Langsung ke konten utama

Memories part2


Saya pernah berjanji untuk melanjutkan sebuah tulisan… yup! Here are..

Hari ketiga OSPEK!
Berusaha lebih cermat lagi dari hari sebelumnya. Lagian kapok kalo mesti di omelin subuh-subuh gitu! :p
Hhehe.

Dengan langkah lebih percaya diri...
Tak peduli meski baru istirahat dua jam saja, saya masuk ke pelataran kampus yang sudah dipenuhi orang-orang berbaju putih (calon Mahasiswa baru), dan yang memakai seragam merah marun (sesepuh kampus, hehehe)

Hari itu, saya merasa jauh lebih nyaman. Karena hari itu adalah hari ospek untuk bagian Fakultas masing-masing. Jadi, lebih terhindar dari nyanyian merdu hari kemarin, hehehe. 
Pengecut banget ya saya, huhhu. :D

Tapi, daripada mendadak sakit jantung? Hayooo… jadi tidak berlebihan kalo saya merasa lebih nyaman dari hari sebelumnya, hehe.

Oke deh, jam Delapan pagi waktu Indonesia bagian UNSIKA, hehe. Kami dikumpulkan di Aula. Tempat yang sama ketika saya pertama kali melakukan testing dan interview masuk kampus.

Sebelum memasuki aula, seluruh peserta Ospek dari berbagai fakultas, kami saling berpegangan tangan erat satusama lain, untuk akhirnya diserahkan di dalam aula, dari bagian Universitas kepada bagian Fakultas.  Akhirnya, setelah proses yang lumayan lama itu, semua menyebar. Dan kami menyederhanakan kelompok menurut fakultas masing-masing.

Kebetulan kelompok saya, kebagian berkumpul di samping aula. Yang notabene fakultasnya paling dekat dengan aula. di sana kami di kumpulkan oleh kakak tingkat, yang lebih fleksibel dibanding kemarin. Mungkin mereka juga capek kali ya nyanyi terus :D hehehe.

Jam sepuluh sepuluh lebih tiga puluh menit, kakak tingkat dengan bijaksananya diam di depan kami. Tak ada ‘hentakan nyanyian’! Alhamdulillah…  bahkan di sesi ini, mereka rajin sekali senyum, sedang banyak pulsa mungkin :D hehe.

Di sesi itu, kami dipersilahkan mengenal peserta ospek lain. Kemudian, salah satu dari kami ada yang diminta memberikan tausiyah. Dan yang pertama kali berani tampil adalah kawan saya yang kemarin member info soal ospek pada saya. namun sekarang, dia sudah tidak ada lagi di kampus kami. Mungkin rezeki dan ilmunya lebih baik di luar sana. Semoga.

Kembali pada sesi yang sedang berlangsung itu, setelah kawan saya yang sebut saja si Z, memberikan tausiyah singkatnya, kemudian tampil lagi peserta ospek lainnya. Beliau diminta untuk berbicara apa saja mengenai alasannya kuliah dsb. Sebut saja F, Yang akhirnya, dengan scenario Allah, si F ini ternyata berhasil menjadi ketua di salah satu UKM pada masa-masa selanjutnya :D

Dalam kelompok itupun saya mengenal teman-teman wanita yang  Alhamdulillah, adalah orang-orang yang baik. ^_^ dan diantara mereka, ternyata ada yang menjadi saudari-saudari terbaik saya. hingga saat ini. Alhamdulillah… ^_^

Pukul 11.30 am, waktunya istirahat, saya gelisah. Pasalnya, saya ini kan sedang sift dua, jadi mesti siap-siap berangkat kerja! Tapi masalahnya, orang yang menolongku untuk mengantarkan surat keterangan kerja, belum juga terlihat batang hidungnya.  Padahal, surat keterangan kerja itu amat penting. Untuk apa? Ya untuk diserahkan pada panitia ospek, supaya saya diizinkan pulang lebih awal dibanding yang lain. Jika tidak ada surat itu, panitia ospek sanksi untuk memberikan izin. -___-‘’

Tapi yang ditunggu, tak juga kunjung tiba…

11.50 am… saya berada di depan MIFKA, mushola yang saat itu belum dipugar seperti saat ini. mata saya tak berhenti melihat ke arah depan mushola, barangkali orang yang akan menolongku itu sudah tiba.
Jarum panjang dalam jam dinding mushola sudah berada di angka satu. Artinya sudah pukul 12.05 pm. Saya menggigit bibir, cemas. Bagaimana jika orang yang akan menolong saya itu tidak jadi datang mengantarkan surat? Bagaimaa jika akhirnya saya terlambat masuk kerja? Padahal saya belum berhak mendapatkan cuti, karena saat itu saya  masih menjadi anggota baru dalam kancah perpabrikan.
Haduuuuuuh…

12.10 pm, saya yang sedang halangan shalat itu, beranjak meninggalkan teras mushola. Hendak mencari segelas air mineral untuk menghilangkan haus yang sedari tadi mengusik tenggorokan. Tapi, kalau saya pergi ke kantin, nanti orang yang akan menolong saya mengantar surat itu, tidak tahu keberadaan saya dong?

Karena, kantin yang ada di kampus ini kan letaknya cukup jauh dari kelas fakultas saya. eh, iya! Saya lupa memberitahukan kalau saya menunggu di teras mushola. Waduh! Kalau dia sampai nyari saya tapi ga ketemu, gimana? Saya semakin cemas dengan prediksi-prediksi negative dalam pikiran saya.

Dalam hati saya terus bermunajat, supaya orang yang akan menolongku itu sampai tepat waktu, karena saya tahu, jam istirahat di pabrik tempat saya kerja itu akan berakhir pukul 12.30 pm. Sedangkan pukul 12.12 pm. ini saja, dia belum juga sampai ke kampus ini. Lantas, bagaimana juga nasibnya jika dia menjadi terlambat gara-gara mengurus surat keterngan kerja saya? wah, belum apa-apa kehadiran saya malah merepotkan.., haaduuuh…

Saya menyapu wajah saya dengan sapu tangan yang saya bawa. Sekaligus, menyapu kecemasan-kecamasan yang tak bisa saya hindari. Bersamaan dengan itu, saya yakin, Allah pasti akan menolong saya.
12.15 pm. Seorang yang memakai jaket abu-abu, berjelan menghampiri saya. itu dia! Dia yang berjanji menolong saya. Saya berdiri, beranjak pamit pada teman-teman ospek dan kakak tingkat lain. Kemudian menyerahkan surat  keterangan kerja itu pada ketua BEM fakultas. Alhamdulillah………….. saya menghembuskan nafas lega. Saya mengucapkan terimakasih banyak atas kebaikan orang yang menolong saya itu. Vielen danke!* ^_^

Tepat 12.30 pm, saya sampai di rumah, mendahului teman-teman yang lain karena sebentar lagi saya siap-siap berangkat kerja sift dua.
Akhirnya satu hal yang saya garis bawahi, Pertolongan Allah memang selalu ada. ^_^
Allah akan selalu menolong saya, anda, dan kita semua yang senantiasa percaya pada keberadaanNya serta kemahakuasaanNya ^_^
Alhamdulillah.

-Tamat!-

Kesimpulan atau hikmah yang bisa dipetik, saya serahkan pada masing-masing pembaca. Hhee.

NB : *terimakasih banyak!



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mayako Matsumoto Vs ‘Rezeki anak sholeh’

Beberapa hari yang lalu, teman dekat saya, bercerita bahwa anaknya yang baru kelas satu SD, dibekali tempat minum Tupperware, hilang di dalam kelas.

Sebenarnya awalnya begini, ketika keluar dari kelas dan baru sampai gerbang sekolah, teman saya ngeh, koq botol Tupperware yang dibawa anaknya enggak ada di tas. Lalu,

Bahaya Penggunaan Gadget Yang Kurang Bijak Pada Anak

Hujan, angin, dingin. Badan kurang fit. Sebuah perpaduan yang klop untuk mager di rumah :D. Tapi, karena sudah ada agenda dan agendanya luar biasa penting, akhirnya saya menggeber diri saya untuk tetap menuju lokasi acara. 

Dengan kekuatan bulan (ketahuan amat ya, saya angkatannya sailormoon :D ), salah salah, maksudnya dengan kekuatan lillahi ta’ala dan ridho suami, akhirnya saya membelah hujan dengan deruman kuda mesin hijau kesayangan. 
Tentu sebelum berangkat saya lebih dulu meminum spirulina,androghapis dan HC alias Hpai Coffee, sebagai suplemen alami tubuh, apalagi kondisi badan sedang kurang fit, wajib banget dah jadinya untuk mengkonsumsinya, hehehe.
Jam 7.15 WIB, saya mampir dulu ke bu Yasmin, karena kita akan sama-sama berangkat ke tempat acara. Kalau hari Ahad cerah, sudah bisa dipastikan, jalanan dari bunderan galuh mas-bunderan masjid raya perumnas, pasti padat merayap karena ada kegiatan pasar tumpah. 

Nah, berhubung cuaca sedang gerimis, kami bisa melewatinya dengan cukup …

Akhirnya, setelah 20 tahun, Prancis Kembali menjadi Juara Dunia

Saya bukan bola-adict, tapi saya suka memperhatikan permainan ini. Sebenarnya awal saya mulai memperhatikan sepak bola dunia adalah ketika piala dunia 2002, karena di sana ada Miroslav Klose.
Ah elah, bocah cewek kelas enam SD, tahu apa soal bola. Tapi ya emang begitu kenyataannya, saya mulai tertarik piala dunia sejak melihat ada Uwa Klose di sana. Keren aja gitu melihat gol-gol kecenya waktu itu. Sampai