Jumat, 16 September 2016

Suka Duka Pembuatan E-KTP di Karawang

Heboh. 

Akhir-akhir ini masyarakat (sebagian) yang belum mendapatkan E-KTP memburu lembaga kepengurusan penduduk.

Pasalnya, beberapa waktu yang lalu, Mendagri mengeluarkan ultimatum, barangsiapa yang belum merekam/mendata E-KTP sebelum tanggal 30 September 2016, maka segala hal yang menyangkut administrasi yang bersangkutan akan tidak diberlakukan.

Wadaw. 


Ngeri juga, yah, kalau sampai urusan kita yang menyangkut kependudukan jadi kacau gara-gara belum ganti ke elektronik.

Jadi, mau tidak mau, orang-orang harus tunduk pada peraturan. Kita mah gitu ya, nunggu deadline dulu baru pada gerak. Hehehe. #JitakPalaSendiri

Nah, di antara orang-orang yang heboh itu, saya pun ikutan heboh. Bukan, bukan karena saya belum buat E-Ktp. Saya sudah buat E-KTP, malahan jadi sabiqunal awwalun pendaftar saat program e-KTP baru diluncurkan.

Nah, Oktober 2013 kan saya nikah. Jadi, otomatis harus rubah status di KTP juga, dong? Masa mau ngaku single, terus? :P

Waktu itu, saya sekalian ngerubah status KTP nya bareng dengan kepengurusan Akta Kelahiran anak pertama saya pada Agustus 2014.
Lama banget waktu itu prosesnya.

Pas udah jadi, taraaaaaa... e-KTP saya malah berubah lagi ke model konvensional. Saya juga ngerasa heran, sih. Koq, dari elektronik malah balik lagi ke konven?

Tapi, karena waktu itu saya males buat ngurusinnya, apalagi waktu itu serba bayar lagi jasa kepengurusannya! Ih, hayati lelaaaah bang! Lagi pula di KTP masa kadaluarsa sampai 2019. Jadi, saya kira aman-aman aja, lah.

Dan ternyata, dweng... dweng... dweng!

Perkiraan saya meleset, sodara-sodarih!


Sejak maklumat Mendagri soal 30 September itu, saya jadi kelabakan segera mengurus kembali e-ktp saya yang terkonven.

Singkat cerita nih, saya baca-baca dulu berita akuntable, alias yang terpercaya. Dan yang saya garis bawahi adalah, bahwa pembuatan e-KTP itu gratis, tis, tis!!

Maka, ketika saya kecewa dengan pelayanan khilaper karena harus bayar 100 rb per KTP, kalau ditotal sama KTP suami berarti jadi 200 ribu. Waw. Mending saya langsung saja ngacir ke kelurahan.

Ini percakapan unik antara saya dengan khilaper.

"Bikin e-KTP gratis, kan ya?" (saya udah tau tapi ngetes)

"Eh, enggak. Mana ada sekarang yang gratis!" Jawabnya kikuk. "Tanya aja langsung ke kelurahan"

Baiklah, saya pun langsung meluncur.

Kantor kelurahan.


Nyampe kantor kelurahan PuseurJaya, jam sembilan kurang. Tapi masih sepiiii banget di sana, kayak hatinya jombloers. #eaaaa #digetok jombloers sekelurahan #candaaaa #maaap
Kirain, masih tutup. Ternyata, pas nyamperin ke pintu ber- kaca burem, udah ada orang di dalam.

Masuk lah saya dan suami. Hembusan AC bikin suasana hati ikut adem juga, ternyata. Dan yang unik adalah, staffnya masih kaula muda. Akang-tetehnya ramah pula. Si tetehnya pake kemeja putih, kayak suster-suster gitu. Yang jelas bukan suster ngesot.
Nah, si akangnya yang ternyata masih tetanggaan dengan saya, dengan bangga pake busana sunda, berblangko. Nah, gini dong, ya, kesan bangga akan daerah harus dimulai dari setiap lini.

Entah karena bakat cewek yang doyan ngomong, atau memang karena terbiasa komplen, saya pun menjelaskan dengan sedetail-detailnya. Bahwa saya dan suami sudah punya e-ktp, tapi malah jadi ktp konven lagi pas ngerubah status.

"Ooh, waktu itu blankonya kehabisan. Jadi sekarang ngajuin lagi saja tanpa harus rekaman" Papar si akang staff.

Rekaman di sini jangan dibayangkan seperti membuat album kompilasi, ya. Apalagi membayangkan rekaman mantan di masa lalu ya, guys. Please. Jangan. Lagian yang lalu biarlah berlalu. #apasih :p

Saya dan suami mengangguk maklum. Kami pun mengisi formulir yang dimaksud.

"A, bikin e-KTP gratis, kan?" Tanya saya.

Staff kelurahan tersebut mengangguk.

Alhamdulillah, jujur, nih, orang. Batin saya dalam hati.

Lalu, kami disuruh menunggu dan balik lagi ke kantor kelurahan ba'da dzuhur. Karena formulir tersebut harus ditandatangani oleh Pak Lurah. Sementara, Pak Lurahnya sedang mengikuti serangkaian acara hari jadi Karawang ke 383.

Baca juga ini: Potret Hari Jadi Karawang ke 383

Oke, detik berganti menit, menit berganti jam. Akhirnya, jam satu siang saya dan suami ke sana lagi. Padahal kondisi saya sedang sakit saat itu. Tapi saya paksakan demi e-KTP. Oh, hebatnya maklumat 30 september.

Pede, dong, kami. Pasti sudah ditandatangani pak Lurah. Pas masuk, staff kelurahannya mohon maaf padahal lebaran udah lewat.

"Pak lurahnya belum datang, masih di acara hari jadi Karawang 383, mohon maaf jadi belum bisa diambil."

Lemes dong saya, apalagi suami udah cuti-cuti dari kerjaannya.

"Trus gimana?" Saya lirik komandan tercinta.

"Yasudah mau digimanain lagi?" Sahutnya retoris banget sambil nyengir ngenes.

"Tapi nanti bisa saya wakilin kan, ya buat ngambilnya?" Tanya saya ke staff.

"Oh, bisa teh. Besok kalau suami teteh kerja, bisa diwakilin pengurusannya oleh tteh."

"Oke sip."

....

Besoknya, jam sepuluhan siang saya ke kantor kelurahan lagi.
Dan taraaaaa! Alhamdulillah sudah ditandatangani. Fyuh. Tinggal beberapa proses lagi nih.

"Abis dari sini, langsung ke kantor kecamatan ya, teh."

Siap, laksanakan.


Kantor Kecamatan


Saya dengan semangat empat lima, menancap gas ke kantor kecamatan Telukjambe. Posisi kantornya ada di perempatan, bukan di pertigaan, apalagi di perlimaan karena ini bukan posisi cinta di sinetron.

Di depan kantor, ada pasangan sedang berdiri. Percaya atau enggak, mereka berdiri lama banget, dari zaman saya masih sekolah SMP juga udah berdiri itu pasangan, ya maklum lah, mereka patung teladan. :P

Yuwis, saya langsung masuk. Nyari orang yang bisa ditanya. Karena, di dalem penuh banget. Setelah nanya sama bapak-bapak berdagu runcing, berambut klimis dan berpenampilan rapi, akhirnya saya ngerti mesti menuju ke mana.

Saya pun tiba di depan meja seorang ibu berbaju hijau bangkotan eh hijau lumut. Berkas saya ditaruh di paling bawah, sesuai instruksi. Di sekitar meja ibu hijau lumut (an), sudah banyak orang-orang menanti berkasnya di stempel, dan direkap kedalam buku segede gaban yang berbeda-beda, sesuai nama desa.



Saya mengamati banyak hal. Betapa sabarnya orang-orang menanti berkasnya satu persatu di stempelisasi. Dan, betapa tak berdayanya orang-orang itu yang memberi tempelan uang ketika berkas berhasil direkap. Serta, betapa piciknya sang juru stempel.

Saya celingukan ke setiap sudut dinding ruangan itu, mencari dimana keterangan yang menunjukkan kalau warga harus membayar jasa stempel dan rekap tersebut.
Nihil. Tak ada sama sekali pernyataan tertulis untuk warga memberi tempelan uang saat menerima kembali berkas itu.

Saya tersenyum kecut menonton gerakan tangan sang juru tempel saat menerima uang tempelan itu.

Ada yang ngasih 20 ribu, ada yang ngasih 10 ribu, ada yang ngasih 5 ribu perpengambilan berkas. Rata-rata sih diatas sepuluh ribu. Koq, saya bisa tahu? Ya jelas lah, walau saya bukan paranormal, saya tahu karena saya berdiri percis di samping meja si ibu.

Ada yang nanya di kejauhan, keliatannya keturunan cina. "Emang bayar, ya?"

Dijawab sama sebelahnya, "ngasih aja..."

Tak lama, ada seorang pemuda, dia dipanggil namanya. Dia ngeluarin uang 50 ribu. Dia masih diam di tempat nunggu kembalian. Sementara si ibu kira tuh uang 50ribu bakal buat dia semua.
Sedangkan, saya sih sudah menduga, kalau pemuda itu minta dikembalikan uang jasanya. Tapi, you know what, guys? Berapa coba kembaliannya?

Kembalian untuk si pemuda itu adalah 20 ribu!

Ebuset. Ini emak-emak maruk amat.

Kenapa enggak ditanya dulu gitu, mau dikembalian berapa. Siapa tahu tuh pemuda sebenarnya pengen ngasih goceng, doang, kan? Apes dah tuh si pemuda.

Saya menanti giliran saya tiba.

Lo pikir nanti gue bakal ngasih juga kayak orang-orang tak berdaya itu? Emang lo enggak digaji apa? #NgedumelDalamHati

Dan giliran saya benar-benar tiba.

Tangannya mengulurkan berkas. Agak slow motion gitu doi nyerahin kertasnya. Saya yang emang gemes banget langsung ngambil berkas saya, walau agak ditahan sebentar sama doi.

"Sory, bu. Gue sayang elo. Jadi gue enggak mau lo nanti di akherat berat gara-gara duit yang cepet abis"

Kata saya, dalam hati, tapi. :p

"Makasih, ya. Bu." Ujar saya mantap. Tanpa menempelkan bentuk uang apapun.

Si ibu malah jadi kikuk. Dikiranya mungkin saya akan memberi tempelan seperti yang lain.

Seketika berkas saya diambilnya lagi, kemudian diberi tanda silang di kedua sisi berkasnya. Entaaaah maksudnya apa. Saya heran, dong.
Saya langsung nanya.

"Bu, ini maksud tanda silang, apa, ya?"

si ibu tak sedikitpun menoleh pada saya, mungkin dia kesal.

Saya enggak peduli. Toh yang saya lakukan benar. Saya enggak suka kalau oknum-oknum kayak doi merajalele eh meraja lela. Emang sih, keliatannya kecil. Cuma ceban, goceng, atau goban. Tapi, kalian bisa itung, kan? Kalau tiap hari ada ratusan orang yang datang untuk stempelisasi?
Lagi pula, ini bukan soal pelit enggak mau ngasih uang jasa, tapi ini soal pendidikan mental, men! Dan mental yang selalu nodong uang jasa padahal gratis, adalah penyakit!

Sialnya, oknum-oknun kayak gitu, tuh, masih banyak. Dan kalau dibiarkan bisa nular ke pegawai yang lempeng-lempeng.
Kan bahaya! Ini negara jadi emergency, coi. Emergency!!!

Maka, epidemik minta uang jasa oknum itu harus dibasmi! MINIMAL DENGAN RAJIN MEMBACA.

MAKSUDNYA?



Saya kemudian beralih ruangan, dan saya mengamati kegiatan di ruang kecil bagian stempel camat itu, ada dua orang pengurus disana. Yang satu gemuk, yang satu kurus. Dua-duanya bapak-bapak. Tapi saya tidak kenal mana yang berstatus camatnya.

Saya menanti peristiwa. Apakah di ruang kecil ini juga ada retribusi stempelisasi?
Dan saya menghela nafas lega, ternyata kedua bapak itu tak memungut retribusi.

Saya keluar ruangan dengan rasa optimis, bahwa masih ada orang-orang jujur di sektor strategis pelayanan publik ini.



Nah, maka yang saya maksud cara membasmi penyakit oknum yang doyan retribusi liar dengan cara membaca adalah, minimal  kita jadi tahu,  kalau pembuatan e-Ktp itu memang gratis.

Yang namanya gratis,  mestinya tidak keluar uang sepeser pun. Dan karena kita tahu ketentuan sebenarnya, maka kita bisa mendidik para oknum itu supaya jera, dengan melaporkan pungli-pungli, baik pungli lembut maupun pungli kasar pada pihak yang berwajib atau ke nomor pengaduan masyarakat yang tersedia.

Karena, undang-undangnya sudah jelas, koq.
Dalam UU 24/2013 pasal 79A, berbunyi :"Pengurusan dan penerbitan Dokumen Kependudukan tidak dipungut biaya"


Dan sanksi yang bisa diterima dari segala macam bentuk pungli kasar atau pungli lembut (bayar seikhlasnya, tapi kalau enggak ikhlas tetap ditagih). Ini ancaman pidananya:



Nah, silakan kontak nomor pengaduan dan pelayan masyarakat ini bila ada yang ingin disampaikan.

Sumber dari sini


Harapan kita semua, semoga negeri kita ini bersih. Bersih di setiap lini, setiap instansi, dan di setiap hati penduduk negeri.

Untuk membasmi penyakit - penyakit akut yang sudah kronis memang butuh waktu. Maka harus kita mulai dari sendiri, saat ini juga. Pun, jangan biarkan sesuatu yang abnormal menjadi kebiasaan yang malah nanti sulit untuk dihilangkan.

Ujung-ujungnya, kita semua yang rugi kalau malu atau malas menegakkan kebenaran. Rugi di dunia sih masih mending, lah kalau diakhirat juga rugi karena akhlak kita yang tak terpuji, mau ngumpet di mana di akhirat? Ngumpet di balik kakinya malaikat Malik? Malah kecebur api nanti!  Hi, na'udzubillah.

_____

Oia, setelah beres mendapatkan stempel-stempel di Kecamatan, maka proses selanjutnya adalah mengurus ke Kantor Capil (Dinas Catatan Sipil) Karawang.

Kisah selanjutnya, akan saya posting di laman berikutnya,  ya!  ; )

Salam,
Djayanti Nakhla Andonesi
@Telukjambe

4 komentar:

  1. Ntar ane nyoba ah, mumpung ane belum punya e-ktp ( wilayah rengasdengklok )

    kalau bner kaya gitu juga , ntar bisa ane publish di blog ane dan beberapa media berita ^_^ ( salah satu penulis di web berita cukup terkenal di indonesia )

    BalasHapus
  2. Harusnya doanya gini: mudah2an di sana (dengklok) mah enggak ada oknum, aamiin. Gitu ^_^

    Btw, emang bener gitu kang Jhon ini suka nulis di media terkenal di indonesia?
    Linknya mana? ^_^

    BalasHapus
  3. Saya bikin eKTP di Tangerang antriannya panjaaaang dan lamaaa seperti choki-choki #ehh. Kita harus menegakkan kejujuran ya dan berani lapor kalau ada tindakan nggak bener dr aparat

    BalasHapus
    Balasan
    1. maaf br bls mbak, baru liat notifnya.

      choki2, hihi, itu mah coklat kesukaan saya waktu SD :D

      betul mbak Anne, soalnya kadang adaaaa aja oknum rese yang merusak citra bangsa Indonesia. Gemes, pengen jitak oknum2 kayak gitu sebenarnya #eh :D

      Hapus