Langsung ke konten utama

Kapal Telah Berlayar ke Samudera

Biarkan jiwamu dan jiwaku menyatu
Kita menari riang di atas cinta yang syahdu
Biarkan bahagia ini terus dijaga di dalam kalbu
Karena Allah telah menghalalkan engkau untukku, dan aku untukmu
~Djayanti Nakhla Andonesi~

Menjadi mempelai wanita dan pria, dalam satu kursi pelaminan yang sama, dalam ijab dan kabul yang menggema hingga ke langit-Nya, adalah naluri sekaligus dambaan seluruh insan yang nalar pikirnya masih terjaga.

Karena, cinta dan nafsu adalah dua hal yang tak sama namun tipis sekali bedanya. Maka cinta yang sebenarnya, adalah yang mendahulukan petunjuk-Nya, ketimbang bujukan mantan penghuni surga yakni syaithon namanya.

Bukanlah cinta, bila seorang insan mencumbu yang bukan mahramnya. Bukanlah sayang bila insan memadu kasih sebelum halal menggenapinya. Karena cinta yang sebenernya, akan lebih dulu mengikuti panduan Yang Maha Memiliki Cinta.

Maka berbahagialah. Bila insan
sudah menemukan belahan jiwa dalam ijab kabul sebagai pintunya. Maka berbahagialah. Bila Insan sudah berusaha menempatkan cinta di jalur yang diridhoi-Nya. Maka berbahagialah. Bila insan sudah memaafkan masing-masing masa lalunya, dan bersama memperbaiki diri untuk meraih ampunan-Nya. Maka berbahagialah. Bila pasangan yang telah halal, mau menerima kekurangan masing-masing yang pasti saja ada. Maka berbahagialah. Bila pasangan yang telah halal, mau saling mengapresiasi perjuangan bersama dalam berlayar menuju surga-Nya.

Dan berbahagialah. Kapal telah berlayar ke samudera. Tetaplah saling menguatkan ketika badai menerpa. Karena, cinta selalu diuji dari mata angin mana saja. Maka berbahagialah. Karena cinta yang karena Allah akan senantiasa dijaga sampai melabuh di Surga. Insya Allah.

Dan berbahagia pulalah, insan yang hari ini belum bertemu dengan belahan jiwanya. Karena itu artinya, masih terbuka kesempatan untuk memperbaiki diri agar Allah pun memperbaiki dia yang telah tertulis di Lauh Mahfudz-Nya. Jangan menyerah, teruslah berusaha sesuai bimbingan-Nya.

Maka berbahagialah. Karena Allah sudah menetapkan segala sesuatu bersama pasangannya. Ada siang yang terang benderang, ada malam yang gelap gulita. Ada nama kita, dan ada nama pasangan kita yang telah tertulis di sana, di Lauh-MahfudzNya. Percayalah, belahan jiwa kita tak akan tertukar seperti drama di layar kaca.

Maka berbahagialah. Terimalah ketetapan-Nya. Maka Berbahagialah. Karena surga dipenuhi cinta yang suci dan kerelaan terhadap ridho-Nya.



Salam bahagia,
Djayanti Nakhla Andonesi.
@Baiti Jannati
^_^

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mayako Matsumoto Vs ‘Rezeki anak sholeh’

Beberapa hari yang lalu, teman dekat saya, bercerita bahwa anaknya yang baru kelas satu SD, dibekali tempat minum Tupperware, hilang di dalam kelas.

Sebenarnya awalnya begini, ketika keluar dari kelas dan baru sampai gerbang sekolah, teman saya ngeh, koq botol Tupperware yang dibawa anaknya enggak ada di tas. Lalu,

Bahaya Penggunaan Gadget Yang Kurang Bijak Pada Anak

Hujan, angin, dingin. Badan kurang fit. Sebuah perpaduan yang klop untuk mager di rumah :D. Tapi, karena sudah ada agenda dan agendanya luar biasa penting, akhirnya saya menggeber diri saya untuk tetap menuju lokasi acara. 

Dengan kekuatan bulan (ketahuan amat ya, saya angkatannya sailormoon :D ), salah salah, maksudnya dengan kekuatan lillahi ta’ala dan ridho suami, akhirnya saya membelah hujan dengan deruman kuda mesin hijau kesayangan. 
Tentu sebelum berangkat saya lebih dulu meminum spirulina,androghapis dan HC alias Hpai Coffee, sebagai suplemen alami tubuh, apalagi kondisi badan sedang kurang fit, wajib banget dah jadinya untuk mengkonsumsinya, hehehe.
Jam 7.15 WIB, saya mampir dulu ke bu Yasmin, karena kita akan sama-sama berangkat ke tempat acara. Kalau hari Ahad cerah, sudah bisa dipastikan, jalanan dari bunderan galuh mas-bunderan masjid raya perumnas, pasti padat merayap karena ada kegiatan pasar tumpah. 

Nah, berhubung cuaca sedang gerimis, kami bisa melewatinya dengan cukup …

Akhirnya, setelah 20 tahun, Prancis Kembali menjadi Juara Dunia

Saya bukan bola-adict, tapi saya suka memperhatikan permainan ini. Sebenarnya awal saya mulai memperhatikan sepak bola dunia adalah ketika piala dunia 2002, karena di sana ada Miroslav Klose.
Ah elah, bocah cewek kelas enam SD, tahu apa soal bola. Tapi ya emang begitu kenyataannya, saya mulai tertarik piala dunia sejak melihat ada Uwa Klose di sana. Keren aja gitu melihat gol-gol kecenya waktu itu. Sampai