Langsung ke konten utama

Ketika Saya Menulis

Ada banyak hal yang membuat saya terdorong untuk menulis.

Pertama, dari kecil saya memang senang sekali menulis.

Bahkan saya dan teman segenk (halah segenk :D masih pada krucil juga :D), sempat membuat 'buku' yang isinya adalah cerita yang kita karang sendiri. Istilahnya buku Trio. Karena waktu itu kita menulisnya bertiga.
Tentunya isinya jauh dari tata cara menulis novel yang baik dan benar, wong masih SD, hehehe.

Selain buku Trio,
saya juga sering menulis cerita sendiri. Waktu itu saya hanya menggunakan buku tulis kosong, jadi benar-benar menulis pakai pensil dan pulpen, karena saat itu komputer masih barang yang sangaaat ekslusif. Apalagi handphone, pokoknya zaman saya SD belum ada teknologi secanggih sekarang.

Saya sempat khatam membuat satu novel, bertema remaja, padahal saya sendiri masih SD waktu itu :D. Lalu, saya meminjamkannya kepada teman saya yang lebih gede dan di atas saya usianya.
Setelah beliau baca, ternyata beliau suka sama ceritanya, bahkan beliau sampai menitikan air mata karena cerita saya menyentuh hatinya.

Wah, saya girang. Ternyata ada yang suka dengan tulisan saya.
Tapi jangan dibayangkan bagaimana peletakan hurufnya ya, karena ketika itu saya tak terlalu peduli dengan teknis menulis. Yang ada di pikiran saya, ya menulis apa yang saya pikirkan saja, wong waktu itu saya belum ikutan kelas menulis, koq. :D

Saya ingin sekali mengirimkan cerita ke majalah yang ada. Tapi sayang, mama  tak mendukung saya kala itu. Kata mama, mengarang cerita itu tidak baik.
Sampai-sampai satu buku tulis hasil karya saya, saya hapus. Saya merasa tak punya peluang lagi untuk mengungkapkan sesuatu lewat tulisan.

Kedua, ada hikmah di balik tulisan.

Masa SMP saya fakum menulis. Namun, dasarnya hobi sih, ya, sehingga hati saya menagih-nagih diri sendiri untuk segera menulis lagi.
Akhirnya zaman SMA, semangat menulis mulai timbul lagi, walaupun baru sebatas semangat tanpa aksi yang mendukung.

Meski mama tak suka saya mengarang cerita, tapi ketika akhirnya saya sampaikan bahwa niat menulis untuk memetik hikmah, dan lagi pula menulis bukan hanya kisah fiktif semata melainkan ada tulisan ilmiah alias non fiksi juga, akhirnya mama pun mengizinkan saya untuk menulis.

Nah, dari izin mama lah, akhirnya saya berhasil memenangkan lomba cerpen ketika SMA, judulnya 'Gerimis' yang diikut sertakan dalam PIJAR  FKDK UNSIKA 2008.
Bahkan sebelum saya kirimkan cerpennya, Mama sudah menitikkan air mata saat saya serahkan pada beliau cerpen karya saya. Kata mama, ceritanya penuh hikmah.

Ketiga, keinginan kuat untuk menyebarkan manfaat

Zaman saya masuk kuliah sambil kerja, saya tidak bisa menulis banyak. Karena keterbatasan waktu. (Halasan :D)
Tapi memang lebih sering nulis tugas-tugas kuliah, seperti makalah, paper dll., dibanding nulis fiksi.

Tapi, untungnya saya ikut kegiatan Forum Lingkar Pena Karawang. Walaupun, ya itu tadi, karena waktu sudah tersedot oleh kuliah-kerja-dan kegiatan kampus lainnya, akhirnya saya tak begitu aktif di forum tersebut.
Namun untunglah, orang-orang forumnya balageur. Hehehe.

Keempat, terinspirasi dari kalam-Nya.

Ya, Allah menyuruh kita menulis melalui QS. Qalam. 
Dan memang menulis bisa lebih efektif pada banyak hal, termasuk pada proses memperbaiki diri, baik diri sendiri maupun lingkungan.

Well, pada akhirnya, di antara banyaknya alasan saya menulis, yang paling dasar bagi saya adalah ingin meninggalkan jejak yang bermanfaat bagi anak keturunan saya. 




Syukur-syukur bisa bermanfaat juga pada orang lain, dan masyarakat luas.

Dan, saya ingin membuktikan pada Mama tercinta, bahwa menulis juga bisa mendatangkan pahala. Dan ketika pahala itu ada, saya berharap Mama dan Bapak menerimanya pula. Aamiin.
:)

Salam,
Djayanti Nakhla Andonesi
Karawang city

Komentar

Postingan Terpopuler Bulan ini

Rek Kitu Wae?

Kalau Anda sering mendengar ceramah salah satu Ustad asal Parahyangan, alias asal Sunda, pasti paham siapa yang sering mengatakan kalimat ini : "Rek Kitu Wae?"

Yap, dialah Ustad Evie. Seorang dai yang dikenal eksentrik. Unik. Namun, kali ini saya belum akan membahas biografinya. Melainkan saya akan meminjam kata yang sering beliau ucapkan. Rek Kitu Wae? Dan akan saya uraikan melalui perspektif saya.

Karena saya sendiri seringnya merasa ter-Jleb-isasi, ketika mendengarnya. 'Rek kitu wae?'

Geliat Pasar Tumpah Menjelang Lebaran

Baju baru alhamdulillah 
Tuk dipakai di hari raya
Tak punya pun tak apa-apa
Masih ada baju yang lama 😊

Masih ingat lagu anak-anak yang dipopulerkan oleh Dea Ananda, di atas? (hahaha, ketauan banget ya yang nulis anak jaman kapan 😛)

Ya, budaya yang ada di Indonesia, entah sejak kapan dimulainya, menjelang akhir ramadhan, masyarakat kita berburu

Membongkar Rahasia Magnet Rezeki ala Ust Nasrullah

Tanggal 20 Mei 2018 yang lalu, kami berkesempatan untuk mengikuti kegiatan Safari Ramadhan Ustad Nasrullah, yang pada saat itu dilaksanakan di aula Hotel Brits Karawang. Dan maaf baru sempat saya posting sekarang #gigitgadget

Hadirnya saya dan suami di kegiatan tersebut terbilang ajaib menurut kami. Karena, sebelumnya kami bingung apakah akan mengikuti kegiatan itu atau tidak dengan berbagai pertimbangan.
Pertama,

Serba-serbi Tips Pembuatan E-KTP di Karawang

Tulisan ini, lanjutan dari pengamatan dari Suka Duka Pembuatan E-KTP di Karawang
Jadi prosesnya,  begini.

Seberapa Penting sih Rutin Makan Buah dan Sayur?

Dears, Buah dan Sayur itu punya peranan yang penting ya untuk kesehatan tubuh. Sebagian besar dari kita juga pasti sudah tahu ya, kalau kita perlu banget mengkonsumsi buah dan sayur.
Diantara manfaat makan buah dan sayur secara rutin, ini nih: