Langsung ke konten utama

Pelajaran Dari Kartu SD

Ketika memulai menulis ini, saya sedang dalam perjalanan di Bandung. Sedikit macet di jalan Holis, karena kita cukup molor dari jadwal yang seharusnya.

Saya bisa menulis ini setelah kisah drama kartu SD alias kartu memori hape, yang membuat saya berhari-hari kemarin cukup sesak. Karena, kartu SD saya yang kemarin itu RUSAK. Sayangnya, saya belum sempat mem-backup data-data yang ada di dalamnya. Termasuk foto-foto bocil saya yang aktif, dan banyak file penting lainnya. Hiks. *GigitSpion*



Awalnya, saya merasa sangat kehilangan. Mau sms, ingat kartu SD. Mau nelpon, ingat kartu SD. Soalnya kan ngeliat hape. Hehe. Terus, mau download, lagi-lagi ingat kartu SD. Yaiyalah, wong disimpennya di kartu SD. Hehe. Intinya sih, kepikiran terus. Sampai akhirnya, saya pelan-pelan mengikhlaskannya. *Tariknafas
Setelah saya mengikhlaskannya, hati saya lebih lapang, selapang padang rumput yang bergoyang. Walaupun memang dokumen-dokumen penting itu tak mungkin bisa kembali lagi, kecuali jika Doraemon ada di sini. #apasih :p

Namun barangkali, kartu SD ini ingin mengajarkan saya beberapa hal. Bahwa, kehilangan itu menyesakkan, se-sesak ketika hutan di Indonesia hangus dibakar dan asapnya mengepung menyakitkan. Apalagi, bila yang hilang itu adalah hal yang sangat penting dalam jiwa kita.

Tapi, kehilangan juga bukan berarti kiamat. Kehilangan, hanya ingin menyentil hati kita apakah kita mau ikhlas atau tidak. Karena memang, ujian keikhlasan itu tak seperti ujian nasional yang sudah ada jadwalnya. Ujian keikhlasan itu serba mendadak datangnya. Tak bisa ditebak kapan kita akan diuji soal keikhlasan.

Kehilangan pun membuat kita sadar, bahwa tak ada yang abadi di dunia ini. Semua hanya sementara. Hanya Allah yang Maha Abadi. Maka, sudah selayaknya  kita menghambakan diri dengan sebaik-baiknya pada Dia Yang Maha Abadi.

Dan kehilangan juga mengajarkan kita, agar senantiasa merawat apapun yang masih ada dalam hidup kita. Sebelum semuanya terlambat untuk disesali.
Sekaligus, kartu SD ini menghibur saya, bahwa yang hilang akan diganti dengan yang lebih baik, bila kita ikhlas. Nah, sekarang, memang kartu SD yang saya miliki lebih baik  karena dibelinya bersama sang suami. :D

Pun kartu SD ini mengingatkan saya, untuk selalu segera mem-back up data-data penting, sebelum virus membuat saya gigit jari untuk kesekian kali :v #Nah biar engga lupa backup, pasang spanduk segede gaban aja kali yah sekalian nyaingin spanduk yang sedang hot di kawasan maya, tepatnya di bulan Ramadhan sekarang, itu looh spanduk untuk puasa super :D

Salam,
Djayanti Nakhla Andonesi :)
Tulisan ini selesai di Jl. Cibaduyut Raya, Bandung

Komentar

  1. Aaaarrrgggh. Aku juga beberapa kali kehilangan kenang2an mominet penting gara2 hape rusak n memo sd kamera rusak. Semuanya raib tak berbekas. Nyessss bangettt. Tapi... mo gmna lagi... fiuh...

    Untuk belajar ikhlas, kita diberikan cobaan kehilangan berkali2....

    BalasHapus
  2. Aaaarrrgggh. Aku juga beberapa kali kehilangan kenang2an mominet penting gara2 hape rusak n memo sd kamera rusak. Semuanya raib tak berbekas. Nyessss bangettt. Tapi... mo gmna lagi... fiuh...

    Untuk belajar ikhlas, kita diberikan cobaan kehilangan berkali2....

    BalasHapus
  3. puk puk puk mbak fit... samaan berarti kita hiks.
    iyaa... betul, belajar ikhlas memang berad ya, ehehehe... semogaaa kita termasuk orang yang enggak bosen belajar ;)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahaya Penggunaan Gadget Yang Kurang Bijak Pada Anak

Hujan, angin, dingin. Badan kurang fit. Sebuah perpaduan yang klop untuk mager di rumah :D. Tapi, karena sudah ada agenda dan agendanya luar biasa penting, akhirnya saya menggeber diri saya untuk tetap menuju lokasi acara. 

Dengan kekuatan bulan (ketahuan amat ya, saya angkatannya sailormoon :D ), salah salah, maksudnya dengan kekuatan lillahi ta’ala dan ridho suami, akhirnya saya membelah hujan dengan deruman kuda mesin hijau kesayangan. 
Tentu sebelum berangkat

Mayako Matsumoto Vs ‘Rezeki anak sholeh’

Beberapa hari yang lalu, teman dekat saya, bercerita bahwa anaknya yang baru kelas satu SD, dibekali tempat minum Tupperware, hilang di dalam kelas.

Sebenarnya awalnya begini, ketika keluar dari kelas dan baru sampai gerbang sekolah, teman saya ngeh, koq botol Tupperware yang dibawa anaknya enggak ada di tas. Lalu,

Kapal Telah Berlayar ke Samudera

Biarkan jiwamu dan jiwaku menyatu
Kita menari riang di atas cinta yang syahdu
Biarkan bahagia ini terus dijaga di dalam kalbu
Karena Allah telah menghalalkan engkau untukku, dan aku untukmu
~Djayanti Nakhla Andonesi~

Menjadi mempelai wanita dan pria, dalam satu kursi pelaminan yang sama, dalam ijab dan kabul yang menggema hingga ke langit-Nya, adalah naluri sekaligus dambaan seluruh insan yang nalar pikirnya masih terjaga.

Karena, cinta dan nafsu adalah dua hal yang tak sama namun tipis sekali bedanya. Maka cinta yang sebenarnya, adalah yang mendahulukan petunjuk-Nya, ketimbang bujukan mantan penghuni surga yakni syaithon namanya.

Bukanlah cinta, bila seorang insan mencumbu yang bukan mahramnya. Bukanlah sayang bila insan memadu kasih sebelum halal menggenapinya. Karena cinta yang sebenernya, akan lebih dulu mengikuti panduan Yang Maha Memiliki Cinta.

Maka berbahagialah. Bila insan