Dari Rimba Afrika sampai Konstantinopel


‘Meledak!’

Satu kata yang paling mewakili isi buku ini, menurut saya. Eits, bukan isinya anarkis apalagi radikalis. Meledak yang saya maksud di sini adalah,

Tahun Baru 1440 Hijriah, Apa Saja Yang Akan Ditargetkan?

Alhamdulillah kita sudah memasuki tahun baru Hijriah yang ke 1440. Saya pun merenung. Apa saja yang telah saya lakukan selama setahun ke belakang? Apakah yang saya lakukan lebih banyak manfaatnya atau sebaliknya?

Ternyata Bakmi Jawa ini ada di Perumnas!



Udah baca curhatan saya di sini? Hehehe. Silakan baca dulu, siapa tahu ada manfaatnya ☺☺

Nah, jadi sebenarnya, saya udah beberapa kali makan Bakmi Jawa ini, karena beberapa kali suami bawain ke rumah. Tapi, baru kemarin saya tahu dimana lokasinya.



Yup. Lokasinya ternyata ada di blok belakang Masjid Raya Perumnas. Jalan untuk melalui ke lokasinya emang kurang nyaman sih, karena gank ke blok situ belum mulus banget jalannya.

Tapi, setelah sampai di kedai Bakmi Jawa, rasanya terbayarkan dengan kenyamanan suasana kedai.



Selain desain interior yang modern minimalis, kedai ini juga menggabungkan nuansa pedesaan, seperti menyediakan fasilitas lesehan, dan sebubah Gazebo di sudut ruangan.

Fasilitas lain seperti toilet dan tempat cuci tangan juga ditempatkan terpisah.

 

Kelebihan berkunjung kesana, adalah selain karena rasa dari menunya yang oke serta tempatnya yang nyaman, kita juga disuguhkan audio murottal yang disiarkan dari mikrofon Masjid.

Ya, kedai ini memang dekat dengan Masjid Raya Perumnas. Sehingga bagi yang memang sedang mampir ke Masjid Raya Perumnas, bisa melipir sedikit ke blok belakang perum untuk bisa menemukan kedai cozy ini.



Jadi, kalau misalnya ada acara buka puasa bersama, atau hang out bareng teman dan keluarga, Kedai ini bisa jadi rekomendasi untuk semua.

Tapi, waktu itu saya lupa bertanya, apakah di kedai ini ada free wifi nya atau enggak, hehehe.

Oh, ya, sebenarnya, nama kedai ini adalah BBJ. Bandeng Bakar Juwana. Karena kedai ini memang awalnya mengusung tema bandeng. Pokoknya, semua tentang bandeng yang dikreasikan dengan berbagai variasi ada di kedai ini.

Nah, bakmi Jawa yang menurut saya enak ini, adalah menu tambahan dari menu utama perbandengan. Menu yang lainnya juga ada sih, enggak kalah enak. 

Silakan berkunjung untuk menjajal langsung citra rasa yang disajikan oleh kedai ini.

Dan saya sarankan sih, baiknya kalau ke kedai ini rame-rame, selain karena lebih seru, juga biar enggak ketahuan jomblonya, eeeeh. Becanda ya mblo. Hehehehe.



Oh ya, mari kita biasakan untuk 'merapikan' kembali meja yang kita gunakan ketika berada di fasilitas publik seperti ini.




Simple sih, kita cuma tinggal menumpukkan piring-piring (berikut bekas tissue dan sisa makananya) juga gelas ke tengah meja atau ke salah satu sudut meja, sehingga menyisakan meja yang lapang dan bersih. Sehingga memudahkan petugas resto untuk mengambil alih kemudian.

Kalau ada yang bilang, "halah, ngapain sih repot-repot ngerapiin kembali, kan ada pelayan atau petugasnya yang nanti membersihkan? kita mah tinggal cabut aja lah"

Emang sih, ada petugas kedai atau resto yang nanti akan membersihkan dan merapikan. Tapi, kalau keadaan sedang ramai sekali dan petugas kewalahan, barangkali bantuan kecil kita yang sederhana ini mampu membuat mereka senang, sehingga lebih semangat bekerjanya.

Pun, jika kita membereskan meja kita sebelum meninggalkan lokasi, orang yang datang selanjutnya tidak harus menunggu lama untuk bisa duduk nyaman di tempat yang baru saja kita pakai.



Toh, kita sendiri juga lebih senang mendapati meja makan yang lebih rapi saat berkunjung ke resto atau kedai makanan kan? 

Semoga gerakan sederhana ini mampu menyenangkan banyak orang. Jadi pahala yang banyak deh, Aamiin.

Hal jazaa ul ihsaani illal ihsaan. Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula) QS. Arrahman : 60.

Salam,
Djayanti Nakhla Andonesi

Sempat kecewa gitu sama provider ini, tapi ternyata bisa juga…



Ditemani oleh suami dan anak-anak, saya pergi ke salah satu gallery sebuah provider. Udah sering sih, bolak-balik kesini. Seperti ketika mencoba mengaktifkan kembali kartu yang terlanjur terblokir. Tapi, unfortunately, enggak bisa. Dikarenakan…  (nanti deh ditulis dipostingan lain, ya)

Nah, kali ini, kita niatnya mau minta tolong ngebenerin paket datanya Mama, karena udah diisi pulsa sekitar seratus ribu lebih, tapi koq pulsanya enggak bisa diapa-apain. Dipaketin dengan nominal berapapun enggak bisa, ditransfer pulsanya pun enggak bisa. Malah, berkurang sekian rupiah dari awal mengisi, padahal sudah meng-offkan data seluler.

Biasanya gampang koq kalaupun kita maketin sendiri. Enggak ada kendala kayak gini. Makanya saya penasaran ingin langsung menghubungi Customer Service.



Eh tapi, pas udah sampe sana, keluhan kami enggak bisa ‘diurus’. Dikarenakan, Mama –si pemilik nomor hape yang bermasalah, enggak ikut. Padahal saya udah bawa KTP asli MAMa dan hapenya, supaya bisa langsung diperbaiki paket datanya.

Agak kecewa sih, karena ternyata enggak bisa walaupun sudah diwakili saya yang notabene anaknya, hehehe.

“Jangankan anaknya bu, suaminya pun enggak bisa, harus sama yang punya KTPnya.” Kata petugas CS.

“Yah, Mama saya lagi enggak bisa ikut, mbak.” Saya mengiba.

“Maaf, bu. Kalaupun mau diwakilin, harus bikin surat kuasa bermaterai.” Jawab sang CS.

Duileeeee. Makin ribet, ya, tibang mau benerin paket data doang, gumam saya. Si mbak CS nya jadi agak canggung gitu. Mungkin karena ngerasa enggak enak, kali ya.

“Ada saran lain enggak mbak?” tanya saya lagi.

“Hm,” si mbak nampak mikir, “Coba aja sim-cardnya di masukkin ke hp jadul, terus aktifasinya di hape jadul itu, kalau udah ada respon dari provider dan aktif paket datanya baru deh dipindahin ke hp androidnya.”

“Oh, gitu, ya, mbak.” Sahut saya.

Si mbak CS memberikan KTP Mama saya.

“Oh, yaudah deh, makasih, mbak.” Saya menerimanya dengan agak kecewa dan mikir, mau minjem hape jadul kemana, kan hp jadul kita udah pada rusak, apalagi chargerannya udah kebanting-banting dimainin bocah, haghaghag.

Kami pun keluar dari ruangan bernuansa kuning yang ada di salah satu Mall di bilangan Telukjambe itu.

Nah, jadi gitu, guys, kalau mau benerin apa-apa soal sim-card atau no hp, harus orang yang sesuai dengan KTP nya yang datang langsung ke gallery. Aturannya gitu. Enggak bisa diganggu gugat. Kecuali kalau mau bikin surat kuasa plus materai, baru kita boleh mewakili dengan catatan KTP asli pemilik nomor atau sim-cardnya harus dibawa serta.

“Mi, kita mau kemana lagi?” tanya suami setelah kami berjalan jauh dari gallery itu.

“Pulang.” Jawab saya pendek.

Suami saya paham banget kalau jawaban yang keluar hanya seperlunya, berarti saya lagi bueteee. Haghaghag.

Sesampainya di parkiran,

“Mami, masa kita enggak beli apa-apa, sih?” itu bukan pertanyaan dari suami saya, tapi sebuah protes dari anak sulung saya yang baru berusia 4 tahun. Hahaha.


Saya jadi nyengir mendengarnya. “Nanti lagi aja, ya.”

“Mami,” nah itu suara suami saya manggil dari belakang, karena emang sejak dari ruangan gallery itu, jalan saya teramat cepat ingin sampai rumah, hahaha.

Saya menoleh kepadanya.

Suami saya mengangkat-angkat alisnya, “Mami, gimana kalau kita ke bakmi Jawa? Mau enggak?”
Tawaran yang menyenangkan dan sangat dibutuhkan istrinya di saat-saat bete seperti ini, hehehe. 

Saya nyengir lebar, karena persekian detik yang lalu, saya memang sedang membayangkan, kayaknya enak makan mie Jawa biar enggak bete. Eh ternyata doi ngajak makan itu pisan, jadi kayak ada semacam gelombang elektromagnetik yang menyambungkan, #hazek.

“Yeh, mau enggak?” Suami saya membuyarkan lamunan saya.
Lalu dia mendahului langkah saya yang sedang menggendong dede Rara, “Yaudah kalau enggak mau.”

“Mauuu laaah.” Saya akhirnya tertawa.


Sesampainya di rumah, dan setelah tamu yang membeli herba-herba hni hpai pulang, saya pun iseng-iseng memindahkan Sim-card Mama ke slot sim ke dua, karena kebetulan hp yang dipegang Mama dual sim, dan yang satunya kosong.

Kalau Mbak CS kan bilangnya harus ganti ke hape jadul dulu, tapi masalahnya, kami hape jadul kami rusak, jadi saya berinisiatif untuk mencoba mengganti tempat ke slot sim di hp android yang sama. Susuganan weh kitu. Mun tiasa alhamdulillah, mun henteu mah nyaaaa wayahna, urang teangan deui Gallery nu sanes. Hehehe. Karena kebetulan, kita baru ngeh juga, kalau gallery provider untuk di Karawang ini, cabangnya ada yang berlokasi di daerah Rawagabus.

Klik.

Saya baru saja memasangkan chasing hape Mama kembali, sudah saya tukar Sim cardnya, ke slot ke dua yang notabene kosong enggak diisi kartu lain.

Saya coba registrasi paket data, dengan status data seluler di offkan. Dan, boom!

Eh enggak boom sih bunyinya, biasa aja bunyi sms masuk. Isinya : Registrasi paket data Anda sedang diproses. Lalu disusul ucapan-ucapan selamat dari dirinya, eh dari providernyah maksudnya, yang menyatakan bahwa paket datanya berhasil diaktifkan. Enggak jadi hangus pulsanya, hehehe.
Alhamdulillah, ternyata saran dari Mbak CS nya berhasil saya modif dengan  baik, makasih mbak CS!

Oke deh, semoga tulisan yang seluruhnya curhat ini ada manfaatnya, hahaha.

Salam,
Djayanti Nakhla Andonesi

4 Harapan di Empat tahunnya Caca


Alhamdulillah, hari ini Caca menginjak usia 4 tahun. Enggak berasa emang kayaknya. Hehehe.
Masih inget banget deh, waktu itu jam empat sore, suami belum pulang dari acara kemping di sekolah, saya ngerasain kontraksi di rumah. Awalnya keluar flek, terus koq makin mules-mules gimana gitu, kayak cewek yang mau datang bulan haid, mulesnya lebih nyelekit tapi.

Momen Indah saat Lebaran Idul FItri


Ada banyak momen yang indah pada saat lebaran. Sebagai mana yang dialami oleh muslim umumnya. Dan beberapa di bawah ini adalah momen terindah yang saya alami.

Momen terindah saat lebaran adalah

Mayako Matsumoto Vs ‘Rezeki anak sholeh’



Beberapa hari yang lalu, teman dekat saya, bercerita bahwa anaknya yang baru kelas satu SD, dibekali tempat minum Tupperware, hilang di dalam kelas.

Sebenarnya awalnya begini, ketika keluar dari kelas dan baru sampai gerbang sekolah, teman saya ngeh, koq botol Tupperware yang dibawa anaknya enggak ada di tas. Lalu,

Dari Rimba Afrika sampai Konstantinopel

‘Meledak!’ Satu kata yang paling mewakili isi buku ini, menurut saya. Eits, bukan isinya anarkis apalagi radikalis. Meledak yang saya ...