Sabtu, 31 Maret 2018

Refleksi Negeri di Ujung Tanduk


Dalam postingan sebelumnya, di sini, saya menyarankan agar Tere Liye melanjutkan kisah Negeri Para Bedebah yang memang ciamik tapi masih ngegantung itu. Dan ternyata, emang udah ada lanjutan sekuelnya.

Jadi, emang saya nya aja yang telat bacanya, hahaha. Wong Negeri Para Bedebah terbit 2012, saya bacanya 2018. Hahahaha. Tapi, konten ceritanya masih sesuai dengan keadaan zaman now koq. Dan inilah sekuel nya : Negeri di Ujung Tanduk.

Nah. Ternyata, harapan saya agar Thomas segera dapat melabuhkan hati di sekuel selanjutnya, belum terwujud. Tapi yang nampaknya sesuai tebakan saya adalah di sekuelnya ini, banyak tokoh baru bermunculan.

Adalah Maryam, seorang wartawati yang boleh dibilang memiliki kesamaan nasib dengan Julia. Karena harus bersusah payah mengejar jadwal Thomas hanya untuk wawancara. Dan pada saatnya bertemu, malah dia kecipratan masalah. Hehehe.

Tapi, Tere Liye, agak mengubah sedikit karakter orang yang menemaninya selama konflik berlangsung itu. Kalau karakter Julia kan, cerewetnya minta ampun. Kalau Maryam, agak cool.

Nah, tokoh lain yang muncul adalah pengganti tokoh Tunga dan Wusdi. Di novel Negeri Para Bedebah, keduanya “modiar” dikhianati oleh sesama pengkhianat. Nah, dalam Negeri di Ujung Tanduk ini, karakter yang jauh lebih ‘ular’ ada di petinggi mereka.
Dan masih ada lagi tokoh-tokoh lain.

Alur & setting


Masih khas novel sebelumnya, setting novel ini hanya menceritakan kejadian beberapa hari saja. Dan uniknya, selalu pas weekend. Hahaha. Sedangkan alurnya alur maju. Sesekali penguatan tentang konflik yang ada hubungannya dari masa lalu ini, ditulis ulang dalam huruf bercetak miring.

Mafia Hukum

Negeri di Ujung Tanduk ini, banyak sekali memberikan kita wawasan, khususnya dibidang hukum. Dan Novel ini seolah membisikkan pada telinga kita bahawa mafia hukum itu ada. Pantas saja, kasus hukum Munir sampai sekarang masih jauh panggang dari api. Padahal, untuk teknologi secanggih sekarang, mengapa tak juga selesai diusut kalau memang niat diusut?

Dalam Negeri di Ujung Tanduk ini, para saksi ahli yang melibatkan banyak pihak, yang jika dia berhasil masuk ke persidangan, maka akan ada banyak pihak yang tertangkap. Seperti efek domino. Hal itu yang menyebabkan mobil yang membawa Om Liem tabrakan, tepatnya sengaja ditabrak. Om Liem diculik dan dianiaya, agar tak bisa memberikan kesaksian.

Membaca episode itu, saya jadi teringat kasus Novel Baswedan. Yang menjadi saksi ahli dalam kasus korupsi ‘domino’ di negeri antah berantah itu, yang ternyata naas menerima perlakuan buruk dari pihak yang sepertinya tak ingin kebenarannya terungkap.

Saya juga jadi ingat kasus korupsi E-KTP. Pantas saja proses hukumnya begitu alot. Karena mungkin seperti kasus Bank Semesta yang ada di NEgeri Para BEdebah, yang melibatkan banyak pihak, bahkan sampai petinggi negara sekalipun. Sehingga akan sulit sekali ditegakkan hukumnya, jika para bedebah itu banyak di dalamnya.  Bedanya, kalau kasus Bank SEmesta di Novel Negeri Para BEdebah itu fiksi, sementara kasus E-KTP itu nyata. Tapi kesamaannya ada, sama-sama melibatkan banyak pihak.

Dan masih banyak kasus lainnya yang saya tak hendak mengabsennya di postingan ini. Tapi, intinya, Tere Liye seolah ingin mengatakan kepada kita, bahwa semua kasus yang proses hukumnya terasa begitu janggal dan a lot itu dikarenakan adanya mafia hukum. Mafia yang wujudnya seolah tak ada, namun mengerikannya melebihi Susana.

Kejutan


Dalam hemat saya, di novel ini tidak terlalu banyak kejutan seperti pada novel pertamanya. Tapi, kejutan-kejutan yang ada dalam Negeri di Ujung Tanduk ini, justeru seluruhnya lebih masuk akal. Karena kan kalau di novel sebelumnya, seperti yang sudah saya tulis di postingan ini, ada kejutan yang terasa janggal, misalnya kehadiran Rudi saat Thomas menyamar jadi kurir Pizza.

Dan kejutan yang paling saya suka di sekuelnya ini adalah, saat konflik pengejaran maupun penyergapan yang terjadi di hongkong.

Pesan

Novel Negeri di Ujung Tanduk ini seperti refleksi negara kita sih kalau boleh saya bilang. Ada banyak orang yang begitu ingin berkuasa, dengan semua janjinya yang omong kosong. Kenapa omong kosong? Karena bahkan hampir 4 tahun berkuasa, janji-janji yang dikeluarkannya sama sekali tidak terbukti. Bahkan sampai membuat Slank dan Iwan Fals menyanyi lagi, menagih janji #eh ini mah di negeri antah berantah ya hahaha. #fokus fokus

Tapi, apakah semua politikus hanya membual? Tidak. Karena, ternyata masih ada yang benar-benar murni ingin menyejahterakan rakyatnya. Bahkan ingin menegakkan hukum setegak-tegaknya, seperti tokoh yang menjadi klien Thomas di novel ini. Yang bahkan, untuk urusan biaya penerbangan pun dia tak memakai uang rakyat jika itu taka da hubungannya dengan kepentingan rakyat. Ya Allah, semoga beneran bisa dapat pemimpin kayak gini.

Dan kalau saat ini ada banyak pro dan kontra seperti soal hastag #gantipresiden, itu wajar.
Mari kita berkaca pada Om Liem. Om Liem itu baik. BAIK. Tapi, langkahnya salah. Sistem yang dia jalankan keliru. Kepribadian OM LIEM memang BAIK. Tapi ada mafia di belakangnya yang sangat tidak baik. Dan sialnya, om Liem ini ketergantungan pada para mafia itu.

So, kalau ada orang yang ingin mengganti OM LIEM, saya rasa wajar. Mereka yang ingin ‘mengganti’ OM LIEM tahu kalau OM LIEm itu baik, tapi Langkah dan sistemnya tidak.

Begitupun jika ada orang yang pasang hastag #gantipresiden, bukan karena  kepribadian presidennya tidak baik, tapi lebih kepada langkah dan sistem yang dijalankannya tidak sesuai dengan janji-janji yang diucapkannya saat kampanye dulu. #Ealah. Koq ini jadi meleber kemana-mana bahasannya, hahaha, maaf ya kalau ada yang tersinggung, kan niatnya bahas Novel loh. hehehehe.

Kekurangan


Ada yang kurang sreg di novel ini. Seperti yang terjadi di novel pertamanya, yakni saat ponsel Thomas disita oleh kepolisian, dan Thomas dapat pinjaman ponsel lain. Mengapa Thomas langsung bisa menghubungi Maggie? Begitupun dengan Maryam yang langsung bisa menghubungi rekan-rekannya. Memangnya keduanya hapal di luar kepala nomor sebanyak itu? Atau bisa jadi memang Tere Liye sengaja menyiratkan kepada pembaca, kalau Thomas dan Maryam memang cerdas banget visualnya hehehe.

Dan yang paling kentara sih, pada halaman 171, penyebutan Maryam dan Maggie ketuker saat menjelaskan susasana menelpon di kantor Kris.

Quotes

Nah, ada banyak Quotes yang bisa ditemukan dalam Novel Negeri di Ujung Tanduk ini.
Seperti pada halaman 115-116
            

    “…. Presiden negeri ini. Beliaulah pemilik komando tertinggi dalam jihad mulia menegakkan hukum. Mengacu pada konstitus, Presidenlah pendekar paling sakti,paling berkuasa, dan paling menentukan ke arah mana hukum akan dijalankan. Ribuan pilisi korup, presiden berwenang penuh mengurusnya. Mengganti seluruh pucuk pimpinan kepolisian itu mudah, sepanjang ada niat dan BERANI.

Ribuan hakim berkhianat atas amanah yang diberikan, juga mudah, mereka ada dibawah rantai komando presiden. Pun termasuk kejaksaan, jaksa-jaksa yang bermain-main dengan hukum. Pun birokrat, hingga kepala desa yang berbuat curang, mengurus KTP harus membayar, apapun itu.

PRESIDEN bisa memimpin perang besar-besaran terhadap orang-orang yang bukan saja melanggar hukum tapi sedang menghina hukum negeri ini.

Maka akan berbeda saat aku jadi walikota atau gubernur, yang lebih fokus terhadap kesejahteraan rakyat, pendidikan dan kesehatan mereka. Membuat mereka nyaman, tidak mengalami kemacetan, tidak menderita kebanjiran, bisa mendapatkan upah minimum, dan bisa memenuhi kebutuhan minimalnya.

Sebagai presiden, prioritas itu berubah. Penegakkan hukum, demi Tuhan, penegakkan hukum adalah kunci semua masalah. Kita harus menyadari hal ini. Kita sebenarnya sedang berperang melawan kezaliman yang dilakukan kita sendiri dan orang-orang di sekitar kita yang mengambil keuntungan karena memiliki pengetahuan, kekuasaan atau sumber daya alam.

Jika kita memilih tidak peduli, lebih sibuk dengan urusan masing-masing, maka nasib negeri ini persis seperti sekeranjang telur di ujung tanduk, hanya soal waktu akan pecah berantakan. Ini negeri di ujung tanduk, Thomas.”

Jadi, alangkah tidak wajarnya  kalau ada sebuah negeri yang dipimpin oleh pemimpin yang saat menghadapi masalah, dengan mudahnya mengatakan “bukan urusan saya,” atau “saya tidak membaca apa yang saya tandatangani” karena, bukankah doi presiden? #tepokjidat

                Halaman 357.
            
    “Kau tahu, Nak, sepotong intan terbaik dihasilkan dari dua hal : suhu dan tekanan tinggi di perut bumi. Semakin tinggi suhu yang diterimakanya, semakin tinggi tekanan yang diperolehnya. Jika dia bisa bertahan, tidak hancur, dia justeru berubah menjadi intan yang berkilau tiada tara. Keras. Kokoh. Mahal harganya.

Sama halnya dengan kehidupan, seluruh kejadian menyakitkan yang kita alami, semakin dalam dan menyedihkan rasanya, jika kita bisa bertahan, tidak hancur, kita akan tumbuh menjadi seseorang yang berkarakter laksana intan. Keras. Kokoh…”

                Halaman 358

                “Kau tahu, Thomas, jarak antara akhir yang baik dan akhir dari semua cerita ini hanya dipisahkan oleh sesuatu yang kecil saja, yaitu kepedulian.”

“Begitu juga hidup ini, Thomas, Kepedulian kita hari ini akan memberikan perbedaan berarti pada masa depan. Kecil saja, sepertinya sepele, tapi bisa besar dampaknya pada masa mendatang. Apalagi jika kepedulian itu besar, lebih besar lagi bedanya pada masa mendatang.”

                Halaman 359

                “…. Selalulah menjadi anak muda yang peduli, memilih jalan suci penuh kemuliaan. Kau akan menjalani kehidupan ini dengan penuh kehormatan. Kehormatan seorang petarung.”

Quotes pamungkas Tere Liye:

Di Negeri di Ujung Tanduk kehidupan semakin rusak, bukan karena orang jahat semakin banyak, tapi semakin banyak orang yang memilih tidak peduli lagi.

Di negeri di ujung tanduk, para penipu menjadi pemimpin, para pengkhianat menjadi pujaan, bukan karena tidak ada lagi yang memiliki teladan, tapi mereka memutuskan menutup mata dan memilih hidup bahagia sendirian.

Tapi, di negeri di ujung tanduk setidaknya, kawan, seorang petarung sejati akan memilih jalan suci, meski habis seluruh darah di badan, menguap segenap air mata, dia akan berdiri paling akhir demi membela  kehormatan.

Judul buku : Negeri di Ujung Tanduk

Penulis : Tere Liye

Tahun Terbit : April 2013

Tebal buku : 360 halaman

Penerbit : PT Gramedia Pustakan Utama

ISBN : 978 979 22 9429 3





salam,
Djayanti Nakhla


Sabtu, 24 Maret 2018

Negeri Para Bedebah, Nyatakah?

Adalah Thomas, 

seorang Konsultan Keuangan Profesional yang karirnya cemerlang. Kesibukannya yang padat sebagai pakar atau penasehat ulung ekonomi membuatnya sibuk wara wiri ke sana dan kemari, seminar ini, seminar itu, pertemuan ini, pertemuan itu, mengurus ini, mengurus itu, membuat dia sibuk bukan main, bahkan sibuknya mengalahkan jadwal presiden ternama sekalipun. Karena kan kalau presiden yang kita ketahui bersama mah sesibuk apapun tetap bisa membuat Vlog sendiri ya, santai membahas Kuda, atau Rusa istana, dll. #uhuk #fokus please.

Curriculum Vitae Thomas terlihat lempeng. Umumnya orang-orang berprestasi lainnya. Lulus dari sekolah dengan membanggakan. Namun tak banyak yang tahu, bahwa Thomas memiliki masa kelam. Puluhan tahun yang lalu. Dan itu masih membekas pedih di hatinya.

Alur Novel yang satu ini, bisa dibilang maju mundur cantik #syahrinimodeon. 

Tere Liye, penulis Novel Negeri Para Bedebah ini, mampu membuat napas pembaca tertahan, saking serunya alur cerita yang dibuatnya. Bahkan penulis juga mampu membuat pembaca, khususnya saya, geram bukan kepalang membaca setiap episode yang disajikan, apalagi ketika mendapati tokoh utama nyaris skak mat, dasar para bedebah! 😛

Oh ya, setting waktu dari awal sampai akhir bab novel hanya seperjalanan waktu. Maksudnya, settingan konflik yang terjadi hanya sekitar 3 harian. Tapi bisa diceritakan dengan begitu detail dan renyah sampai 440 halaman. Hahaha. #Edun. Ini mengingatkan saya pada novelnya Dan Brown: ciri khasnya kejar-kejaran, tenggat waktu yang ketat, tapi tersaji dengan begitu runtut karena berkelindan dengan berbagai teori, dan --tentu saja-- masa lalu.

Dan, novel ini meskipun fiktif, tapi saya yakin risetnya tidak main-main. Karena buktinya, isinya begitu detail.
Jadi, bagi orang awam seperti saya, dengan membaca Novel ini, akhirnya bisa bilang : "Oh jadi gitu..." atau, "pantesan aja ya, banyak koruptor lewat gitu aja", "ya ampun enggak nyangka" dan sebagainya. Tere Liye seperti bisa merekam kejadian yang ada di negeri ini lalu memfiktifkannya dalam sebuah novel. Atau mungkin sebaliknya? Apakah Negeri Para Bedebah ini memang sebuah kisah nyata? Entahlah.

Tapi yang pasti, Negeri Para Bedebah ini merupakan kritik sosial. 

Khususnya di bidang ekonomi dan politik. Di dalam karya Tere Liye yang satu ini juga akan kita temukan banyak kalimat-kalimat retoris, kritis, logis, dan sindiran sinis, bahkan petuah manis.

Kelebihan Novel ini di antaranya :

1. Alur Rapi & Penokohan Kuat

    Seperti yang sudah disebutkan di atas. Alur novel ini seru. Dan begitu Rapi. Pun soal penokohan. Tak ada tokoh yang sebagai tim penggembira semata. Setiap tokoh yang ada di Negeri Para Bedebah ini begitu kuat. Dengan perannya masing-masing.

Thomas yang cerdik, penuh trik, lugas, waspada juga pembalas. Opa yang bijak, lembut dan hobi menceritakan masa lalunya. Maggie, sekretaris Thomas yang cekatan, cerewet dan bisa diandalkan. Julia yang cerdas, kritis, dan berani. Kadek yang loyal. Ram dan Tuan Shinpei yang pengkhianat. Dan tokoh-tokoh lainnya yang tak kalah bedebah! Hahaha.

2. Wawasan politik & ekonomi

    Baca Negeri Para Bedebah, kita jadi inget kata Doel Soembang : Politik Rujit. (cung yang ngerti maksudnya :D). Kita jadi enggak polos-polos amat kalau ada berita teror bom panci, bom baskom, atau bombom car :p, karena di novel ini nalar kita dididik supaya jalan. Di Negeri Para Bedebah, grand Design selalu ada. Ckckck.

3. Bukan sekadar hiburan

    Membaca Negeri Para Bedebah, bukan cuma  hiburan ngisi me time sambil duduk manis minum kopi semata tapi juga bikin kita melek keadaan terhadap sekitar.

Karena Negeri Para Bedebah ini memang sebuah kritik sosial yang wajib dibaca semua kalangan. Saya jadi mikir, kalau para ekonom dan pokitikus baca ini, bakalan kesinggung atau malah tersentuh dan berusaha berbenah menjadi lebih baik ya?
Semoga sih, yang kedua jawabannya.

4. Pesan

    Tapi, sekali lagi, ini bukan ditujukan untuk mereka yang berkutat di bidang ekonomi dan politik doang koq. Ini kritikan untuk kita semua. Supaya enggak ngelakuin hal yang enggak seharusnya dilakuin.

Kadang, ada orang yang dikasih pesan halus enggak ngefek, tapi pas dikasih kritikan pedas dan sindiran lugas malah ngefek. Nah, Negeri Para Bedebah ini mencoba di bagian tapi itu.

Paling enggak, bikin kita lebih konsisten lagi megang prinsip dan nilai-nilai kebaikan.

Lalu kelemahannya di mana?
Dengan jaminan nama penulisnya, mestinya emang enggak ada yang kurang. Tapi, saya ngerasa kurang sreg aja dengan beberapa bagian cerita. Terasa janggal.

Seperti pada saat pergantian nyetir dari mobil lux ke mobil laundry. Bukankah kaki Thomas masih sakit jadi enggak bisa bawa mobil lux milik Opa nya, sehingga harus digantikan Julia?

Tapi kenapa jadi bisa nyetir mobil laundry padahal kondisinya juga habis babak belur dikepung pasukan?

Harusnya sih, ada dialog yang mewakili pergantian setirnya. Misalnya, Julia mengkhawatirkan kondisi kakinya Thomas, lalu Thomas memastikan bahwa dia sudah tidak sakit lagi kakinya, dsb.

Dan pada saat penyamaran Thomas sebagai kurir Pizza ke kantor saat Maggie disandera, koq Rudi tiba-tiba nongol?
Hehehe tapi yasudah lah ya, kadang dalam kehidupan nyata juga suka ada yang ujug-ujug nongol. Mungkin gitu kali pertimbangannya.

Satu lagi, tokoh utama ini yakni Thomas nampak saru, entah bedebah atau bukan, hahaha. Jadi, enggak bisa mastiin dia itu antagonis atau protagonis. Tergantung dari sudut mana pembaca memandangnya.

Apapun itu, yang jelas Novel Ini amat direkomendasikan. Khususnya bagi mereka yang terlalu polos dan nelen mentah-mentah isu yang berseliweran, atau kadang ada yang sok tau menanggapi isu ekonomi dan politik. Mungkin saya salah satunya, hahaha.

Anyway, kalau semisal Bang Tere Liye baca resensi ala-ala ini, saya mau usul nih. Kayaknya makin seru deh, kalau ada series lanjutannya.

Apalagi di cerita ini kan agak-agak ngegantung karena musuhnya Thomas belum clear semua.

Dan, kalau iya bakal ada series lanjutannya, saya jadi penasaran, kira-kira nanti Thomas akan punya pelabuhan hati enggak? Apakah Julia atau Maggie atau malah ada tokoh lain yang pantes buat jadi pendamping seorang Thomas? Atau justeru Thomas akan lebih sibuk ngurusin singa berbulu domba lain?

Eh, tapi kan belum tentu Tere Liye baca usul saya ini ya, hahahaha.

Judul Buku : Negeri Para Bedebah
Penulis : Tere Liye
Halaman : 440 hlm.
Tahun terbit : Juli 2012
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 978 979 22 8552 9


Kamis, 15 Februari 2018

Hobi Cerita, Restu Mama dan Forum Lingkar Pena

Jauh sebelum kenal blog, aku sudah senang bercerita, sejak masih di bangku SD. Kadang bercerita lewat gambar-gambar yang kujelaskan panjang lebar alur ceritanya pada teman-teman yang mau mendengarkan. Dan aku baru sadar sekarang, mereka koq mau-mau saja ya mendengarkan ceritaku. Padahal gambarku juga enggak bagus-bagus amat, seadanya malah. Apa mungkin mereka kasihan semata, karena melihatku butuh pendengar? Hahaha. Ah entahlah. Aku sudah sangat berterima kasih pada mereka apapun alasannya.

Selain bercerita lewat gambar (sekali lagi aku tekankan, gambar yang kuguratkan sangat sederhana, jadi jangan membayangkan kalau aku jago menggambar ya, hehe), aku juga senang bercerita lewat tulisan.

Dan aku bisa menghabiskan berlembar-lembar tulisan di buku tulis biasa. Itu loh, buku tulis yang di setiap lembarnya selalu ada kata-kata motivasi terselip di bawahnya. Misal, yang paling aku ingat adalah : never put till tomorrow what you can do today. Uh yeah. Dulu saat membaca kamut itu berasa keren sekali. Tapi sampai sekarang, pengaplikasiannya butuh niat dan usaha extra ternyata.

Atau kadang-kadang, kalau lagi iseng, aku menulis cerita di halaman belakang. Jadi seperti menulis catatan berbahasa arab. Dari belakang ke depan. Maka, penuhlah halaman belakang buku-buku tulis aku dengan warna-warni cerita. Entah itu cerita karangan yang yang aku buat di sekolah, ataupun saat senggang di rumah.

Kegemaran menulis cerita terus berlanjut sampai ke jenjang berikutnya. Apalagi saat itu ada dua orang teman aku, Siti Masitoh dan Nur Ayu Sekar Ningsih, yang juga punya kegemaran serupa. Walaupun kita beda esempe alias SMP.

Bahkan kami sempat membuat novelet. Trio. Kami menulisnya gantian. Di buku yang sama. Temanya mengalir begitu saja, karena tergantung buku itu sedang ada di tangan siapa, hahaha. Dan tentu saja menulisnya langsung menggunakan pulpen alias tulis tangan. Bukan ketikan komputer. Karena, waktu itu belum ada fasilitas komputer. Kalaupun ada, masih sangat sulit kami temui rental-nya. Sekalipun menemukan rental-nya, uang sewanya lebih baik kami gunakan untuk jajan baklor alias martabak telor sepulang kami ngaji, hehehe.

Untuk itu, saking niatnya, aku pernah menulis sendiri beberapa novelet (tentu kaidahnya jauh dari sempurna sebagaimana novel yang telah diterbitkan penerbit), masih di buku tulis biasa, dan dibaca oleh beberapa teman yang senang membaca. Ada juga kakak kelas yang ikut membaca secara bergantian. Lalu ada yang berkomentar, bahwa cerita yang aku buat bagus sekali. Padahal itu cuma fiksi.  

Sejak saat itu aku makin semangat menulis. Dan makin senang membaca, karena amunisi menulis memang berawal dari membaca. Namun karena aku tak punya cukup uang untuk membeli majalah-majalah atau buku-buku selain buku pelajaran, maka perpustakaan sekolah merupakan tempat favoritku. Aku bisa menahan lapar pada jam istirahat, untuk aku gunakan sebanyak mungkin di perpustakaan.

Menjelang kelas tiga esempe, hobi menulisku redup. Karena, Mama tak suka aku menulis. Bagi Mama menulis itu buang waktu. Mama khawatir aku kebanyakan melamun dan tidak fokus pada pelajaran. Karena memang aku menulis tanpa panduan siapapun alias otodidak.
Hiks.

Semua buku tulis yang isinya cerita fiksiku, aku sobek-sobek sendiri. Kesel, sedih, kecewa. Karena hobiku tak direstui. Sejak saat itu  aku malas menulis. Enggak selera lagi menulis cerita, bahkan ketika diminta oleh teman yang suka membaca.

Sampai kelas dua esema alias SMA, aku kangen. Sudah dua tahun aku berhenti menulis. Aku kangen halaman belakang buku tulisku ada cerita karyaku lagi. Maka, tanpa sepengetahuan Mama, aku mulai menulis lagi. Masih di belakang buku catatan sekolah. Walau selalu tanpa ending, karena mogok ide di tengah jalan. Dan itu yang membuat Citra Asri Meida, teman sebangku, uring-uringan, “Dije, ini tulisan diselesaikan doooong! Enggak enak banget lagi seru-serunya baca tapi lanjutannya ilang gitu aja!”

Hahaha. Ah, terima kasih Citra. Kau komentator tulisanku yang paling setia.

Dan momen tak terlupakan itu pun datang.

Saat itu aku kelas tiga esema. Aku mengikuti lomba cerpen pada saat PIJAR, Perlombaan Islami Antar Pelajar, yang diadakan oleh Forum Komunikasi Dakwah Kampus UNSIKA. Alhamdulillah, cerpenku yang berjudul “Gerimis” berhasil mendapatkan juara dua. Namun, karena saat itu aku enggak punya gawai, jadi enggak bisa mendokumentasikannya. Tapi mungkin pialanya masih nangkring di lemari sekolah SMAN 1 Telukjambe. Itu juga kalau enggak kegusur piala siswa lain di generasi selanjutnya, maklum, aku kan udah termasuk generasi lawas sekarang, hahaha.

Yang lebih penting, setelah menjadi juara dua di lomba cerpen itu, alhamdulillah Mama akhirnya mengizinkanku melanjutkan hobi menulis. Bahkan, Mama sampai berurai air mata saat membaca Cerpenku yang berjudul “Gerimis” itu.

Apalagi sejak aku akhirnya mengenal Forum Lingkar Pena di masa kuliah. Mama semakin membolehkan hobi menulisku, karena tulisanku mulai terarah. Apalagi ketika Mama  tahu, bahwa orang-orang yang gabung di FLP adalah orang-orang baik, seperti di antaranya yang ada di FLP Karawang, di antaranya Teh Lina (yang saat ini menjadi ketum FLP Karawang), dan masih banyak lagi yang tanpa disebutkan nama pun aku tetap mengagumi kebaikan mereka.


Bersama FLP Karawang




Dan alhamdulillah, beberapa karyaku menetas setelah gabung dengan FLP. Di antaranya, Antologi Kisata (Unsa,indie publisher), juara dua menulis resensi novel Indiva (2015), Antologi JJCC, Jangan Jadi Cewek Cengeng(Indiva, 2017). Jiaaaah, ternyata karyamu baru segitu doang? Sebuah suara di lubuk hatiku berkomentar.

Hm, sebenarnya malu juga sih, sudah lama gabung di Forum Lingkar Pena, tapi karya yang kuhasilkan belum seperti teman-teman yang lainnya. Tapi, aku ingat pepatah lama, gapailah bintang, karena saat meleset pun kau tetap berada di antara bintang.


Ya, walaupun aku sekarang belum jadi penulis atau blogger ‘beneran’, tapi dengan bergabungnya aku di keluarga besar FLP seluruh dunia, ada banyak sekali pengalaman dan manfaat yang didapat. 
Paling berkesan, bisa kenal lebih dekat dengan penulis-penulis ternama –yang walaupun karya mereka melangit tapi hatinya tetap membumi.

dari WAG FLP sedunia


FLP pernah bilang, bahwa manfaat menulis itu banyak, di antaranya, menulis bisa menjadi ladang pahala, kalau ‘pesannya’ kebaikan. Menulis bisa jadi salah satu terapi menjaga kewarasan. Menulis pun bisa ‘memperpanjang umur’ karena walaupun kelak penulisnya sudah tiada, karyanya masih bisa dinikmati dan diambil manfaatnya.

Maka, dalam sebuah catatan kecil di sudut hatiku, aku terus berharap, semoga apa yang kutulis, dan yang akan kutulis, bisa membuahkan manfaat, yang bisa dipetik di ‘kehidupan’ mendatang. Karena aku tidak ingin, restu Mama yang susah payah kudapatkan menjadi sia-sia belaka. ***