Senin, 18 Januari 2016

Bukannya Ingin Terus Asik Sendiri, Percayalah Pasti Kutemukan Tambatan Hati

Catatan ini dipersembahkan untuk sahabat-sahabat yang masih berjuang mencari tambatan hati.

***

Musim kondangan telah tiba. Bukan saja kado atau doa yang akan ku persiapkan untuk mereka yang mengundangku ke pernikahannya. Lebih dari itu. Aku pun mempersiapkan mental.
Mental untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan mainstream. Seperti, kapan nikah?

Kadang aku mikir, koq pertanyaannya kurang kreatif sekali. Enggak ada pertanyaan lain apa? Misal
nanyain, kapan ke baitullah? Kapan bikin pesawat terbang kayak Habibie? Hehehe.

Ya, aku tahu. Sebenarnya pertanyaan kapan nikah itu adalah bentuk perhatian mereka padaku. Oke, terima kasih atas perhatiannya. Tapi, ya sekali-kali kalau nanya Kapan Nikah itu, sekalian bawain calonnya, gitu loh! Hehehe.

Oke, oke. Aku memang sendiri. Dan itu lebih baik untuk saat ini, daripada pacaran? Mending jadi JOSIP. Jomblo berprinsip. Ya, berprinsip untuk tidak pacaran lebih baik di mata agama, dari pada mempunyai pasangan yang belum halal. Prinsip untuk tidak pacaran sebelum menikah bagiku adalah harga mati. Aku memang bukan orang baik, tapi setidaknya aku tidak jatuh dua kali, sudah tidak baik, pacaran lagi!

"Jadi, kapan nyusul?" tanya temanku iseng.

"Besok kalau enggak hujan!" jawabku garing. Mereka tertawa. Aku ikut tertawa, meski dalam hati merana.

Dan ketika menyalami pengantin di pelaminan, aku berdoa, "Barokallahulakuma wa barokah 'alaikuma wajama'ah baina kuma fi khoir"

Pengantin tersenyum mengamini. Aku tersenyum.

Aku tahu, bila kita berdoa kebaikan untuk orang lain, maka malaikat akan mendoakan kebaikan yang sama pada kita. Maka, doa yang tadi kusebutkan, pasti mengundang perhatian malaikat agar turut mendoakanku.


"Sudah, jangan terlalu asik sendiri. Penyanyinya saja sekarang sudah menikah. Masa kamu belum?" tanya temanku yang lain, yang anaknya sudah dua.

"Iya, deh iya. By the way, kemarin ayam saya mati loh, masa kamu belum?" saya bertanya balik, spontan temanku menyikut lenganku.

"Hehehe, becanda,sob!"

Kemudian mereka berlalu. Namun pertanyaan itu masih bercokol di hatiku.

Lalu sahabatku, yang sedang berada dalam pelaminan itu, menghampiriku ketika tamu sedang sepi.

"Aku tahu, kau sudah tahu, bahwa menikah adalah jalan terbaik. Kalau belum menemukannya juga, teruslah berusaha. Berusaha untuk memperbaiki diri. Agar Allah juga memperbaiki jodohmu. Teruslah berdoa, agar kalian segera dipertemukan, di waktu yang tepat menurut-Nya. Tak usah tersinggung dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak berkenan di hatimu. Karena, menikah memang bukan seperti balap karung. Namun, pesanku, tetaplah jaga hatimu, jaga izzahmu, agar kau tetap berada dalam jalan-Nya. Percayalah, Allah sudah mempersiapkannya, tinggal usaha dan doamu saja yang harus dimaksimalkan. Shalat wajib jangan telat, shalat malam jangan kelewat, perbanyak sedekah dan amalan sunat, tentu doa teruslah dipanjat. Rumus ini tak hanya dilakukan saat kau butuh jodoh saja ya, tapi sepanjang hidupmu, amalkanlah."

Hatiku rembes. Aku pikir dia akan meledekku seperti teman-teman yang lain.

"Ya, aku bukannya ingin terus asik sendiri koq, percayalah pasti kutemukan tambatan hati yang halal." jawabku mantap. Aku tahu, Allah Maha Mendengar.

"Terima kasih, ya doanya. Dan kalau bisa, carikan lah calon buatku, hahaha." Lanjutku kemudian, menepikan rasa haru.

Ya Allah, Engkau lebih tahu dari mereka, bahkan lebih tahu dari diriku sendiri. Bahwa sungguh tak ada niatan untuk tak menggenapkan agamamu atau tak  ingin mengikuti sunnah nabimu. Sunnguh aku ingin. Maka dari itu, pertemukanlah hamba dengan jodoh hamba yang terbaik menurut-Mu, segera, sesegera yang Engkau ridhoi. Aamiin


 
Song by : Kunto Aji



Salam,
Djayanti Nakhla Andonesi 
@Baiti Jannati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar