Langsung ke konten utama

Stop Menjadi Keledai

Detik berganti Menit. Menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu, hingga akhirnya bulan berganti tahun.

Dalam pergantian-pergantian itu, mestinya kita belajar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Tentunya bukan lebih baik dengan membanding-bandingkan diri dengan orang lain, dan atau justeru akhirnya merasa paling baik sendiri. Bukan. Bukan itu maksudnya.

Harusnya, pada pergantian-pergantian waktu itu bisa menjadi momentum untuk ku, untuk kita semua, bahwa hidup di dunia ini tidaklah langgeng. Akan ada masanya kita berhenti bernafas. Akan ada masanya kita tak lagi bisa menikmati karunia-karunia yang telah Allah berikan pada kita selama kita hidup ini.

Lalu, apa yang harus kita lakukan dengan momentum pergantian-pergantian waktu yang setiap saat terjadi itu? Ya, sudah seyogyanya kita 'tak jadi keledai'. Yang jatuh di lubang yang sama. Yang tak belajar dari kesalahan di masa lampau.
Sumber gambar: orangefloat.flies.wordpress.com

Kita, manusia, memang telah dinobatkan menjadi makhluk yang hilap dan pelupa.

Tapi, tak selamanya waktu kita bernafas kita dalam keadaan tidak sadar, bukan? Maka, alangkah eloknya jika dalam keadaan sadar itulah kita semaksimal mungkin untuk berbenah diri. Bukan, bukan untuk dipuji orang lain. Bukan, bukan untuk mendapatkan penghargaan nobel dari orang lain. Melainkan agar kita lebih menghormati dan bertanggungjawab pada yang telah memberikan kita hidup segratis ini, yakni Allah SWT.

Ya, aku pernah jadi keledai, yang tak juga belajar untuk memperbaiki kesalahan. Maka, pada momentum kali ini, aku mengajak diriku sendiri untuk stop menjadi keledai. Karena, aku tahu, esok belum tentu aku masih hidup untuk memperbaikinya. Belum tentu menit selanjutnya aku masih bisa berleha-leha untuk menghindar dari tanggung jawabku sebagai makhluk Tuhan yang telah diberi banyak anugerah dan nikmat dariNya.

Yassalam …
Maafkan… karena aku ini lemah, tak punya daya dan upaya melainkan dengan upaya dan kekuatanMu,  tapi sering kali sombong dengan menganggap bahwa usia dan karunia yang Kau titipkan ini masihlah lama untuk ku kembalikan.

Yassalam …
Maafkan… karena aku ini hina, tapi masih juga malas untuk ‘membersihkan diri’ dari dosa dan maksiat yang telah kuperbuat.

Yassalam …
Maafkan… karena aku ini tak tahu apa-apa, tapi masih juga belagu untuk melakukan hal-hal dalam hidup tanpa petunjuk-Mu.

Yassalam …
Maafkan… karena aku ini rendah, tapi masih juga merasa tinggi untuk sering-sering sujud di hadapanMu.

Yassalam … izinkan, izinkanlah aku menjadi bagian dari cinta-Mu. Izinkanlah aku menjadi golongan hamba-hamba yang bertaubat dan istiqomat di jalan-Mu. Izinkanlah aku menjadi makhluk yang Engkau ridhoi…. Aamiin.

Salam,
Djayanti Nakhla Andonesi
Satu satu dua kosong satu tujuh
Di Kamojing

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahaya Penggunaan Gadget Yang Kurang Bijak Pada Anak

Hujan, angin, dingin. Badan kurang fit. Sebuah perpaduan yang klop untuk mager di rumah :D. Tapi, karena sudah ada agenda dan agendanya luar biasa penting, akhirnya saya menggeber diri saya untuk tetap menuju lokasi acara. 

Dengan kekuatan bulan (ketahuan amat ya, saya angkatannya sailormoon :D ), salah salah, maksudnya dengan kekuatan lillahi ta’ala dan ridho suami, akhirnya saya membelah hujan dengan deruman kuda mesin hijau kesayangan. 
Tentu sebelum berangkat

Mayako Matsumoto Vs ‘Rezeki anak sholeh’

Beberapa hari yang lalu, teman dekat saya, bercerita bahwa anaknya yang baru kelas satu SD, dibekali tempat minum Tupperware, hilang di dalam kelas.

Sebenarnya awalnya begini, ketika keluar dari kelas dan baru sampai gerbang sekolah, teman saya ngeh, koq botol Tupperware yang dibawa anaknya enggak ada di tas. Lalu,

Kapal Telah Berlayar ke Samudera

Biarkan jiwamu dan jiwaku menyatu
Kita menari riang di atas cinta yang syahdu
Biarkan bahagia ini terus dijaga di dalam kalbu
Karena Allah telah menghalalkan engkau untukku, dan aku untukmu
~Djayanti Nakhla Andonesi~

Menjadi mempelai wanita dan pria, dalam satu kursi pelaminan yang sama, dalam ijab dan kabul yang menggema hingga ke langit-Nya, adalah naluri sekaligus dambaan seluruh insan yang nalar pikirnya masih terjaga.

Karena, cinta dan nafsu adalah dua hal yang tak sama namun tipis sekali bedanya. Maka cinta yang sebenarnya, adalah yang mendahulukan petunjuk-Nya, ketimbang bujukan mantan penghuni surga yakni syaithon namanya.

Bukanlah cinta, bila seorang insan mencumbu yang bukan mahramnya. Bukanlah sayang bila insan memadu kasih sebelum halal menggenapinya. Karena cinta yang sebenernya, akan lebih dulu mengikuti panduan Yang Maha Memiliki Cinta.

Maka berbahagialah. Bila insan