shalih. Bila kita beriman berarti harus mau memberi dan menerima nasehat, dan harus berada dalam kebenaran. Bila kita beriman, maka kita harus sabar.

Penting diingat, bahwa dalam Q.S Al-'Ashr, sabar diletakan dalam satu kalimat, bersama amal shalih dan kebenaran.

Maka, bila sabar yang digunakan dalam hal kedzaliman, atau kemaksiatan, dan sebagainya, itu bukan sabar.

Untuk itu kita harus sabar sekaligus beramal shalih dan berada di posisi atau jalan yang benar menurut-Nya.

Lebih lanjut soal sabar, tunggu tulisan saya selanjutnya, ya. Doakan buku saya tentang sabar ini, bisa terbit tahun 2106 ini, aamiin.
:)

See you!
^^
Djayanti Nakhla Andonesi



Senin, 29 Februari 2016

Ketika Saya Menulis

Ada banyak hal yang membuat saya terdorong untuk menulis.

Pertama, dari kecil saya memang senang sekali menulis.

Bahkan saya dan teman segenk (halah segenk :D masih pada krucil juga :D), sempat membuat 'buku' yang isinya adalah cerita yang kita karang sendiri. Istilahnya buku Trio. Karena waktu itu kita menulisnya bertiga.
Tentunya isinya jauh dari tata cara menulis novel yang baik dan benar, wong masih SD, hehehe.

Selain buku Trio,

Minggu, 28 Februari 2016

1-7-09 ~ 26-02-16

Saya mengawali tulisan ini dengan menghembuskan nafas berkali-kali. Bukan, bukan karena saya merasa keberatan. Melainkan hanya ingin menenangkan diri sendiri, karena biasanya saya baper luar biasa. Hahaha. Buktinya, sejak dua hari yang lalu setiap saya pamit, pasti reumbay. Padahal belum tentu juga yang saya pamitin merasa kehilangan saya, eh. Hehehehe.

But. It’s oke.

Senin, 08 Februari 2016

Resensi Novel Yang Ditakdirkan Juara 2 Indiva, Alhamdulillah

Siang hari, ketika saya dan keluarga sedang berkumpul di suatu tempat, saya mendapat notifikasi email, tanggal 31 Januari 2016. 

Saya terhenyak,

Rabu, 20 Januari 2016

Nyesel Deh Kalau Enggak Mengunjungi Tempat Wisata Karawang Ini!



Siapa yang suka piknik, cung! Siapa yang butuh liburan, cung! #Saya pun ikut ngacungin tangan, hehehe.

Ya, bagi teman-teman yang butuh banget refreshing, tapi enggak punya waktu lebih dan dana terbatas, tenang! Di Karawang juga banyak loh sebenarnya tempat wisata yang asyik tanpa membuat kantong kering kerontang.

Mau wisata model apa saja di Karawang ada! Dari mulai wisata air terjun sekaligus naik-naik ke puncak gunung, melihat tenangnya danau, atau merasakan vitamin sea alias laut, sampai menikmati wisata situs sejarah Indonesia, semuanya ada di Karawang. Lengkap kan?

Nah, kali ini, saya akan menuliskan dua dari tempat wisata yang sudah saya sebutkan di atas.

Gunung Loji

Gunung yang satu ini punya curug-curug yang luar biasa indah! Dan Curug Cigentis adalah satu icon air terjun di Gunung Loji. Sebenarnya masih ada enam curug besar lagi yang ada di kaki gunung Sanggabuana ini, namun baru curug Cigentis sajalah, curug paling besar yang boleh dikunjungi. Karena keenam curug besar lainnya, masih sangat rimba alias belantara pakai banget.

Dari informasi yang saya dapatkan, untuk sampai di curug Cigentis ini, paling tidak kita harus berjalan kaki sejauh 2 km, dari pos pembayaran wisata Gn. Sanggabuana dan Curug Cigentis. Dan kita hanya cukup membayar 5 ribu rupiah untuk bisa masuk ke kawasan wisata ini. Murah banget kan, sob?

Di ujung sana, kita akan bertemu dengan pos perhutani, bila sebelumnya nekat offroad sampai rute ini, maka pos perhutani bisa menjadi temat parkir motor yang kudu dipatuhi. Karena rute selanjutnya hanyalah jalan setapak. Mending bayar parkir 5 ribu sajalah ya daripada harus naik gunung sambil manggul-manggul motor? Hehehehe.

Di pos perhutani sana ada banyak pedagang yang menawarkan makanan dan minuman. Sekedar saran, sebaiknya bawa perlengkapan makanan yang cukup, karena harga makanan yang cepat saji di atas gunung tentu berbeda dengan harga makanan di dataran biasa. Ditambah, kita juga masih sangat butuh energi untuk mendaki, jadi pasokan makanan harus tetap terisi.

Perjalanan ke Curug Cigentis yang berada di ketinggian 1000 m di atas permukaan laut (dpl) dan memiliki ketinggian sekitar 25 meter dengan debit air yang dipengaruhi curah hujan turun di atas kawasan ini, bisa dibilang terjal. Tapi, setelah sampai di tujuan, semua kelelahan akan sirna begitu melihat tanda kebesaran Allah melalui air terjun ciamik ini. 

Curug Cigentis

sumber foto dari sini

Nah, untuk teman-teman yang rasa-rasanya tak sanggup menempuh ketinggian Curug Cigentis, tenang! Ada alternatif Curug Bandung.

Ya, FYI ya, curug yang namanya seperti kota yang dipimpin Pak Ridwan Kamil ini, bukan terletak di Bandung. Tapi Curug Bandung ini letaknya di Karawang, ya di Gunung Loji ini.
Curug Bandung juga tak kalah cantik dengan wisata air terjun lain. Terletak di Desa Mekarbuana, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Karawang, Propinsi Jawa Barat.
Tepatnya, Curug Bandung ini berjarak 43 km dari ibu kota kabupaten Karawang.  

Dan kabar baiknya, curug ini hanya terletak sekitar 25 m di bawah kaki Gunung Sanggabuana. Curug Bandung ini juga merupakan keajaiban alam dengan rangkain air terjun dalam satu aliran sungai dengan curug-curug kecil lain. Namun di antara curug-curug kecil lain, Curug Bandung ini yang terbesar.

Untuk teman-teman yang ada di luar Karawang atau luar Jawa Barat, bila menggunakan pesawat  tentu harus transit di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta di Jakarta. Dari sana, bisa menuju Karawang, baik dengan menggunakan kereta, bus ataupun kendaraan pribadi lainnya.

Bila masuk melalui tol Karawang Barat, itu lebih dekat. Nanti turun di jembatan Badami, dan melanjutkan jalan ke arah Loji.
Terus melaju sekitar 10 km ke Parakan Badak dan 3,5 km lagi menuju desa Jayanti, saya ulangi ya, Desa Jayanti *hahaha, GeER banget saya nama saya jadi nama sebuah desa. Hahaha.  Eh tapi, kurang lengkap sih, harusnya pake huruf D di depannya, baru deh jadi nama saya, Djayanti, hehehe. Eh apa sih nih, koq jadi ngelantur :D*

Pokoknya jangan lupa sering-sering nanya orang sekitar ya, karena mengandalkan GPS saja khawatir bermasalah sinyalnya. 

Dan yang pasti, pastikan kendaraan safety ya! Jangan sampai niat kita refreshing malah jadi dorong-dorong kendaraan. Hehehe.

Oke, dari Desa Jayanti kita perlu menempuh lagi 3 kilometeran, dengan berjalan kaki. Dan sampailah kita di Curug Bandung. Dan Curug inilah Curug pertama yang berhasil saya daki, itupun bersama anak-anak MoKa Karawang dan tim, pada tahun 2007. Horeeee!

Sayangnya, waktu itu belum punya handphone ya, jadi enggak bisa selfie-selfie kayak sekarang. Hahaha. Sayang bo, tempatnya kece bener. Di Curug ini, kita benar-benar merasa tenang, damai, nyaman, dan pastinya bikin kita mikir dan merenungkan kebesaran Allah. Maha suci Allah yang telah menciptakan alam begitu indah.

Curug Bandung di Karawang
Sumber foto dari sini

 
Aaah, saya mupeng pengin ke sana lagi. Mungkin nanti jika putri saya sudah bisa diajak naik gunung. Sekarang sih my bocil masih berusia satu tahun lima bulan. Hihihi.

Well, Mau ke Curug Cigentis ataupun CurugBandung, pastikan bawa peralatan pribadi dan baju ganti. Karena, setelah tiba dilokasi, sangat mungkin ingin menceburkan diri di air atau merasakan sensasi air terjun menyentuh seluruh tubuh.

Oia, pastikan juga barang-barang yang dibawa aman ya. Dan kalau ingin menikmati suasana wisata ini lebih tenang, disarankan untuk datang pada hari biasa, bukan pada hari libur, karena biasanya wisatawan pada hari libur membludak.

Satu lagi, jangan buah sampah sembarangan ya, kalau enggak nemu tong sampah mending bawa pulang lagi saja sampahnya. Karena sayang dong, masa tempat kece dikotorin? Entar disuruh tanggung jawab di akhirat, hayo….

Ayo, Cuma ceban dong loh (5 ribu bayar pos, 5 ribu bayar parkir) untuk bisa menikmati kawasan wisata kece yang satu ini.

 Danau Cipule

Letak Danau Cipule ini ada di tepi Sungai Citarum, Desa Mulyasari Kecamatan Ciampel, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Danau ini mempunyai lebar sekitar 90 hektar dan kedalaman dari dua sampai dua puluh meter.
 
Bagi yang sedang patah hati, danau ini bisa jadi destinasi. Tentunya bukan untuk menceburkan diri, ya. Sayang dong, masa depan masih panjang. Masih banyak orang-orang tulus yang mau nerima kita apa adanya, koq. #Loh koq ini jadi khutbah soal galau? :D

Tapi asli, tempat ini memang sangat tenang, sejuk, sehingga bisa dijadikan alternatif untuk relaksasi pikiran.

Dan rekomendasi ke danau ini bukan saja untuk mereka yang sedang galau, danau ini juga bisa jadi alternatif untuk berlibur bersama keluarga. 

Teman-teman tak perlu khawatir kelaparan di sini, hehehe. Karena di sekitar danau ini terdapat warung-warung sederhana yang menyediakan menu ikan emas bakar dan cobek ikan emas yang ditangkap dari jaring terapung di Danau Cipule. Wuih, asik kan?

Dan uniknya, di tengah danau Cipule ini juga terdapat pulau buatan yang rindang oleh pepohonan. Teman-teman bisa memakai jasa perahu eretan yang tersedia. Cukup memberi tip saja. Dan teman-teman bisa merasakan sensasi Toba-nya Karawang. Seru kan?

Danau yang sederhana ini, mempunyai sejarah tersendiri. Pasalnya, dulu danau ini adalah bekas lokasi galian pasir. Namun akhirnya oleh pemerintah Jawa Barat dimodif jadi tempat wisata air yang menyenangkan. Apalagi danau ini juga pernah menjadi tempat berlangsungnya SEA-GAMES 2011 cabang olahraga dayung.
Taraaa... inilah penampakan Danau Cipule setelah direnovasi.
Danau Cipule
Sumber gambar dari sini






Ada satu pelajaran berharga yang bisa kita petik dari Danau Cipule ini. Bahwasannya, apapun latar belakang kita, sesuram apapun masa lalu kita, kita selalu mempunyai potensi untuk menjadi pribadi yang lebih baik, asalkan kita sabar dan bersungguh-sungguh.
Sebagaimana Cipule. Yang tadinya lokasi terbengkalai, kini justeru menjadi tempat wisata yang aduhai.


Danau Cipule
Sumber gambar dari sini



Untuk teman-teman yang berada di luar Karawang atau luar Jawa Barat, dan ingin berkunjung ke sini menggunakan pesawat, sekali lagi tentu mesti transit di Bandar Udara Internasional Soekarno - Hatta. Karena di Karawang belum ada bandara. Hehe. Kabarnya sih dulu bakalan ada, tapi entah ya kapan terjadinya.

Jadi, sudah atur waktunya untuk berkunjung ke tempat wisata murah meriah di Karawang ini kan?

Masih banyak tempat wisata yang tak kalah menariknya di Karawang, insya Allah dalam kesempatan selanjutnya saya tuliskan kembali.


Selamat berwisata di Karawang tercinta. ^^



   Salam, 
   Djayanti Nakhla Andonesi
   Karawang