Langsung ke konten utama

5 Poin Plus Ini Yang Membuat Saya Tetap Jatuh Hati Pada FLP

M au tahu apa saja alasan saya tetap jatuh hati pada FLP? 

1. Orang-orangnya




Saya mengenal FLP sejak saya masih gadis, kira-kira sekitar  tahun 2012.  


Pertama kali ikut acara milad FLP Karawang

Sekarang tahun 2019 saya sudah punya dua bocah cilik. Hehehe. Berarti sudah 7 tahun! Wow, ternyata memang sudah lama juga ya, saya jadi anggota Forum Lingkar Pena ini. 
Tapi, saat awal-awal saya masuk jadi anggota, saya enggak ngeh kalau harus punya NRA.

Barulah saat saya hendak masuk ke grup blogger FLP sekitar 2018, akhirnya saya ngeh belum punya NRA selama itu. :D Maafkan saya, ya para suhu! 



Maka, jadilah saya langsung membuat NRA kepada ketua FLP Karawang saat itu, yakni Teh Lina Astuti. Haturnuhun teh Lin, yang sudah menuntaskan ketidakngehan saya akan hal itu. Dan inilah NRA saya, 005/D/010/006, alhamdulillah yah, akhirnya saya jadi warga FLP yang punya ‘indentitas resmi’. :D

Nah, selama saya jadi anggota FLP, saya merasa nyaman dengan orang-orang yang tergabung di dalamnya. Karena, orangnya baik-baik. Dan banyak yang karyanya sudah bejibun, bahkan ada yang best seller tapi mereka tetap down to earth. Tetap humble pada remah-remah rengginang seperti saya, #eaaaa :D

 2. Menambah tali silaturahmi

Tentunya dengan menjadi anggota di sebuah komunitas, kita jadi lebih banyak lagi mengenal orang. Kerennya, anggota FLP ini berasal mulai dari sesama daerah dan kota, sesama negara, pun lintas benua. Sehingga bisa mendapatkan peluang silaturahmi lebih luas lagi. Sementara peluang job itu bonus, bukan begitu? :D

3. Ilmunya

Dari Forum Lingkar Pena ini saya juga banyak mendapatkan ilmu. Bagi saya tak hanya ilmu menulis, kawan. Tapi juga ilmu lain seperti bagaimana kita menjadi orang yang lebih bijak dan berwawasan lagi, lewat sharing-sharing yang dibagikan atau diskusi-diskusi menarik yang disajikan.  Juga ilmu tentang belajar bagaimana menghargai perbedaan pandangan. Pun ‘ilmu’ menjadi orang yang lebih santun lagi sebagaimana tagline FLP itu sendiri. Menulis dengan santun.

4. Nasehat tersirat

Ada banyak nasehat tersirat yang saya dapatkan dari FLP ini. Baik dari kisah inpiratif para anggota FLP, maupun teguran halus yang diberikan para coach FLP, guna memperbaiki kualitas kami sebagai anggotanya.

Nah, ada momen  menarik yang ingin saya bagikan. Begini, selama saya menjadi anggota grup WA Blogger FLP, ternyata saya belum konsisten menjalankan aturan main postingannya. Karena ada saja alasannya saya tidak bisa posting blog secara rutin. Jangankan posting, BW alias blogwalking saja, juarang banget kalau tidak ikutan ngelist postingan blog di tiap hari senin. Hiks. Jangan ditiru ya, teman-teman. #jewer telinga sendiri

Sampai… jeng-jeng! Beberapa waktu lalu, salah satu Master Blogger FLP nyeletuk, “kalau memang sudah pada malas ngeblog mungkin group ini dibubarin aja…#TUMAN!”

Saya bacanya antara ngakak sampai terhenyak. Ngakaknya karena tagar yang digunakan memang sedang populer saat ini. 

Dan terhenyaknya karena usulan untuk bubar grup.  “Jangaaan.” Jerit saya dalam hati.  


Tapi alhamdulillah, grup blogger-nya tidak jadi dibubarkan. Hehehe. 

Setidaknya sampai hari ini, para pengurus masih berbaik hati untuk nampung saya khususnya yang masih malas posting. 

Dan dari situ saya #auto instrospeksi diri, untuk lebih komitmen lagi. Jazakumullah khoir.

5. Visi Misinya

Nah, Visi FLP, sebagaimana yang  pernah diutarakan oleh salah satu founder FLP, bunda Helvy Tiana Rosa adalah membangun Indonesia cinta membaca dan menulis serta membangun #jaringan penulis berkualitas di Indonesia.

Sedangkan Misinya adalah menjadi wadah bagi penulis dan calon penulis, meningkatkan mutu dan produktifitas (tulisan) para anggotanya sebagai sumbangsih berarti bagi masyarakat, turut membangun citra pers yang obyektif dan bertanggung jawab, turut meningkatkan budaya membaca dan menulis, terutama bagi kaum muda Indonesia, dan menjadi organisasi yang selalu memunculkan penulis baru dari daerah di seluruh Indonesia.

Semua itu klik sekali dengan #MauSAya yang berasal dari daerah-daerah –seperti saya dari Karawang-- pun bisa menjadi penulis yang aktif sebagaimana para founder FLP dan para anggota FLP lainnya di seluruh dunia.  Aamiin.

Ya, saya akui, inilah PR saya yakni harus lebih bisa lagi mengatur waktu dengan baik dan disiplin untuk bisa berkarya melalui tulisan. Agar saya juga bisa mendapatkan amal jariyah lewat dakwah bil qolam, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh  teman-teman FLP yang inspiratif. Karena salah satu  #MauSaya juga bisa menerbitkan buku solo di tahun 2019 ini, aamiin.

Baik, itulah beberapa alasan saya tetap jatuh hati pada wadah yang insya Allah thoyyib ini, Forum Lingkar Pena. Semoga di Milad ke-22 ini, FLP semakin jaya, literasi yang dihasilkan semakin sehat, dan semua anggotanya bisa menjadi penulis-penulis handal yang bisa membangun negeri Indonesia ini khususnya, dan seluruh dunia umumnya, menjadi semakin baik lagi melalui karya-karyanya diiringi akhlak-akhlak santunnya pula. Aamiin.






#Tulisan ini dibuat dalam rangka lomba blog dari Blogger FLP pada rangkaian Midal FLP 22.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahaya Penggunaan Gadget Yang Kurang Bijak Pada Anak

Hujan, angin, dingin. Badan kurang fit. Sebuah perpaduan yang klop untuk mager di rumah :D. Tapi, karena sudah ada agenda dan agendanya luar biasa penting, akhirnya saya menggeber diri saya untuk tetap menuju lokasi acara. 

Dengan kekuatan bulan (ketahuan amat ya, saya angkatannya sailormoon :D ), salah salah, maksudnya dengan kekuatan lillahi ta’ala dan ridho suami, akhirnya saya membelah hujan dengan deruman kuda mesin hijau kesayangan. 
Tentu sebelum berangkat

Mayako Matsumoto Vs ‘Rezeki anak sholeh’

Beberapa hari yang lalu, teman dekat saya, bercerita bahwa anaknya yang baru kelas satu SD, dibekali tempat minum Tupperware, hilang di dalam kelas.

Sebenarnya awalnya begini, ketika keluar dari kelas dan baru sampai gerbang sekolah, teman saya ngeh, koq botol Tupperware yang dibawa anaknya enggak ada di tas. Lalu,

Kapal Telah Berlayar ke Samudera

Biarkan jiwamu dan jiwaku menyatu
Kita menari riang di atas cinta yang syahdu
Biarkan bahagia ini terus dijaga di dalam kalbu
Karena Allah telah menghalalkan engkau untukku, dan aku untukmu
~Djayanti Nakhla Andonesi~

Menjadi mempelai wanita dan pria, dalam satu kursi pelaminan yang sama, dalam ijab dan kabul yang menggema hingga ke langit-Nya, adalah naluri sekaligus dambaan seluruh insan yang nalar pikirnya masih terjaga.

Karena, cinta dan nafsu adalah dua hal yang tak sama namun tipis sekali bedanya. Maka cinta yang sebenarnya, adalah yang mendahulukan petunjuk-Nya, ketimbang bujukan mantan penghuni surga yakni syaithon namanya.

Bukanlah cinta, bila seorang insan mencumbu yang bukan mahramnya. Bukanlah sayang bila insan memadu kasih sebelum halal menggenapinya. Karena cinta yang sebenernya, akan lebih dulu mengikuti panduan Yang Maha Memiliki Cinta.

Maka berbahagialah. Bila insan